Header Ads Widget

Darussalam Catering

Merdeka dari Jubah Taklid: Perjalanan Intelektual Imam Al-Asy’ari


Oleh: Muhammad Massuyadi

Sudah menjadi kewajiban umat Muslim untuk memiliki pemahaman yang moderat: adil dan seimbang dalam menjalani hidup. Pemahaman tersebut harus sesuai dengan akidah yang membela Ahlus Sunnah wal-Jamaah (Aswaja) dari penyimpangan kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk (musyabbihah) dan kaum yang menolak sebagian sifat Allah (mu'aththilah). Seorang Muslim selalu mengambil jalan pertengahan antara sikap berlebihan (ifrat) dan sikap meremehkan (tafrit). Umat Islam memikul amanah untuk menjaga agama ini—baik dalam masalah akidah, syariat, akhlak, pemikiran, maupun budaya—serta menghadapi berbagai persoalan dan perubahan zaman dengan tetap berpegang pada prinsip moderasi.

Menariknya, jauh sebelum istilah moderasi beragama atau dalam Islam disebut wasathiyyah menjadi perbincangan global seperti sekarang, dunia Islam pernah menghadapi berbagai aliran teologi yang beragam, seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, Qadariyah, Jabbariyah, dan Mujassimah. Di kota Basrah pada tahun 260 H (874 M), saat masa keemasan peradaban Abbasiyah, hiduplah seorang ulama besar yang perjalanan intelektualnya menjadi salah satu tonggak penting sejarah pemikiran peradaban Islam. Ia adalah Abu Hasan al-Asy’ari, seorang tokoh yang pada mulanya tenggelam dalam pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun, hingga akhirnya bertobat pada sekitar tahun 300 H dan menemukan jalan tengah yang hingga kini menjadi rujukan mayoritas umat Islam di dunia. Lalu, bagaimana kisah di balik perjalanan tersebut?

Ali bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan ulama besar keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari. Di masa mudanya, ia dididik di bawah bimbingan ayahnya yang sangat memegang teguh prinsip Ahlus Sunnah wal-Jamaah. Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang ayah berwasiat agar Abu al-Hasan kecil dibimbing oleh al-Hafizh Abu Yahya Zakaria bin Yahya as-Saji, seorang ahli fikih dan hadis dari kota Bashrah yang juga berpegang teguh pada prinsip Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Namun, setelah ayah kandungnya wafat, ibunya menikah lagi dengan seorang tokoh utama Mu’tazilah pada masa itu, yaitu Abu Ali al-Jubba’i. Kondisi pun berubah. Ia yang semula berpegang pada prinsip Ahlus Sunnah wal-Jamaah, lambat laun mengikuti aliran Mu’tazilah—aliran teologi Islam rasional yang mengutamakan akal dalam memahami ajaran agama—di bawah bimbingan ayah tirinya. Berkat kecerdasannya, ia dipercaya sebagai tokoh muda Mu’tazilah sekaligus pewaris ilmu gurunya. Dalam berbagai kesempatan, Abu Ali al-Jubba’i sering memercayakan urusan keagamaan kepadanya, bahkan ia telah meluncurkan tidak sedikit karya tulis untuk membela kelompok Mu’tazilah dan menyerang kelompok yang berseberangan.

Puncaknya terjadi ketika ia mengalami gejolak batin terhadap paham yang dianutnya. Hal ini memicu perdebatan sengit antara dirinya dan sang ayah tiri sekaligus guru, Al-Jubba’i, khususnya terkait pemahaman sifat-sifat Allah SWT dalam konteks akidah.

Imam al-Asy’ari bertanya kepada Al-Jubba’i, “Bagaimana pendapat Guru mengenai nasib tiga orang yang meninggal, dengan rincian: satu orang mukmin, satu orang kafir, dan satu orang lagi anak kecil yang belum baligh?” Al-Jubba’i menjawab, “Keadaan orang mukmin tersebut tinggi derajatnya, orang kafir berada dalam keadaan yang celaka, dan si anak kecil berada dalam keadaan selamat.”

Imam al-Asy’ari kemudian bertanya kembali, “Lalu, apakah memungkinkan si anak kecil tersebut dapat naik derajatnya dengan memohon kepada Allah SWT?” “Tentu tidak. Seorang mukmin diangkat derajatnya oleh Allah SWT karena ia telah melakukan amal saleh, berbeda dengan anak kecil yang belum beramal saleh sehingga kecil kemungkinan ia mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah,” jawab Al-Jubba’i.

Tidak puas dengan jawaban tersebut, ia bertanya lagi, “Lalu, bagaimana seandainya si anak kecil tersebut menggugat Allah SWT atas takdir kematiannya di usia yang belum sempat beramal saleh? Seandainya Allah memberi anak kecil ini umur panjang, pastilah ada kesempatan baginya beramal saleh sehingga mendapatkan derajat yang tinggi seperti orang mukmin tadi.”

Al-Jubba’i menjawab, “Tatkala Allah SWT berfirman kepada anak kecil tersebut, ‘Wahai anak kecil, sesungguhnya Aku adalah Dzat yang Maha Mengetahui masa depanmu. Jikalau usiamu hingga dewasa, dikhawatirkan engkau akan berbuat maksiat yang menjerumuskanmu ke dalam api neraka.’”

