Suasana
pagi itu tenang. Gemericik air terdengar dari sela bebatuan kecil, wangi bunga
liar menyelinap bersama angin lembut yang mengembun di atas rerumputan basah.
Cahaya matahari baru menanjak, menebarkan kehangatan samar yang membangkitkan
memori lama, memori yang kukira sudah lama terkubur.
Anton
duduk di depanku. Wajah sahabat lamaku itu tak banyak berubah, hanya sedikit
lebih dewasa dan lelah. Tapi tatapannya tetap sehangat dulu, sehangat sejak
kami pertama bertemu di kompi militer darurat yang didirikan negara setelah
perang meletus.
"Akhirnya
kita bertemu lagi, ya?" ia berkata seperti itu sembari menyunggikan
senyuman tipisnya.
Aku
membalas dengan senyum yang kupaksakan. "Ya... akhirnya."
Aku
bergerak hendak meraih cangkir di meja. Refleks itu tersentak oleh kenyataan
pahit: lengan kananku sudah tak ada lagi, terpotong sebatas siku sejak
pertempuran di garis depan, menyisakan lengan baju yang melambai kosong. Kami
duduk berhadapan di meja kayu sederhana, seolah berada di sebuah kafe kecil.
Potret lukisan menghiasi dinding kafe dan aroma kopi mengepul di udara, membuat
suasana yang membuat siapapun nyaman berada di sana.
"Apakah
kau bahagia dengan hidupmu?" tanya Anton tiba-tiba, menatapku dalam.
Aku
terdiam, memandangi cangkir kosong di depanku, lalu menghela napas panjang.
"Bahagia
..." Aku tertawa kecil, salah satu sudut bibirku tertarik. "Aku
sendiri sudah lupa rasanya."
Anton
menunggu jawabanku, ia tahu aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Perlahan aku mulai bercerita, mencoba menjawab pertanyaannya tadi dengan
membuka memori lama yang sudah kuasingkan.
***
Kala itu
dunia di sekitar kami sedang runtuh. Hubungan diplomatik dengan negara tetangga
yang merenggang bertahun-tahun, akhirnya pecah menjadi konflik terbuka di
perbatasan.
Keadaan
makin mencekam. Toko-toko mulai tutup lebih cepat, harga pangan melonjak hingga
menyentuh angka yang tak masuk akal. Rakyat kecil sepertiku terhimpit dari dua
sisi: kelaparan yang menggerogoti dari dalam dan bayang-bayang invasi musuh
dari luar. Ditambah lagi, pada masa-masa tersulit itulah, ayahku pergi.
Ayah
menghilang, waktu usiaku belum genap sepuluh tahun. Ia kabur dari kejaran lintah darat akibat
tabiat buruknya berjudi. Pernah suatu pagi ayah meninggalkan sepucuk kertas
yang ia tinggalkan di atas meja kayu—mengabarkan kepergiannya yang tidak
bertanggung jawab itu. Aku berdiri terpaku di ambang pintu, melihat Ibu
terduduk di sudut dapur, meremas kertas itu sambil terisak. Belum sempat duka
itu reda, terdengar gedoran kasar di pintu depan, diiringi caci maki para
penagih hutang. Ayah tak hanya meninggalkan kami tanpa kepala keluarga.
Ternyata, ia juga mewariskan hutang-hutangnya.
"Pendidikan
itu kompas, Nak. Tanpanya, kamu cuma akan berputar-putar dalam kegelapan,"
ucap Ibu yang masih selalu terngiang setiap kali aku memandangi kereta
melintasi rel stasiun kota kami, membayangkan diriku berdiri gagah memakai
seragam masinis. Tapi impian itu remuk suatu sore, ketika jemari Ibu yang
gemetar menyerahkan kaleng tabungan sekolahku kepada seorang pria berwajah
beringas di teras rumah.
"Maafkan
Ibu, nak ... Ibu terpaksa," bisiknya dengan air mata berlinang di kelopak
mata.
