Header Ads Widget

Darussalam Catering

Membaca Ulang IKPM Kairo


                                                      Oleh: Ilmi Hatta Dhiya’ulhaq

Untuk teman-teman di IKPM Kairo ...

Ketika tiba di pertigaan Swissry B, ‘imarah 56, syaqqah 5, tangan membuka pintu, kaki melangkah masuk, lalu mata memindai setiap sisi dinding rumah IKPM Kairo, kenangan apa yang terlintas di benak? Apakah kenangan baik, apakah kenangan buruk, atau abu-abu percampuran antara keduanya? Apakah kenangan bergurau dan bermain dengan teman sepondok, kenangan kumpul panitia acara besar, kenangan persidangan yang memusingkan, kenangan belajar dan mengaji, atau kenangan apa? Ingatan apa yang membekas pada hati dan pikiran saat disebut nama IKPM Kairo? Kecewa dan sesak, bangga dan damai, bingung atau apa? Sejauh apa IKPM Kairo memberi dampak pada para anggotanya sebagai bagian dari kehidupan mereka di Mesir?

IKPM Kairo yang apa adanya hari ini bukanlah perjalanan singkat dari sudut pandang satu orang mahasiswa license yang datang dan pergi setelah menjalani studi empat tahun saja. Ia adalah perjalanan kolektif sekian dekade dari alumni Gontor serta pondok alumninya yang datang silih berganti. Sejak baru mendarat hingga lulus di Mesir, para anggota atau warga selalu dilibatkan oleh pelbagai program yang diinisiasi oleh pengurus IKPM Kairo di setiap periodenya. Pola dari program-program itu dapat dilihat di Laporan Umum Dewan Pengurus, di poster yang tersebar di status, atau yang dapat disaksikan langsung di depan mata. Layaknya hasil kinerja organisasi mahasiswa lainnya, sebagian program berdampak, dan sebagian besar lainnya mungkin masih perlu dipertanyakan kebermanfaatannya.

Dewan Pengurus di setiap masanya telah bekerja keras saat mengabdi di PCI, tapi apakah setelah semua itu, IKPM Kairo jadi maju? Atau sebelum berdebat tentang maju atau tidaknya IKPM Kairo, kita rupanya masih belum selesai dalam perdebatan ke arah mana semestinya IKPM Kairo melangkah maju? Adakah di internal IKPM Kairo masalah yang sama berulang setiap tahun? Adakah anggota IKPM Kairo terjebak dalam lingkaran setan debat kusir yang kurang produktif di setiap periode? Jika iya, tidakkah masalah yang perlu diselesaikan bukan hanya di kinerja pengurus? Namun, masalah barangkali ada di pemahaman tentang IKPM Kairo itu sendiri. Apakah selama ini arah IKPM Kairo ditentukan setelah membaca dan memahami IKPM Kairo secara komprehensif, atau ditentukan hanya dari asumsi terbatas dan terkaan yang relatif saja?

Nyatanya, kebingungan itu tidak hanya terjadi di level anggota, tapi juga pada tingkat pengurus. Kebingungan kolektif ini seakan mengendap beberapa tahun ke belakang, dan menimbulkan impresi yang kurang baik. Kegamangan ini bukan suatu hal yang janggal jika dimaklumi bahwa jati diri IKPM Kairo saja dipahami dalam tafsiran yang berbeda-beda. Oleh karenanya, sebelum menentukan arah ke depan, IKPM Kairo perlu melihat ke belakang demi menemukan kembali baris-baris pemahaman tentang dirinya sendiri dalam lanskap pembacaan yang lebih utuh. Dari hulu yang manakah armadanya bermula dan ke arah hilir yang manakah seharusnya ia bermuara? Tulisan ini tidak mendikte ke arah mana IKPM harus bertolak, tapi tulisan ini berusaha menghadirkan catatan tentang dari mana IKPM Kairo itu dan siapa sebenarnya ia? Setelah momentum pergantian pada Musycabis 42 kemarin, sebelum memasuki tahun ke-50 sejak peresmiannya, sebelum kembali menciptakan gerakan, mendebat berbagai gagasan, dan maju ke depan lagi, mari luangkan waktu sejenak untuk membaca ulang IKPM Kairo.