Pernyataan yang diutarakan oleh Al-Jubba’i itu sama sekali tidak menghentikannya untuk terus bernalar kritis. Imam al-Asy’ari menyanggah kembali, “Wahai Guru, tidakkah orang kafir tersebut juga akan menggugat Allah dengan argumen serupa? Jika dengan alasan mengetahui masa depan, Allah mematikan si anak kecil demi menjaganya dari kemaksiatan, mengapa Engkau membiarkan kami (orang-orang kafir) terus hidup dalam kekafiran hingga mendapatkan siksaan ini?”

Al-Jubba’i dibuat bungkam oleh kecerdasan sang murid dan tidak mampu menjawab argumen yang dipaparkan oleh Imam al-Asy’ari.

Kisah lain yang tak kalah masyhur ialah ketika Abu al-Hasan al-Asy’ari terpanggil untuk membela manhaj Ahlus Sunnah wal-Jamaah melalui mimpi. Ibnu ‘Asakir mencatat dalam riwayatnya bahwa al-Asy’ari pernah berkata:

“Terbenak dalam hatiku beberapa permasalahan dalam ilmu akidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan salat dua rakaat dan meminta kepada Allah agar memberiku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, lalu bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah SAW berwasiat, ‘Tetapkanlah sunnahku.’ Aku pun terbangun, lalu membandingkan permasalahan-permasalahan ilmu akidah itu dengan dalil yang aku temukan dalam Al-Qur’an dan hadis. Kemudian aku menetapkan dan membuang selainnya ke belakang punggungku.”

Lazimnya, seorang pewaris keilmuan sejati diharapkan meneruskan ajaran gurunya. Namun, Abu al-Hasan al-Asy’ari mengambil jalan berbeda setelah menemukan berbagai kelemahan dari pemikiran sang guru. Setelah perdebatan panjang mengenai aliran yang dianut, ia memutuskan untuk berkhalwat di rumahnya dan menyibukkan diri menulis pembelaan terhadap manhaj Ahlus Sunnah wal-Jamaah selama 15 hari. Sikapnya bukan sekadar penolakan terhadap mazhab teologi sebelumnya, melainkan sebuah prinsip beragama; ia sadar bahwa kebenaran harus ditegakkan di atas dalil yang sahih, bukan sekadar taklid kepada guru.

Hingga akhirnya, Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari rumahnya menuju Masjid Jami’ kota Basrah. Ia menaiki mimbar seraya berkata,

“Wahai segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian selama beberapa waktu ini karena ingin meneliti kembali berbagai permasalahan. Perkara yang haq dan yang batil sempat menjadi samar bagiku, hingga aku memohon petunjuk kepada Allah. Allah pun memberiku petunjuk kepada keyakinan yang telah kutuliskan di dalam kitab-kitab ini. Oleh karena itu, aku melepaskan seluruh akidah menyimpang yang aku yakini selama ini, sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini”—sambil melepaskan jubah yang ia kenakan sebagai isyarat.

Setelah keluar dari mazhab Mu’tazilah, ia senantiasa menguatkan argumentasi dan dalil-dalil akidah yang telah diwariskan oleh para ulama salaf. Ia menjadi salah satu tokoh terdepan yang meluruskan pemahaman menyimpang dari garis ajaran para sahabat Nabi. Di antara karya monumentalnya adalah Maqalat al-Islamiyyin, Al-Luma’ fi Radd ‘ala Ahli az-Zaigh wa al-Bida’, dan Al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah. Menjelang akhir hayatnya di Baghdad, Irak, pada tahun 324 H (935 M), ia berwasiat kepada para muridnya agar tidak mudah mengkafirkan sesama Muslim.

Keteguhan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari bukan sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang, melainkan cerminan abadi bagi setiap pencari kebenaran, terkhusus bagi kita di masa kini. Realitas hari ini menunjukkan betapa banyak orang yang terjebak dalam taklid buta terhadap tradisi masa lalu yang kelam. Namun, dari sosok Imam al-Asy’ari, kita belajar untuk menjadi pencari kebenaran sejati, yang berpijak pada argumentasi yang kokoh, bukan sekadar mencari kenyamanan dalam kesesatan berpikir. Karena baginya, keimanan bukan sekedar taklid, melainkan tanggung jawab besar untuk menegakkan kebenaran dengan dalil yang benar di hadapan Allah. Kesadaran itulah yang membuatnya berani keluar dari ajaran sang gurunya dan memilih dengan ajaran yang benar.

Mahasuci Allah yang telah memuliakan keturunan Abu Musa al-Asy’ari karena kecintaan mereka kepada-Nya, sehingga kita dapat mengambil banyak pelajaran darinya. Sebagaimana sabda Nabi SAW ketika mengisyaratkan kepada Abu Musa al-Asy’ari: "Mereka adalah kaummu, wahai Abu Musa" (HR Al-Hakim).

Wallahu’alam bish-shawab.


Editor: Febdiyu Akhmad, Athallah Zaki


Posting Komentar

0 Komentar