Aku
menelan ludah, menahan sesak yang menusuk dada. "Tidak apa-apa, Bu. Kita
pasti bisa melewati ini," kataku pura-pura kuat, meski kala itu hatiku
hancur.
Karena
keadaan ekonomi yang semakin sulit, aku memutuskan membantu ibu menjadi tukang
semir sepatu keliling. Aku berjongkok di tepi jalan dan berharap ada yang
tertarik dengan jasa yang kutawarkan.
Akhirnya,
sepasang sepatu kulit basah berhenti tepat di depanku. Pemiliknya seorang
bangsawan tua yang tampak angkuh dan arogan. "Hei, bocah, cepat sedikit
kerjamu!" bentaknya, sebelum melemparkan beberapa keping koin ke tanah
becek dan berlalu begitu saja, membiarkanku memunguti keping koin yang ia
lemparkan dengan kasar.
Di saat
yang sama, aku melihat anak-anak seusiaku berlari sambil tertawa, mengejar
layang-layang yang tersangkut di dahan. Aku menatap mereka sesaat, lalu
buru-buru menunduk lagi, melanjutkan pekerjaan kasar ini demi menghidupi
keluargaku.
Sejak
hari-hari penuh keringat itu, aku sadar aku bukan lagi anak-anak yang bisa
bergantung pada orang tuanya. Sejak saat itu juga Ibu mulai bekerja double
shift di pabrik tekstil pinggir kota, sehingga selain ikut membantu Ibu
menafkahi keluarga kami—aku juga harus menjaga adik kecilku sepanjang hari.
"Kak,
ini gosong," rengek adikku suatu hari, mendorong mangkuk bubur hasil
percobaan pertamaku.
"Makan
aja dulu, besok kakak bikinin yang lebih enak, ya?" aku meyakinkan adikku
meski aku sendiri tak yakin bisa memasak lebih baik daripada itu.
Begitulah
hari-hari kami berjalan. Tanpa seorang pria dewasa, hanya ada seorang ibu dan
anak sulungnya yang berjuang menghidupi keluarga. Hingga suatu malam, saat
adikku jatuh sakit, aku duduk di tepi ranjangnya sambil mengganti kompres tiap
beberapa menit, menghitung waktu dari suara jarum jam yang berdetak di ruang
sebelah. "Ibu ... kapan pulang, kak?" tanyanya lirih. Aku hanya
menggenggam tangannya erat-erat, tak tahu harus menjawab apa selain,
"Sebentar lagi, ya. Sebentar lagi."
Aku tak
pernah membenci Ayah secara terang-terangan, karena telah menelantarkan
keluarganya. Tapi pada malam itu, setelah adikku akhirnya tertidur usai rewel
semalaman, aku duduk sendirian di teras memandangi jalan yang lengang. Dalam
hati aku bertanya pada langit malam, kenapa Ayah harus pergi? Kenapa aku harus
menjadi figur ayah bagi adikku sendiri di umur yang masih begitu belia? Sayangnya tak ada yang menjawab. Hanya
terdengar derik jangkrik dan angin malam yang menyelimuti.
Tahun demi
tahun berlalu tanpa terasa. Pada umurku enam belas, seolah takdir masih belum
puas menguji kami. Tibalah satu pagi tanpa pemberitahuan, seorang petugas
rekrutmen militer tiba di rumah kecil kami, pria berseragam dengan wajah datar,
seolah hanya menjalankan tugasnya tanpa peduli apa pun.
"Setiap
keluarga wajib mengirim satu laki-laki dewasa," katanya datar. "Kecuali
ada laki-laki dewasa lain di rumah ini." Ia menatap dingin ke arahku. Waktu
itu pemerintah mengadakan wajib militer bagi seluruh warga sipil untuk terjun
ke medan perang, tidak ada opsi menolak—bahkan menolak kebijakan ini akan
langsung dianggap pengkhianatan bagi negara. Maka saat itu aku sadar betul.
