Header Ads Widget

Darussalam Catering

Masisir 2.0: Phenomenal Breakdown and Turath as a Solution for Nation

 

 Oleh: Fajar Ilman Nafi, Lc.

              Kairo, dengan ratusan menara azan yang tertutupi debu-debu kronik kedaulatan Islam yang beragam selama ribuan tahun, melukiskan sejarah yang dapat dilihat dari masjid-masjid klasik di jantung kota. Kota ini telah menyimpan jejak tradisi ilmu Islam untuk membangun peradabannya sendiri. Ditambah lagi, di sinilah Al-Azhar berdiri sebagai mercusuar keilmuan yang telah menjadi magnet para penuntut ilmu di seluruh penjuru bumi. Namun sebelum semua itu layak diromantisasi, ada fenomena yang perlu digali.

Di tengah gemerlap status sebagai "mahasiswa Al-Azhar", tumbuh gejala penurunan kematangan ilmu dan konsistensi minat belajar bagi Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Kini, Masisir berdiri di sebuah persimpangan empat arah: niat awal, amanat akademik, gangguan pragmatisme zaman, dan realita dewasa yang harus dikejar.

Fatamorgana di Tengah Sahara Keilmuan

Fenomena yang penulis lihat hari ini adalah refleksi atas retaknya niat. Tidak sedikit Masisir yang berpacaran — sebuah praktik negatif yang sudah dianggap wajar di kalangan remaja sebagai langkah menuju pernikahan — meski jelas tidak bisa dibenarkan. Ironisnya, sebagian memilih menikah atas dasar menghindari zina semata. Padahal jika konteksnya adalah belajar, kualitas akademik harus lebih diperhatikan.

Selain itu, beberapa masisir juga ada yang memiliki profesi menjanjikan seperti muthawif. Penulis tidak sedang menggeneralisasi kritik terhadap para khadimul haramain (pengabdi dua tanah suci). Profesi ini tak jarang berubah menjadi fatamorgana yang menyandera fokus belajar, menunda kelulusan, bahkan menyela prioritas dari menimba ilmu menjadi mengejar lembaran riyal. Fenomena ini diperparah lagi oleh kecenderungan sebagian Masisir yang datang ke Kairo, namun justru menceburkan diri dalam aktivitas niaga masif, sementara ruang belajar dianaktirikan. Padahal, di balik koper yang mereka seret saat menatap gerbang Bandara Soekarno-Hatta, tersimpan kepercayaan besar orang tua yang melepas putra-putrinya dengan air mata, doa, dan harapan agar kelak kembali membawa ilmu agama, bukan sekadar harta. Para pemburu uang berpotensi saling senggol dan bersaing, bahkan berdampak buruk pada moral dan kejujuran. Lihatlah bagaimana grup Facebook "Pasar Mesir Original", yang semula dirancang sebagai ladang jual beli yang sehat, kini kerap menjadi ruang saling hantam, saling tuduh, hingga menyudutkan satu sama lain. Ruang digital yang seharusnya mencerminkan akhlak seorang Azhari itu justru menjadi rekam jejak abadi merosotnya adab bersosial.

Data pun berbicara jujur: nilai ujian Masisir menunjukkan penurunan pada tahun 2024–2025, sebagaimana disampaikan dalam pertemuan para pemangku kepentingan Lembaga Al-Azhar. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm yang menggugah kesadaran kolektif. Sebab, pada akhirnya kita harus mempertanyakan pada nurani, "Ke Al-Azhar, apa yang kucari?" Jika hanya berpindah tempat bermain game, menjadi influencer, ataupun pekerja serabutan tanpa target belajar, semua itu bisa dilakukan tanpa harus ke Mesir. Faktanya, tidak semua Masisir harus menjadi ulama, tetapi selama masih berkesempatan menimba ilmu langsung dari pusatnya, ambillah apa yang tidak bisa didapatkan di negeri sendiri.