Keistimewaan IKPM Kairo

Alih-alih membaca perkembangannya secara kronologis, IKPM Kairo dapat dikenal lebih baik dengan merefleksi pada ciri khas atau keistimewaannya. “Pimpinan Cabang Istimewa” adalah nomenklatur yang diresmikan pada Mubes PP IKPM 2024 untuk cabang-cabang di luar negeri (Sebutan formal sebelumnya adalah IKPM Gontor Cabang Kairo). IKPM Kairo menjadi istimewa tidak hanya karena sematan kata di namanya saja, tapi karena ia berbeda dengan cabang lainnya setidaknya dalam tiga hal: 1) Status kemahasiswaan mayoritas anggotanya, 2) Kuantitas yang besar, dan 3) Keberadaannya sebagai buah dari perjalanan sejarah dan resonansi jiwa Gontor, Al-Azhar dan Mesir.

IKPM Kairo tidak sama dengan sebagian besar cabang IKPM di Indonesia, karena mayoritas anggotanya adalah mahasiswa. Bagi cabang IKPM di Indonesia yang anggotanya terdiri dari berbagai lapisan umur dan dari bermacam profesi, aktivitas banyak terjadi dalam hal sosial dan dukungan pendidikan secara umum dan di pesantren secara khusus. Sebagai cabang di luar negeri, dengan mayoritas anggotanya mahasiswa, aktivitas jadi berfokus pada pembinaan adaptasi di negara baru, dukungan akademik, dan kegiatan kemahasiswaan lainnya.

PCI sebagai wadah alumni di luar negeri memang terdapat di berbagai negara, seperti di Turki, Yaman, bahkan Britania Raya. Namun, yang membedakan keadaan IKPM Kairo dengan cabang luar negeri lainnya adalah jumlah anggotanya yang begitu besar. Pada catatan perkembangannya, alumni Gontor rata-rata sejumlah sepuluh persen dari keseluruhan mahasiswa Indonesia di Mesir di setiap masanya. Kini ketika mahasiswa Indonesia di Mesir telah melampaui 20.000, jumlah alumni Gontor juga lebih dari 2000. IKPM Kairo memiliki jumlah anggota terbanyak dari seluruh cabang IKPM di luar negeri, sekaligus jumlah anggota almamater terbesar di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir.

Tercapainya jumlah yang besar ini tidak terlepas dari hasil sebuah perjalanan sejarah Gontor sendiri. Trimurti sedari awal berpikir tentang bagaimana pondoknya tidak mati sepeninggal pendirinya. Gontor bercita-cita ingin berumur panjang bahkan abadi sebagaimana Al-Azhar telah berumur ribuan tahun dengan wakafnya. Al-Azhar pun menjadi satu dari empat sintesa Pondok Modern Darussalam Gontor. Dari gagasan itu, Gontor juga terus berusaha menjalin hubungan langsung dengan Al-Azhar dan Mesir.

Saat kedua lembaga ini bertemu, hubungan keduanya segera tumbuh kuat seperti benang yang saling menyambut dan sehelai demi sehelai menjelma kain utuh kesepemahaman. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi; dari dua kali kunjungan Kiai Imam Zarkasyi ke Mesir dan berpuluh kali kunjungan Pimpinan Pondok pasca Trimurti, doa seribu Gontor dari Syekh Mahmud Syaltut saat bertemu Trimurti di Sarangan, lima kali kunjungan dari empat Syekhul Azhar ke Gontor, perutusan Al-Azhar yang mengajar di Gontor pada era Trimurti, serta tamu-tamu Al-Azhar dan Mesir lainnya yang sering berkunjung ke Gontor hingga sekarang, kerja sama penyetaraan ijazah sampai pemberian beasiswa (Catatan lengkapnya termaktub dalam buku Satu Rasa, Satu Asa: Ikhtisar Sejarah Hubungan Gontor, Al-Azhar dan Mesir); perjalanan sejarah ini adalah bukti bahwa jiwa Gontor dan Al-Azhar beresonansi dalam tekad pengabdian yang sama untuk keilmuan dan pendidikan.