Siap atau tidak, berani atau takut, aku tidak punya pilihan lain. Tidak ada
orang lain. Hanya aku, Ibu, dan adikku yang kini berusia dua belas tahun.
Adikku
menarik ujung bajuku, matanya membelalak. "Kak, jangan pergi,"
bisiknya. Suaranya kecil sekali, seolah kalau ia bicara lebih keras, kenyataan
bahwa aku akan pergi tetap benar-benar terjadi.
Aku menekuk
lutut di hadapannya. "Kakak nggak akan lama, kok," kataku, meski aku
sendiri tak yakin itu benar. "Kamu jagain Ibu dulu, ya. Sama jaga rumah
juga."
"Kakak
selalu suruh aku jaga sesuatu," katanya terisak, air matanya mulai
menggenang. Rambut panjangnya terurai kusut. "Padahal aku kan juga mau
dijaga."
Kalimat
sederhana itu menghantamku lebih keras daripada peluru mana pun yang akan
kuhadapi nanti. Aku hanya bisa memeluknya erat sebelum akhirnya berbalik dan
melangkah pergi bersama ratusan rekrutmen lain pagi itu, membawa satu
penghiburan pahit di dada: Jika kelak aku tak pernah kembali, setidaknya Ibu
dan adikku tahu aku pergi bukan karena tega meninggalkan mereka. Tapi takdirlah
yang memaksa langkahku demi melindungi mereka.
***
Anton
menatapku dalam diam. Matanya bergetar, tapi ia menahan diri untuk tidak
memotong ceritaku. Wajahnya menunjukkan hal serupa saat berangkat dari kota
kelahirannya dulu. Kami sama-sama dipisahkan dari kehangatan keluarga,
sama-sama menyimpan wajah orang-orang yang kami tinggalkan.
Belum
menjawab pertanyaan Anton tadi, aku lanjut bercerita tentang medan perang, yang
ironisnya bukan tentang menang atau kalah yang kutemukan, tapi tentang
wajah-wajah yang tak pernah bisa kulupakan. Pernah pada suatu sore, di parit
pertahanan saat hujan turun deras, aku berhadapan langsung dengan seorang
prajurit musuh yang tersesat dari pasukannya. Kami sama-sama terkejut, senjata
terangkat, napas tercekat bersamaan.
"Membunuh
atau dibunuh." Begitu kata letnan kompi kami sebelum menyergap musuh di
medan perang. Kalimat itu berputar di kepalaku saat aku dan prajurit itu
berdiri terpaku, saling menodong. Sekilas tampak wajahnya yang jauh lebih muda
dariku, mungkin baru enam belas tahun. Tangannya gemetar memegang senapan. Dari
balik seragam basah kuyupnya, tersembul sesuatu dari saku dadanya: Sebuah foto
kecil, setengah basah oleh riak hujan, bergambar seorang perempuan tua dan dua
anak kecil.
Seketika,
insting bertahan hidup mengambil alih. Dengan tangan yang sama-sama bergetar,
kami mengangkat laras senjata masing-masing, saling mengadu senapan dan bersiap
menembak. Aku bisa melihat pantulan ketakutan di matanya, begitu juga
sebaliknya. Namun, melihat air mata yang tumpah di wajah mudanya, jari
telunjukku yang menempel di pelatuk mendadak kaku sampai akhirnya ia
menjatuhkan senapannya lebih dulu, jatuh berlutut di lumpur, menangis sambil
mengucapkan sesuatu dalam bahasanya sendiri yang tak kupahami. Memohon-mohon
kepadaku, lalu menyebut satu nama berulang-ulang—seolah nama seseorang yang ia
takut tak akan pernah ditemuinya lagi.
