Kairo, dengan ratusan menara azan yang tertutupi debu-debu kronik
kedaulatan Islam yang beragam selama ribuan tahun, melukiskan sejarah yang
dapat dilihat dari masjid-masjid klasik di jantung kota. Kota ini telah
menyimpan jejak tradisi ilmu Islam untuk membangun peradabannya sendiri.
Ditambah lagi, di sinilah Al-Azhar berdiri sebagai mercusuar keilmuan yang
telah menjadi magnet para penuntut ilmu di seluruh penjuru bumi. Namun sebelum
semua itu layak diromantisasi, ada fenomena yang perlu digali.
Di tengah gemerlap status sebagai "mahasiswa Al-Azhar", tumbuh
gejala penurunan kematangan ilmu dan konsistensi minat belajar bagi Mahasiswa
Indonesia Mesir (Masisir). Kini, Masisir berdiri di sebuah persimpangan empat
arah: niat awal, amanat akademik, gangguan pragmatisme zaman, dan realita
dewasa yang harus dikejar.
Fatamorgana di Tengah
Sahara Keilmuan
Fenomena yang penulis lihat hari ini adalah refleksi atas retaknya niat.
Tidak sedikit Masisir yang berpacaran — sebuah praktik negatif yang sudah
dianggap wajar di kalangan remaja sebagai langkah menuju pernikahan — meski
jelas tidak bisa dibenarkan. Ironisnya, sebagian memilih menikah atas dasar
menghindari zina semata. Padahal jika konteksnya adalah belajar, kualitas
akademik harus lebih diperhatikan.
Selain itu, beberapa masisir juga ada yang memiliki profesi menjanjikan seperti
muthawif. Penulis tidak sedang menggeneralisasi kritik terhadap para khadimul haramain
(pengabdi dua tanah suci). Profesi ini tak jarang berubah menjadi fatamorgana
yang menyandera fokus belajar, menunda kelulusan, bahkan menyela prioritas dari
menimba ilmu menjadi mengejar lembaran riyal. Fenomena ini diperparah lagi oleh
kecenderungan sebagian Masisir yang datang ke Kairo, namun justru menceburkan
diri dalam aktivitas niaga masif, sementara ruang belajar dianaktirikan.
Padahal, di balik koper yang mereka seret saat menatap gerbang Bandara
Soekarno-Hatta, tersimpan kepercayaan besar orang tua yang melepas putra-putrinya
dengan air mata, doa, dan harapan agar kelak kembali membawa ilmu agama, bukan
sekadar harta. Para pemburu uang berpotensi saling senggol dan bersaing, bahkan
berdampak buruk pada moral dan kejujuran. Lihatlah bagaimana grup Facebook
"Pasar Mesir Original", yang semula dirancang sebagai ladang jual
beli yang sehat, kini kerap menjadi ruang saling hantam, saling tuduh, hingga
menyudutkan satu sama lain. Ruang digital yang seharusnya mencerminkan akhlak
seorang Azhari itu justru menjadi rekam jejak abadi merosotnya adab bersosial.
Data pun berbicara jujur: nilai ujian Masisir menunjukkan penurunan pada
tahun 2024–2025, sebagaimana disampaikan dalam pertemuan para pemangku
kepentingan Lembaga Al-Azhar. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan
alarm yang menggugah kesadaran kolektif. Sebab, pada akhirnya kita harus
mempertanyakan pada nurani, "Ke Al-Azhar, apa yang kucari?" Jika
hanya berpindah tempat bermain game, menjadi influencer, ataupun pekerja
serabutan tanpa target belajar, semua itu bisa dilakukan tanpa harus ke Mesir.
Faktanya, tidak semua Masisir harus menjadi ulama, tetapi selama masih
berkesempatan menimba ilmu langsung dari pusatnya, ambillah apa yang tidak bisa
didapatkan di negeri sendiri.