Ruang-Ruang Manhaj

Selain itu, ada gejala lain yang berpotensi mengganggu suasana pendidikan selama di Mesir. Salah satu gejala tersebut adalah penguasaan ilmu yang setengah-setengah, mulai dari tidak mengetahui manhaj (kurikulum) yang benar, kurangnya kecakapan berbahasa, hingga lingkungan yang tidak mendukung. Akibatnya, mereka hanya berjalan di tempat. Namun, bersamaan dengan itu, hadir solusi konkret berupa uluran tangan para mahasiswa senior untuk membangun lingkungan akademik seperti rumah-rumah binaan yang telah banyak melahirkan Masisir kompeten dalam penguasaan ilmu secara holistik.

Sebagai contoh, Rumah Syari'ah, Rumah Hiwar, Manhaj Ilmu, Maqura, Bayt Imam Ghazali, dan Kawakibul Fushaha' telah berperan menjadi anak tangga yang membantu Masisir memanjat pohon ilmu secara berjenjang sesuai manhaj Al-Azhar. Masisir yang baru tiba di Kairo dan masih meraba-raba peta akademiknya sangat disarankan bergabung bersama rumah-rumah tersebut.

Kompetensi sebelum berkiprah

Masisir ideal di era ini bukanlah mereka yang sekadar tuntas manhaj keilmuannya, melainkan juga cakap dan kritis membaca fenomena zaman, serta mampu menuangkannya dalam karya tulis yang dapat dipublikasikan. Menurut penulis, terdapat lima pilar Masisir ideal masa kini: membaca, mengaji, mengajar, diskusi, dan menulis. perkara ceramah, itu mudah dilakukan namun sulit dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, tulisan sulit dilahirkan namun mudah dipertanggungjawabkan karena tercatat, terverifikasi, dan dapat ditelusuri basis argumennya.

Untuk mengasah dua pilar lainnya — diskusi dan menulis — forum-forum kajian seperti Pakeis, Fan Maqal, Ar-Razi, Al-Mizan, dan Bedug menjadi wadah strategis yang mewajibkan penulisan makalah atau esai. Tanpa pilar yang kokoh, kita hanya akan menjadi motivator dengan otak kosong; tetapi jika kita memiliki kapabilitas mumpuni, maka dapat dipastikan kita dapat menjaga nama Al-Azhar itu sendiri. Bayangkan jika popularitas datang lebih dulu daripada kesiapan ilmu — maka nama baik sebagai Azhari bisa lenyap seketika.

Turats sebagai Mentahan Abadi Peradaban Bangsa

Bagi Masisir, bayangan tentang akan dikemanakan ilmu dari kitab-kitab turats yang saat ini dipelajari, masih berkutat pada ruang-ruang kelas. Mereka berpikir hanya akan kembali menjadi guru mengaji bagi anak-anak maupun ustadz di pesantren. Pikiran itu tidak salah, karena memang lumrah seseorang yang banyak meneguk warisan ilmu guru pasti ingin mewariskannya pula kepada generasi setelahnya. Namun, ada hal yang lebih luas skalanya sehingga efeknya tidak hanya dirasakan satu lembaga, melainkan seluruh penjuru negeri.

Al-Azhar Asy-Syarif telah menjaga warisan keilmuan Islam klasik yang teruji lintas zaman. Tugas kita adalah tidak memperlakukan turats sebagai artefak masa lalu yang hanya pantas dikaji di atas meja pengajaran, melainkan sebagai fondasi hidup untuk menyongsong tantangan kekinian. Ilmu Islam perlu dilebarkan sayapnya, menjangkau bukan hanya kalangan yang telah akrab dengan dunia keislaman, tetapi juga mereka yang minim akses ilmu serta kepada para pemangku kebijakan negara. Sebab, dakwah keilmuan sejati tidak berhenti pada ruang kajian eksklusif, melainkan harus menjangkau berbagai ranah kehidupan, serta mampu menembus batas-batas sosial yang selama ini memisahkan.