Setelah ketegangan
panjang menyelimuti kami, perlahan kuturunkan moncong senapanku, memberi
isyarat dengan anggukan kepala agar ia pergi. Ia menatapku tak percaya, matanya
berkaca-kaca, sampai akhirnya merayap mundur dan menghilang di balik kabut
parit. Sore itu, aku memilih membiarkan musuhku lolos, bahkan melanggar
perintah atasan. Aku tak sanggup menjadi bagian dari mesin perang yang
diciptakan orang-orang yang bahkan tak pernah menginjakkan kaki di medan tempur
ini.
Nahasnya,
komandanku menemukannya lebih dulu keesokan paginya. Aku menyaksikan mayatnya
tergeletak tak jauh dari tempatku berpatroli sore itu. Para tentara, termasuk
komandanku, hanya menertawakan kebodohan sosok malang yang kini tak bernyawa
itu. Malam itu aku terjaga, membayangkan foto perempuan tua dan dua anak kecil
milik prajurit yang kini telah tiada. Bertanya-tanya apakah mereka akan pernah
tahu bagaimana nasib orang yang mereka cintai di saat terakhirnya?
"Itulah
kenapa aku tak pernah bisa membenci mereka," kataku pada Anton.
"Karena yang kita sebut musuh pun pasti memiliki orang-orang tercinta yang
menunggu kepulangan mereka. Sama seperti kita."
Lalu aku
lanjut bercerita tentang teman-teman kami satu peleton dulu. Hangat kopi di
antara kami sudah mulai kehilangan uapnya. Aku kembali bercerita tentang Boris
yang paling tua di antara kami, yang selalu menepuk pundakku sambil bercanda,
"Kau ini kalau diajak ngobrol kayak ngobrol sama tembok, ekspresimu
benar-benar datar,” celoteh Boris saat itu. “Tapi kalau ada serangan musuh, kau
nggak pernah mau tinggalin siapa pun di belakang." Aku hanya terkekeh
mendengarnya, meski dalam hati aku bertanya-tanya, apa itu artinya aku teman
yang buruk?
Suatu
malam sebelum kami dipindahkan ke garis depan yang lebih berbahaya, seluruh
peleton duduk mengelilingi api unggun kecil, berbagi jatah makanan yang
menipis. Boris melempar pertanyaan ke sekeliling, "Kalau kalian pulang
dari perang nanti, hal pertama apa yang mau kalian lakukan?"
Satu per
satu menjawab. Ada yang ingin makan masakan ibunya, ada yang ingin menikahi
kekasihnya, ada yang cuma ingin tidur seminggu penuh tanpa terbangun oleh suara
tembakan. Ketika giliranku, aku diam cukup lama sampai Boris menyenggol
lenganku.
"Kau
bagaimana, bung? Apa hal pertama yang kau lakukan saat pulang nanti?"
"Aku
ingin bertemu adikku, dan menyaksikannya tumbuh dewasa," jawabku sembari
mengingat-ingat lagi wajah adikku. Suaraku nyaris tak terdengar di antara derak
api. "Aku belum pernah lihat dia jadi apa-apa selain adik kecil yang
selalu kugendong dulu."
Boris
tertawa, menepuk punggungku. "Kau ini beda sendiri, ya. Semua orang
mikirin diri sendiri, kau malah mikirin adik kecilmu." Yang lain ikut
tertawa. Aku hanya tersenyum kecil, tak menggubris celotehan mereka. Bagiku,
memikirkan adikku bukanlah hal remeh. Itu juga satu-satunya alasanku untuk
bertahan sampai sejauh ini.
Malam itu
ternyata menjadi malam terakhir kami tertawa bersama. Dua minggu kemudian,
serangan artileri mendadak menghantam kubu kami di tengah kegelapan, meremukkan
pertahanan dan merenggut puluhan nyawa seketika. Di tengah asap mesiu dan
jeritan histeris, aku menemukan Boris terbaring di antara reruntuhan.
