Sudah
menjadi kewajiban umat Muslim untuk memiliki pemahaman yang moderat: adil dan
seimbang dalam menjalani hidup. Pemahaman tersebut harus sesuai dengan akidah
yang membela Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) dari penyimpangan kaum yang
menyerupakan Allah dengan makhluk (musyabbihah) dan kaum yang menolak sebagian
sifat Allah (mu'aththilah). Seorang Muslim selalu mengambil jalan pertengahan
antara sikap berlebihan (ifrat) dan sikap meremehkan (tafrit). Umat Islam
memikul amanah untuk menjaga agama ini—baik dalam masalah akidah, syariat,
akhlak, pemikiran, maupun budaya—serta menghadapi berbagai persoalan dan
perubahan zaman dengan tetap berpegang pada prinsip moderasi.
Menariknya,
jauh sebelum istilah moderasi beragama atau dalam Islam disebut wasathiyyah
menjadi perbincangan global seperti sekarang, dunia Islam pernah menghadapi
berbagai aliran teologi yang beragam, seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, Qadariyah,
Jabbariyah, dan Mujassimah. Di kota Basrah pada tahun 260 H (874 M), saat masa
keemasan peradaban Abbasiyah, hiduplah seorang ulama besar yang perjalanan
intelektualnya menjadi salah satu tonggak penting sejarah pemikiran peradaban
Islam. Ia adalah Abu Hasan al-Asy’ari, seorang tokoh yang pada mulanya
tenggelam dalam pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun, hingga akhirnya bertobat
pada sekitar tahun 300 H dan menemukan jalan tengah yang hingga kini menjadi
rujukan mayoritas umat Islam di dunia. Lalu, bagaimana kisah di balik
perjalanan tersebut?
Ali bin
Ismail atau yang lebih dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan ulama
besar keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Di masa mudanya, ia dididik di
bawah bimbingan ayahnya yang sangat memegang teguh prinsip Ahlus Sunnah
wal-Jamaah. Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang ayah berwasiat agar Abu
al-Hasan kecil dibimbing oleh al-Hafizh Abu Yahya Zakaria bin Yahya as-Saji,
seorang ahli fikih dan hadis dari kota Bashrah yang juga berpegang teguh pada
prinsip Ahlus Sunnah wal-Jamaah.
Namun,
setelah ayah kandungnya wafat, ibunya menikah lagi dengan seorang tokoh utama
Mu’tazilah pada masa itu, yaitu Abu Ali al-Jubba’i. Kondisi pun berubah. Ia
yang semula berpegang pada prinsip Ahlus Sunnah wal-Jamaah, lambat laun
mengikuti aliran Mu’tazilah—aliran teologi Islam rasional yang mengutamakan
akal dalam memahami ajaran agama—di bawah bimbingan ayah tirinya. Berkat
kecerdasannya, ia dipercaya sebagai tokoh muda Mu’tazilah sekaligus pewaris
ilmu gurunya. Dalam berbagai kesempatan, Abu Ali al-Jubba’i sering memercayakan
urusan keagamaan kepadanya, bahkan ia telah meluncurkan tidak sedikit karya
tulis untuk membela kelompok Mu’tazilah dan menyerang kelompok yang
berseberangan.
Puncaknya
terjadi ketika ia mengalami gejolak batin terhadap paham yang dianutnya. Hal
ini memicu perdebatan sengit antara dirinya dan sang ayah tiri sekaligus guru,
Al-Jubba’i, khususnya terkait pemahaman sifat-sifat Allah SWT dalam konteks
akidah.
Imam
al-Asy’ari bertanya kepada Al-Jubba’i, “Bagaimana pendapat Guru mengenai nasib
tiga orang yang meninggal, dengan rincian: satu orang mukmin, satu orang kafir,
dan satu orang lagi anak kecil yang belum baligh?” Al-Jubba’i menjawab,
“Keadaan orang mukmin tersebut tinggi derajatnya, orang kafir berada dalam keadaan
yang celaka, dan si anak kecil berada dalam keadaan selamat.”
Imam
al-Asy’ari kemudian bertanya kembali, “Lalu, apakah memungkinkan si anak kecil
tersebut dapat naik derajatnya dengan memohon kepada Allah SWT?” “Tentu tidak.
Seorang mukmin diangkat derajatnya oleh Allah SWT karena ia telah melakukan
amal saleh, berbeda dengan anak kecil yang belum beramal saleh sehingga kecil
kemungkinan ia mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah,” jawab Al-Jubba’i.
Tidak
puas dengan jawaban tersebut, ia bertanya lagi, “Lalu, bagaimana seandainya si
anak kecil tersebut menggugat Allah SWT atas takdir kematiannya di usia yang
belum sempat beramal saleh? Seandainya Allah memberi anak kecil ini umur
panjang, pastilah ada kesempatan baginya beramal saleh sehingga mendapatkan
derajat yang tinggi seperti orang mukmin tadi.”
Al-Jubba’i
menjawab, “Tatkala Allah SWT berfirman kepada anak kecil tersebut, ‘Wahai anak
kecil, sesungguhnya Aku adalah Dzat yang Maha Mengetahui masa depanmu. Jikalau
usiamu hingga dewasa, dikhawatirkan engkau akan berbuat maksiat yang
menjerumuskanmu ke dalam api neraka.’”