Klaim bahwa ilmu agama mampu menjadi jawaban atas persoalan umat dan bangsa bukanlah narasi kosong, melainkan proposisi yang dapat dibuktikan secara empiris dan historis. Ilmu, pada hakikatnya, tidak selalu tampil dalam wujud kasatmata. Ilmu teologi dan moral, misalnya, seringkali bekerja secara senyap. Namun, dampaknya baru benar-benar terasa ketika tragedi menghampiri. Sebuah bangsa dapat makmur karena roda ekonominya berputar maju, namun kemakmuran itu seketika runtuh manakala korupsi merasuk ke sistem pemerintahan. Rakyat pun kelaparan di tengah kekayaan negerinya sendiri. Pertanyaan mendasarnya, mengapa korupsi bisa terjadi? Jawabannya kerap kali bukan soal kurangnya kompetensi pejabat, melainkan kurangnya kesadaran moral diri. Di titik inilah Islam telah lama menanamkan ajaran tentang sikap jujur dan adil dalam memimpin. Contoh kecil ini menjadi bukti bahwa turats merupakan bahan mentah yang tidak akan pernah habis untuk diolah menjadi jawaban persoalan umat.

Refleksi: Kontribusi Ulama dalam Membangun Negeri

Dari sisi historis, para ulama tidak pernah memisahkan diri dari denyut nadi persoalan umat dan negara. Kita ambil contoh Imam Abu Hanifah, yang menurut  riwayat turut berperan sebagai konsultan hukum fikih dalam pembangunan kota Baghdad, mengawal syarat-syarat urbanisasi agar sesuai syariat. Begitu pula sang murid, Abu Yusuf Yaqub bin Ibrahim, yang menulis kitab Al-Kharraj bukan sekadar sebagai buku ajar belaka, melainkan sebagai acuan bagi Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam mengelola ekonomi dan keuangan negara. Kitab ini menjadi bukti bahwa fikih dapat menggandeng kebijakan publik.

Jauh di masa setelahnya, Imam Al-Maqrizi — seorang ulama sekaligus sejarawan — menulis kitab Ighatsatul Ummah fi Kasyfil Ghummah sebagai kritik tajam sekaligus arahan konstruktif kepada Sultan Mamluk Burjiyah, al-Nashir Faraj bin Barquq, di tengah krisis pangan yang melanda Mesir. Karya ini menjadi bukti bahwa kepekaan seorang intelektual muslim terhadap penderitaan rakyat dapat dituangkan dalam karya tulis yang argumentatif, bukan sekadar keluhan lisan yang menguap tanpa jejak dan solusi.

Tiga sosok di atas bukan hanya catatan sejarah yang layak dikenang, melainkan model nyata yang patut dijadikan cermin oleh Masisir hari ini. Mereka membuktikan bahwa dengan ilmu agama dan penguasaan disiplin ilmu yang kokoh, seseorang mampu berkiprah jauh melampaui ruang kelas — menjadi arsitek kebijakan ekonomi, penggerak pembangunan kota, sekaligus "jenderal kavaleri" bersenjata pena. Semua ini menegaskan satu prinsip: ilmu agama bukanlah disiplin yang terasing dari urusan politik kenegaraan, melainkan bahan baku yang bila diolah dengan jiwa bersih akan sanggup melahirkan solusi bagi persoalan bangsa mana pun, termasuk Indonesia saat ini.

Masisir hari ini adalah ulama-ulama masa depan — terlepas apa pun profesinya kelak — yang bukan hanya piawai membaca kitab kuning, tetapi juga membaca permasalahan negara secara progresif, serta mampu menerjemahkan turats ke dalam bahasa kedaulatan yang kelak mengantarkan Indonesia menuju bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

Editor: Athallah Zaki

 

 

Posting Komentar

0 Komentar