Ia
mencengkeram lengan seragamku dengan tangan berlumur darah, cengkeraman
ketakutan dari seorang pemuda yang hanya ingin pulang. Aku memangku kepalanya,
menyaksikan pendar terakhir di matanya yang perlahan padam. Dengan jemari
gemetar, akhirnya kututup kedua matanya untuk terakhir kali. Ia gugur dengan
kerinduan pada rumah yang tak akan pernah ia lihat lagi.
***
Bertahun-tahun
kemudian, kereta militer yang membawaku pulang berhenti di stasiun kecil sore
itu. Empat tahun aku berperang tanpa jeda, hingga akhirnya sebuah gencatan
senjata sementara memberikanku kesempatan pulang dua minggu ke kampung
halaman—sebelum perang kembali berkecamuk dan dikirim kembali ke garis depan.
Sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan rumah, bau masakan ibu, suara
adikku yang mengoceh soal apa saja. Namun, aku salah menyangka rumah bisa
menyelamatkanku.
Begitu
pintu gerbong terbuka, aku melihat Ibu jauh lebih kurus. Rambutnya beruban,
tangannya gemetar. "Nak …" bisiknya, menatap wajahku yang jauh
berbeda dari terakhir kali kami bertemu. Ia langsung memelukku erat. Tapi
sayangnya pelukan itu tak bertahan lama, tubuhku mendadak menegang sendiri,
refleks yang belum hilang meski sudah ratusan kilometer dari medan perang. Ibu
melepas pelukannya, menatapku hati-hati, seolah sadar ada yang tidak beres.
Adikku
muncul beberapa saat kemudian. Ia bukan lagi gadis dua belas tahun yang dulu
menarik ujung bajuku, kini tampak lumayan tinggi, hampir sebahuku.
"Kak,"
katanya pelan. Aku menunggu ia mendekat dan memelukku seperti biasa. Tapi ia
tampak menjaga jarak, seolah aku orang asing. Kupikir saat itu ia hanya malu
karena baru bertemu kakaknya setelah sekian lama.
Aku salah.
Selama dua minggu itu, kami makan di meja yang sama, tetapi nyaris tak pernah
berbicara. Kadang Ibu sesekali bertanya hal-hal kecil dengan suara pelan dan
hati-hati, seolah aku ini tamu asing yang bisa meledak kapan saja. Tapi yang
paling menghancurkan hatiku adalah adikku. Ia jarang berinteraksi denganku,
matanya selalu menghindar tiap kali kami berpapasan.
Suatu
malam, dari balik dinding tipis kamar, aku tak sengaja mendengar adikku
menangis dan berbisik pada Ibu. "Aku kangen kakak yang dulu, bu. Bukan
yang sekarang." Aku baru menyadari alasan di balik jarak dingin yang
membentang di antara kami. Ia marah dan kehilangan sosok kakak yang seharusnya
menemaninya tumbuh dewasa. Kakak yang sangat ia nantikan ternyata pulang
sebagai pria asing yang tertutup dan dingin.
Saat itu
aku pun sadar, perang tak hanya membunuh manusia di medan tempur. Perang juga
membunuh jiwa mereka yang berhasil pulang. Pertempuran itu tak pernah
benar-benar usai di kepalaku. Gemuruh, bau amis darah, dan jeritan
teman-temanku terus menggema. Ketika berada di parit dingin dan berdarah,
jiwaku menjerit merindukan rumah. Ketika akhirnya pulang, aku merasa asing,
terjebak dalam ilusi seolah masih berada di medan perang.
Hari-hari
itu berjalan sangat aneh. Malam demi malam kulewati dalam kesunyian kamar yang
asing, terjaga dalam kesuntukan yang pekat. Setiap kali menutup mata, telingaku
berdenging mendengar detak jarum jam yang terasa seperti detik-detik pelatuk
senjata. Seringkali aku terbangun dan langsung berjaga semalaman suntuk di
dekat jendela, tubuhku menegang secara refleks, bersiaga seolah sedang
mengawasi parit pertahanan dari serangan musuh mendadak, padahal aku sedang
berada di rumah sendiri.