Pernyataan
yang diutarakan oleh Al-Jubba’i itu sama sekali tidak menghentikannya untuk
terus bernalar kritis. Imam al-Asy’ari menyanggah kembali, “Wahai Guru,
tidakkah orang kafir tersebut juga akan menggugat Allah dengan argumen serupa?
Jika dengan alasan mengetahui masa depan, Allah mematikan si anak kecil demi
menjaganya dari kemaksiatan, mengapa Engkau membiarkan kami (orang-orang kafir)
terus hidup dalam kekafiran hingga mendapatkan siksaan ini?”
Al-Jubba’i
dibuat bungkam oleh kecerdasan sang murid dan tidak mampu menjawab argumen yang
dipaparkan oleh Imam al-Asy’ari.
Kisah
lain yang tak kalah masyhur ialah ketika Abu al-Hasan al-Asy’ari terpanggil
untuk membela manhaj Ahlus Sunnah wal-Jamaah melalui mimpi. Ibnu ‘Asakir
mencatat dalam riwayatnya bahwa al-Asy’ari pernah berkata:
“Terbenak
dalam hatiku beberapa permasalahan dalam ilmu akidah. Maka, aku pun berdiri
untuk menjalankan salat dua rakaat dan meminta kepada Allah agar memberiku
petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, lalu bermimpi bertemu
Rasulullah SAW dan mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah
SAW berwasiat, ‘Tetapkanlah sunnahku.’ Aku pun terbangun, lalu membandingkan
permasalahan-permasalahan ilmu akidah itu dengan dalil yang aku temukan dalam
Al-Qur’an dan hadis. Kemudian aku menetapkan dan membuang selainnya ke belakang
punggungku.”
Lazimnya,
seorang pewaris keilmuan sejati diharapkan meneruskan ajaran gurunya. Namun,
Abu al-Hasan al-Asy’ari mengambil jalan berbeda setelah menemukan berbagai
kelemahan dari pemikiran sang guru. Setelah perdebatan panjang mengenai aliran
yang dianut, ia memutuskan untuk berkhalwat di rumahnya dan menyibukkan diri
menulis pembelaan terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal-Jamaah selama 15 hari.
Sikapnya bukan sekadar penolakan terhadap mazhab teologi sebelumnya, melainkan
sebuah prinsip beragama; ia sadar bahwa kebenaran harus ditegakkan di atas
dalil yang sahih, bukan sekadar taklid kepada guru.
Hingga
akhirnya, Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari rumahnya menuju Masjid Jami’ kota
Basrah. Ia menaiki mimbar seraya berkata,
“Wahai
segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian selama beberapa waktu ini karena
ingin meneliti kembali berbagai permasalahan. Perkara yang haq dan yang batil
sempat menjadi samar bagiku, hingga aku memohon petunjuk kepada Allah. Allah
pun memberiku petunjuk kepada keyakinan yang telah kutuliskan di dalam
kitab-kitab ini. Oleh karena itu, aku melepaskan seluruh akidah menyimpang yang
aku yakini selama ini, sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini”—sambil
melepaskan jubah yang ia kenakan sebagai isyarat.
Setelah
keluar dari mazhab Mu’tazilah, ia senantiasa menguatkan argumentasi dan
dalil-dalil akidah yang telah diwariskan oleh para ulama salaf. Ia menjadi
salah satu tokoh terdepan yang meluruskan pemahaman menyimpang dari garis
ajaran para sahabat Nabi. Di antara karya monumentalnya adalah Maqalat
al-Islamiyyin, Al-Luma’ fi Radd ‘ala Ahli az-Zaigh wa al-Bida’, dan Al-Ibanah
‘an Ushul ad-Diyanah. Menjelang akhir hayatnya di Baghdad, Irak, pada tahun 324
H (935 M), ia berwasiat kepada para muridnya agar tidak mudah mengkafirkan
sesama Muslim.
Keteguhan
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari bukan sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang,
melainkan cerminan abadi bagi setiap pencari kebenaran, terkhusus bagi kita di
masa kini. Realitas hari ini menunjukkan betapa banyak orang yang terjebak
dalam taklid buta terhadap tradisi masa lalu yang kelam. Namun, dari sosok Imam
al-Asy’ari, kita belajar untuk menjadi pencari kebenaran sejati, yang berpijak
pada argumentasi yang kokoh, bukan sekadar mencari kenyamanan dalam kesesatan
berpikir. Karena baginya, keimanan bukan sekedar taklid, melainkan tanggung
jawab besar untuk menegakkan kebenaran dengan dalil yang benar di hadapan
Allah. Kesadaran itulah yang membuatnya berani keluar dari ajaran sang gurunya
dan memilih dengan ajaran yang benar.
Mahasuci
Allah yang telah memuliakan keturunan Abu Musa al-Asy’ari karena kecintaan
mereka kepada-Nya, sehingga kita dapat mengambil banyak pelajaran darinya.
Sebagaimana sabda Nabi SAW ketika mengisyaratkan kepada Abu Musa al-Asy’ari:
"Mereka adalah kaummu, wahai Abu Musa" (HR Al-Hakim).
Wallahu’alam bish-shawab.
Editor:
Febdiyu Akhmad, Athallah Zaki

0 Komentar