Ruang-Ruang Manhaj
Selain itu, ada gejala lain yang berpotensi mengganggu suasana
pendidikan selama di Mesir. Salah satu gejala tersebut adalah penguasaan ilmu
yang setengah-setengah, mulai dari tidak mengetahui manhaj (kurikulum) yang
benar, kurangnya kecakapan berbahasa, hingga lingkungan yang tidak mendukung.
Akibatnya, mereka hanya berjalan di tempat. Namun, bersamaan dengan itu, hadir
solusi konkret berupa uluran tangan para mahasiswa senior untuk membangun
lingkungan akademik seperti rumah-rumah binaan yang telah banyak melahirkan
Masisir kompeten dalam penguasaan ilmu secara holistik.
Sebagai contoh, Rumah Syari'ah, Rumah Hiwar, Manhaj Ilmu, Maqura, Bayt
Imam Ghazali, dan Kawakibul Fushaha' telah berperan menjadi anak tangga yang
membantu Masisir memanjat pohon ilmu secara berjenjang sesuai manhaj Al-Azhar.
Masisir yang baru tiba di Kairo dan masih meraba-raba peta akademiknya sangat
disarankan bergabung bersama rumah-rumah tersebut.
Kompetensi sebelum berkiprah
Masisir ideal di era ini bukanlah mereka yang sekadar tuntas manhaj
keilmuannya, melainkan juga cakap dan kritis membaca fenomena zaman, serta
mampu menuangkannya dalam karya tulis yang dapat dipublikasikan. Menurut
penulis, terdapat lima pilar Masisir ideal masa kini: membaca, mengaji,
mengajar, diskusi, dan menulis. perkara ceramah, itu mudah dilakukan namun
sulit dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, tulisan sulit dilahirkan namun mudah
dipertanggungjawabkan karena tercatat, terverifikasi, dan dapat ditelusuri
basis argumennya.
Untuk mengasah dua pilar lainnya — diskusi dan menulis — forum-forum
kajian seperti Pakeis, Fan Maqal, Ar-Razi, Al-Mizan, dan Bedug menjadi wadah
strategis yang mewajibkan penulisan makalah atau esai. Tanpa pilar yang kokoh,
kita hanya akan menjadi motivator dengan otak kosong; tetapi jika kita memiliki
kapabilitas mumpuni, maka dapat dipastikan kita dapat menjaga nama Al-Azhar itu
sendiri. Bayangkan jika popularitas datang lebih dulu daripada kesiapan ilmu —
maka nama baik sebagai Azhari bisa lenyap seketika.
Turats sebagai Mentahan
Abadi Peradaban Bangsa
Bagi Masisir, bayangan tentang akan dikemanakan ilmu dari kitab-kitab
turats yang saat ini dipelajari, masih berkutat pada ruang-ruang kelas. Mereka berpikir hanya akan kembali menjadi guru mengaji bagi anak-anak
maupun ustadz di pesantren. Pikiran itu tidak salah, karena memang lumrah
seseorang yang banyak meneguk warisan ilmu guru pasti ingin mewariskannya pula
kepada generasi setelahnya. Namun, ada hal yang lebih luas skalanya sehingga
efeknya tidak hanya dirasakan satu lembaga, melainkan seluruh penjuru negeri.
Al-Azhar Asy-Syarif telah menjaga warisan keilmuan Islam klasik yang
teruji lintas zaman. Tugas kita adalah tidak memperlakukan turats sebagai
artefak masa lalu yang hanya pantas dikaji di atas meja pengajaran, melainkan
sebagai fondasi hidup untuk menyongsong tantangan kekinian. Ilmu Islam perlu
dilebarkan sayapnya, menjangkau bukan hanya kalangan yang telah akrab dengan
dunia keislaman, tetapi juga mereka yang minim akses ilmu serta kepada para pemangku
kebijakan negara. Sebab, dakwah keilmuan sejati tidak berhenti pada ruang
kajian eksklusif, melainkan harus menjangkau berbagai ranah kehidupan, serta
mampu menembus batas-batas sosial yang selama ini memisahkan.