Bayang-bayang
medan perang terus mengepung kepalaku, membuat rumah yang harusnya jadi tempat
teraman bagiku malah menjadi kekhawatiran rapuh yang tak pasti. Hingga tanpa
disadari, masa libur singkat itu habis begitu saja, merenggut sisa-sisa waktu
yang kumiliki dan kembali menarikku melangkah menuju neraka di garis depan.
Pagi kepergianku kembali ke medan perang, Ibu memelukku lama, isak tangisnya pecah di dadaku, seolah ia tahu ini pelukan terakhir dari anak laki-lakinya yang jiwanya telah patah. Adikku berdiri agak jauh di belakang Ibu, tak melangkah mendekat, wajahnya tertunduk. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit.
"Hati-hati
ya, Kak."
Hanya itu.
Ia menunduk ke lantai tanpa menatapku sama sekali. Aku mengangguk pelan,
membalikkan badan, dan melangkah pergi dengan dada bergemuruh. Aku tak pernah
tahu, itulah kalimat terakhir yang akan kudengar darinya.
"Aku
tidak pernah menyalahkan mereka," ujarku lirih pada Anton. "Ibu,
adikku, teman-temanku, mereka semua orang baik. Hanya aku yang ternyata tidak
pernah cukup baik. Maafkan aku belum sempat jadi anak yang baik, kakak yang
baik, teman yang baik. Tapi aku bersyukur pernah dipertemukan dengan mereka
semua."
Aku
tersenyum hambar, lalu menunduk. Hening panjang menyelimuti kami, sebelum
sebuah suara kasar merobeknya begitu saja.
"WOI!
Bangun, tahanan bodoh! Waktu kalian habis!"
Umpatan
itu menggedor telingaku seperti ledakan ranjau. Aroma kopi dan suasana
nostalgia kami menghilang seketika. Cahaya mentari padam, suara gemericik air
lenyap, digantikan derap sepatu bot dan gedoran keras pada jeruji besi.
Aku
mengedipkan mata, kenyataan pun menyergap. Sekarang aku tidak sedang duduk di
kursi nyaman bernostalgia bersama sahabat lama. Aku duduk di lantai batu dingin
sebuah ruang tahanan yang pengap dan lembap, umpatan tadi masih terngiang di
telingaku. Pergelangan kakiku terikat rantai, sisa lengan buntungku berdenyut
nyeri, penglihatanku yang buram perlahan menyadarkanku pada bau karat dan darah
kering yang menempel di sel penjara.
Inilah
kenyataannya. Aku tertawan musuh, mendekam di penjara militer mereka, dan sipir
baru saja mengumumkan bahwa giliranku telah tiba. Semua percakapan hangat tadi
hanyalah bayangan di kepalaku. Anton yang kutemui bukan Anton di hadapanku
sekarang, melainkan Anton yang nyata, teman satu selku, bersandar di dinding
batu yang sama, wajahnya penuh luka lebam bekas interogasi. Kami sama-sama
tertangkap dalam penyerangan terakhir dua minggu lalu.
Seorang
sipir bertubuh tinggi besar melangkah masuk, menatapku jijik. Ia meludah ke
lantai tepat di samping kakiku, lalu terkekeh sinis.
"Berdiri,
Buntung! Akhirnya waktumu tiba," katanya kasar, menoleh sekilas ke arah
Anton di sudut sel sebelum kembali menatapku. "Jujur saja, melihatmu
diseret ke ruang eksekusi membuatku lega. Sel ini jadi kayak rumah sakit jiwa
gara-gara kau yang seminggu penuh ngoceh sendirian sambil menatap dinding kosong. Dasar
orang gila!"
Tak ada
waktu untuk berpamitan. Anton hanya menatapku lemas seolah ia tahu gilirannya
akan tiba setelahku. Langkah-langkah berat sipir sudah menyeretku keluar sel,
moncong senjata menodong punggungku tanpa belas kasihan. Suara rantai beradu
dengan lantai batu di sepanjang lorong gelap menuju ruang eksekusi. Tak ada
wajah yang menyambutku di sana. Tak ada Ibu, tak ada adikku, tak ada Anton.