Resonansi tersebut menjadikan Al-Azhar, meski jauh, terasa dekat bagi setiap santri Gontor, meski tidak semuanya melanjutkan studi ke sana. Kedekatan dan kerja sama yang ada juga menjadikan Al-Azhar menjadi universitas impian sebagian besar alumni Gontor, yang kemudian ketika berkumpul di Mesir tergabung dalam IKPM Kairo. Tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa IKPM Kairo adalah buah dari perjalanan sejarah dan anak dari resonansi jiwa Gontor, Al-Azhar dan Mesir. Berkembangnya IKPM Kairo sejauh ini, khususnya secara kuantitas, juga merupakan hasil dari juhud kiai dan masyayikh Gontor dalam merawat dan memperkuat hubungan dengan Al-Azhar yang disambut baik oleh Imam Akbar beserta jajarannya.

Dari pembacaan di atas, tiga keistimewaan tadi berkonsekuensi pada tanggung jawab yang lebih besar dan tuntutan cara bersikap yang lebih bijak bagi PCI. Cara bersikap dalam memimpin mahasiswa tidak sama dengan memimpin yang bukan mahasiswa. Cara bersikap dalam memimpin dua ribu orang, tidak sama dengan seribu, apalagi ratusan. Cara untuk bertanggung jawab pada jatuh-bangun perjalanan sejarah juga perlu pemaknaan yang lebih dalam.

Untuk bersikap dengan baik, perlu dimengerti bahwa IKPM Kairo adalah lingkungan baru yang khas yang tidak hanya membawa nilai Gontor saja, tapi juga terbentuk dari asimilasi nilai-nilai keazharan dan kemahasiswaan. Di sudut pandang cabang IKPM lainnya, IKPM Kairo istimewa karena kemahasiswaan dan ke-Mesir-annya, dan di sudut pandang perkumpulan mahasiswa Indonesia di Mesir lainnya, IKPM Kairo istimewa karena identitas Gontornya.

IKPM Kairo kini tengah bertransformasi dari sistem untuk seribuan orang menuju dua ribuan. Keputusan yang tidak akurat saat anggota ratusan berbeda efeknya dengan salah sikap saat anggota berjumlah ribuan. Kuantitas anggota yang begitu besar, dengan jumlah dan masa bakti pengurus yang singkat, meniscayakan PCI untuk bekerja dengan cara yang modern yang lebih efektif dan efisien, bukan hanya kerja keras tapi juga kerja cerdas.

Supaya memiliki kepastian kebijakan dan catatan pengalaman kolektif yang konsisten dan tetap relevan dalam menjawab persoalan setiap masanya, sistem IKPM Kairo juga perlu berwujud kesepakatan bersama yang tersusun melalui reasoning lengkap dan tertulis secara rapi, bukan hanya berupa ra’yun ghanam atau pendapat subjektif yang beredar lewat lisan dan tercatat apa adanya saja. Menjadi bagian dari IKPM Kairo adalah tentang membawa kepercayaan dari para Kiai dan pendahulu yang berjasa lainnya, serta tentang bertanggung jawab untuk orang-orang yang akan datang. Perjalanan sejarah yang melahirkan IKPM Kairo dan menuntunnya sampai di keadaannya kiwari ini perlu dimaknai sebagai amanat.

Amanat Keilmuan: antara Kunci dan Pintunya

 “Tugas IKPM Kairo ini sangat mulia, di samping belajar juga mengurus anggota, dan anggota sekarang banyak, tidak sedikit seperti sebelumnya. Keorganisasian penting, tapi keilmuan lebih penting lagi. Belajar keilmuan iya, dan belajar keorganisasian juga iya,” ucap Kiai Amal Fathullah Zarkasyi di acara Silaturahmi Akbar dan Pelantikan Pengurus pada 24 Oktober 2023 saat berkunjung ke Mesir bersama Kiai Hasan Abdullah Sahal. Kiai Amal Fathullah juga menyampaikan sebuah pesan untuk warga IKPM Kairo secara umum supaya meningkatkan literasi, “Banyak membaca, banyaklah menulis,”  dan menambahkan, “Bersyukur bahwa Mesir ini ka’batul qussod li thulabil ilmi (pusat untuk penuntu ilmu), maka manfaatkanlah kesempatan kalian untuk belajar dengan sebaik-baiknya.” Nasehat ini menegaskan keistimewaan IKPM Kairo dan menjelaskan tentang apa yang seharusnya menjadi prioritasnya.