Klaim bahwa ilmu agama mampu menjadi jawaban atas persoalan umat dan
bangsa bukanlah narasi kosong, melainkan proposisi yang dapat dibuktikan secara
empiris dan historis. Ilmu, pada hakikatnya, tidak selalu tampil dalam wujud
kasatmata. Ilmu teologi dan moral, misalnya, seringkali bekerja secara senyap.
Namun, dampaknya baru benar-benar terasa ketika tragedi menghampiri. Sebuah
bangsa dapat makmur karena roda ekonominya berputar maju, namun kemakmuran itu
seketika runtuh manakala korupsi merasuk ke sistem pemerintahan. Rakyat pun
kelaparan di tengah kekayaan negerinya sendiri. Pertanyaan mendasarnya, mengapa
korupsi bisa terjadi? Jawabannya kerap kali bukan soal kurangnya kompetensi
pejabat, melainkan kurangnya kesadaran moral diri. Di titik inilah Islam telah
lama menanamkan ajaran tentang sikap jujur dan adil dalam memimpin. Contoh
kecil ini menjadi bukti bahwa turats merupakan bahan mentah yang tidak akan
pernah habis untuk diolah menjadi jawaban persoalan umat.
Refleksi: Kontribusi
Ulama dalam Membangun Negeri
Dari sisi historis, para ulama tidak pernah memisahkan diri dari denyut
nadi persoalan umat dan negara. Kita ambil contoh Imam Abu Hanifah, yang
menurut riwayat turut berperan sebagai
konsultan hukum fikih dalam pembangunan kota Baghdad, mengawal syarat-syarat
urbanisasi agar sesuai syariat. Begitu pula sang murid, Abu Yusuf Yaqub bin
Ibrahim, yang menulis kitab Al-Kharraj bukan sekadar sebagai buku ajar
belaka, melainkan sebagai acuan bagi Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam mengelola
ekonomi dan keuangan negara. Kitab ini menjadi bukti bahwa fikih dapat
menggandeng kebijakan publik.
Jauh di masa setelahnya, Imam Al-Maqrizi — seorang ulama sekaligus
sejarawan — menulis kitab Ighatsatul Ummah fi Kasyfil Ghummah sebagai
kritik tajam sekaligus arahan konstruktif kepada Sultan Mamluk Burjiyah,
al-Nashir Faraj bin Barquq, di tengah krisis pangan yang melanda Mesir. Karya
ini menjadi bukti bahwa kepekaan seorang intelektual muslim terhadap
penderitaan rakyat dapat dituangkan dalam karya tulis yang argumentatif, bukan
sekadar keluhan lisan yang menguap tanpa jejak dan solusi.
Tiga sosok di atas bukan hanya catatan sejarah yang layak dikenang,
melainkan model nyata yang patut dijadikan cermin oleh Masisir hari ini. Mereka
membuktikan bahwa dengan ilmu agama dan penguasaan disiplin ilmu yang kokoh,
seseorang mampu berkiprah jauh melampaui ruang kelas — menjadi arsitek
kebijakan ekonomi, penggerak pembangunan kota, sekaligus "jenderal
kavaleri" bersenjata pena. Semua ini menegaskan satu prinsip: ilmu agama
bukanlah disiplin yang terasing dari urusan politik kenegaraan, melainkan bahan
baku yang bila diolah dengan jiwa bersih akan sanggup melahirkan solusi bagi
persoalan bangsa mana pun, termasuk Indonesia saat ini.
Masisir hari ini adalah ulama-ulama masa depan — terlepas apa pun
profesinya kelak — yang bukan hanya piawai membaca kitab kuning, tetapi juga
membaca permasalahan negara secara progresif, serta mampu menerjemahkan turats ke
dalam bahasa kedaulatan yang kelak mengantarkan Indonesia menuju bangsa yang
berdaulat, adil, dan makmur.
Editor: Athallah Zaki

0 Komentar