Hanya dinding batu lembap, seorang algojo yang bahkan tak menatap wajahku, dan
cahaya obor yang berkedip lemah, seolah sudah enggan menyaksikan kematian yang
satu ini.
Sepanjang
hidupku aku selalu takut sendirian, takut jadi beban, takut tak cukup baik,
takut ditinggalkan. Tapi di detik-detik terakhir hidup ini, justru
kesendirianlah yang datang menjemputku, sunyi dan tanpa belas kasih. Bukan
suatu peristiwa besar, bukan pertempuran heroik yang akan diceritakan
turun-temurun. Hanya ruangan sempit, seorang algojo dengan senapannya, dan
keheningan yang menelan segalanya.
"Dor!"
Letusan
memutus segalanya. Sesaat setelah kudengar ledakan senapan memuntahkan timah
panas ke arahku, dunia terasa kelam dan sunyi. Tapi di saat terakhir, aku
melihat sesuatu yang tak pernah kuduga. Bukan hanya kilas balik kesedihan yang
biasa menghantuiku: Bubur gosong, tangan Ibu yang gemetar, parit dan prajurit
musuh yang kuselamatkan. Tampak bayangan lain tentang hidup yang tak pernah
kumiliki.
Hanya
sekilas, sebuah siluet samar berlalu cepat, seperti kilatan cahaya yang tak
sempat kulihat sepenuhnya. Di suatu tempat yang tak pasti di mana, aku melihat
seseorang menyerupai diriku, hidup bahagia, dikelilingi orang-orang terkasih.
Di sampingnya ada seseorang yang wajahnya tak terlihat olehku, hanya
bayangannya saja, tapi aku bisa merasakannya: Ada sesuatu yang hangat
menyelimutiku, seolah orang itu mencintaiku lebih dari apa pun yang pernah ada.
Sepersekian
detik kemudian, semua kembali kelam dan segalanya runtuh dalam kesunyian. Aku
mendapati diriku berdiri di tengah kehampaan tak berujung, di sebuah ruang di
mana waktu tak lagi berlaku. Di kejauhan, tiba-tiba sebuah cahaya redup tetapi
hangat perlahan berpendar dan merekah seperti ufuk fajar yang lembut. Terdengar
bisikan tanpa suara memanggil namaku. Seolah tanpa ragu aku pun melangkah
menuju pendar itu. Tak ada lagi penderitaan, tak ada lagi peperangan, tak ada
lagi kesendirian. Pendar itu menuntun jiwaku menuju destinasi selanjutnya,
tempat berlabuhnya jiwa-jiwa yang telah tiada.
***
Beberapa jam setelah eksekusi itu, lantai sel bergetar. Anton, yang masih meringkuk di sudut sel, tersentak bangun. Dentuman jauh, lalu satu lagi yang lebih dekat, membuat debu jatuh dari langit-langit batu. Ia menahan napas, menajamkan telinga, dan menyadari sesuatu yang aneh: Teriakan yang bersahutan di lorong itu adalah bahasanya sendiri.
"Aman!
Sel ini aman! Ada berapa orang di sini?!"
Derap
sepatu mendekat, cepat dan tergesa, bukan seret langkah sipir yang biasa
menyeret para tawanan keluar. Sebuah bayangan berhenti di depan jeruji,
mengguncang gembok dengan tangan yang gemetar.
"Buka!
Cepat, buka!"
Gembok
dihancurkan dengan tembakan senapan, dua kali, tiga kali, sampai akhirnya
jeruji berderak dan terbuka paksa. "Kau bisa berjalan?" tanya seorang
prajurit sambil menariknya berdiri, memapah lengannya yang masih terbebat
perban.