Gontor dengan kurikulum pendidikan dua puluh empat jam, membekali santri-santrinya dengan berbagai kunci. Gontor dengan jiwa kelimanya, memberi kebebasan kepada lulusannya untuk memilih pintu jihadnya masing-masing. Ada yang menggunakan kuncinya untuk membuka pintu bidang bisnis, ada yang membuka pintu ranah politik, ada yang membuka pintu belantika seni, ada yang kembali ke dunia pendidikan. Di antaranya juga ada yang memilih pintu akademis untuk mempelajari ilmu agama lebih dalam, salah satunya ke Al-Azhar. Orang-orang itulah yang terkumpul di IKPM Kairo.

Secara filosofis, IKPM Kairo yang ada di antara alumni dengan kunci-kuncinya dan Al-Azhar sebagai pintu dengan khazanah keilmuan di baliknya, punya peran untuk mengantarkan kunci kepada pintunya. Pemaknaan ini mengenalkan kita bahwa kepentingan utama IKPM Kairo adalah ilmu pengetahuan. IKPM Kairo perlu digerakkan oleh sistem yang berlandaskan dan berorientasi pada ilmu pengetahuan—khususnya di Al-Azhar secara jami’ ataupun jami’ah.

Dengan pembacaan ini, dalam mengambil keputusan dan menentukan haluan, PCI dapat memilah mana yang tidak penting dan mana yang penting, serta mana yang penting dan yang lebih penting. Jika memang demikianlah IKPM Kairo yang kita kenal dan kita harapkan, maka keberadaanya juga menjadi jawaban untuk mencapai salah satu tujuan IKPM Gontor, yang terskripta di Anggaran Dasar IKPM Gontor, Pasal 6, Ayat 2: “Menyempurnakan budi pekerti dan kecerdasan para anggota dalam rangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.”

Istinbath

Walakhir, inilah dia IKPM Kairo kita dengan segala keistimewaan dan tanggung jawab yang mengikutinya. Pembacaan ulang tentangnya mengajak kita untuk mengenal bahwa IKPM Kairo bukan hanya tongkrongan nirmakna yang bisa berjalan ke arah mana saja seadanya dan seenaknya. Jika pembacaan ini benar-benar dihidupkan sebagai obrolan di lisan anggotanya, sebagai landasan di pikiran pengurusnya, insyaallah mendung tidak lagi menutupi rasi bintang yang menunjukkan arah untuk pelayaran kita.

Setelah membaca ulang, kita jadi cukup berani untuk membayangkan bahwa kelak kenangan para anggota tentang tentang IKPM Kairo sendiri bukan hanya kenangan abu-abu apalagi hitam. IKPM Kairo di masa depan bukan lagi tempat memeras emosi dan keringat nirfaedah, tempat bertukar gunjingan, tempat mendapat teman bermain game saja, apalagi tempat pacaran.

Besok, setelah membacanya, kita dapat menulis ulang IKPM Kairo sebagai tempat yang nyaman untuk mengembangkan diri, berdiskusi, mengaji, dan belajar, dari diktat-diktat kampus, kitab-kitab klasik, hingga segala macam ilmu jadi perbincangan lumrah di IKPM Kairo. IKPM Kairo juga akan menjelma rumah yang berharga untuk mengabdi demi membantu sesama dalam menuntut ilmu setidaknya hingga menuntaskan studi di universitas. Bermula dari membaca ulang IKPM Kairo bersama-sama lewat tulisan ini, lingkungan yang semula hanya bayangan itu semoga kelak dapat terwujud jadi kenyataan.

(Tulisan pertama dari trilogi opini reorientasi IKPM Kairo)

Krandegan, Banjarnegara,

17 Agustus 2026.


Editor: Nidaul Khasanah, Athallah Zaki


Posting Komentar

1 Komentar