Anton hanya bisa mengangguk, tenggorokannya terlalu tercekat untuk menjawab. Di lorong, ia melihat pintu-pintu sel lain menganga satu per satu, tawanan lain dipapah keluar dengan langkah limbung. Ada yang menangis, ada yang hanya diam menatap langit seolah tak percaya masih bisa melihatnya. Di ujung lorong, bendera musuh yang tadinya berkibar di atas menara kini sudah tumbang. Markas itu jatuh pagi itu juga, dan perang ini berakhir dengan kemenangan negaraku dan sekutunya.
Setelah
kemenangan itu, akhirnya negeri kami merayakannya pada minggu-minggu kemudian.
Pawai di ibu kota, pita-pita emas, dan nama-nama perwira yang dibacakan dengan
bangga di hadapan kerumunan. Namaku hanya tersebut dalam daftar korban,
tenggelam di antara ratusan nama lain yang juga tak sempat pulang. Keluargaku
hanya menerima medali kosong dan belasungkawa. Mayatku tak pernah ditemukan.
Makamku hanya berisi seragam perang berlumuran darah.
***
Sore itu,
di pemakaman umum tentara, Anton datang sendirian, tangannya masih diperban
bekas rantai penjara. Ia berjalan pelan menyusuri jajaran nisan, mencari satu
nama di antara ratusan nama lain yang terdengar asing. Tapi ia tertegun melihat
dua sosok yang sudah lebih dulu berlutut di depan pusaraku. Seorang perempuan
tua dengan rambut beruban dan di sampingnya, seorang gadis muda menggenggam
sebuah foto lama yang lusuh. Tampak di foto itu seorang anak laki-laki
menggendong anak perempuan kecil di punggungnya, keduanya tertawa lebar, difoto
bertahun-tahun sebelum dunia memisahkan mereka dengan cara yang begitu kejam.
Anton
hanya berdiri terpaku beberapa langkah dari mereka, dan entah bagaimana, ia
sudah tahu. Mereka adalah kedua sosok yang sangat kusayangi semasa hidupku. Di
antara ratusan nisan sore itu, Anton hanya berdiri di sana, membiarkan air
matanya sendiri jatuh tanpa suara, sembari menyaksikan dua perempuan yang
selama ini hanya ia kenal lewat ceritaku dulu. Kini mereka berduka di depan
pusara kosong yang tak akan pernah menjawab.
Ibu
menggenggam pundak sang adik erat-erat, seperti dulu ia menggenggam pundakku
sebelum aku pergi ke medan perang, seolah takut kehilangan satu lagi buah
hatinya jika melepaskan genggaman itu. Sang adik hanya menunduk, air matanya
menetes membasahi foto lusuh di tangannya, foto yang selama ini mengingatkannya
akan masa kecil bersama kakaknya yang tersayang.
Di sana,
Anton akhirnya memahami sesuatu yang sepanjang hidupku tak pernah sempat
kupahami. Selama ini aku keliru menilai diri sendiri sebagai sosok yang gagal
dan tak pantas dicintai. Keyakinan pahit itulah yang kubawa hingga saat-saat
terakhir. Adik yang dulu hanya sanggup menggumamkan perpisahan singkat, kini
terisak seolah dunianya runtuh, menangisi seseorang yang ternyata amat
dicintainya, meski keberanian tak berpihak padanya ketika aku masih di sisinya.
Angin
bertiup merampas kelopak bunga liar, menerbangkannya ke langit di antara rimbun
pepohonan, seolah membawa kabar tentang satu jiwa yang telah pergi dan jiwa
lain yang tertinggal bersama penyesalan abadi. Perang mungkin usai dan negeri
kami menang, tetapi harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Di pemakaman ini,
tampak jelas tak ada pemenang. Hanya tersisa penyesalan bagi mereka yang
ditinggalkan. Perlahan dunia pun membisu, menyisakan hembusan angin senja yang
menyampaikan salam perpisahan bagi jiwa-jiwa yang telah tiada.

0 Komentar