Oleh: Febdiyu Akhmad
Kita semua tentunya mengenal sosok Umar bin
Khatab, bukan? Salah satu sahabat terbaik yang pernah dijamin masuk surga oleh
baginda Rasullullah. Di awal kemunculan dakwah Islam, ia begitu membenci dan
menentang keras. Bahkan, pernah suatu hari ia berencana untuk membunuh
Rasulullah. Namun, Allah berkehendak lain, cahaya hidayah menyentuh hatinya
hingga akhirnya ia bisa merasakan kemuliaan Islam. Setelah masuk Islam, Umar
menjadi sosok kepercayaan Rasulullah dan umat islam secara umum. Puncaknya,
setelah wafatnya Rasulullah dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar mendapat
amanah besar untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan umat Islam. Pada tahun 633
Masehi, ia resmi diangkat menjadi khalifah kedua dalam Sejarah Islam — pemimpin
tertinggi bagi seluruh kaum muslimin pada masa itu.
Tahun 633 hingga 644 Masehi, dunia Islam di
bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab mulai melebarkan sayap - sayap ekspansi
wilayahnya ke berbagai penjuru dunia. Wilayah-wilayah besar seperti Iraq, Syam,
dan Mesir berhasil ditaklukkan dan masuk ke dalam naungan kekhalifahan Islam.
Dominasi dunia yang semula dikuasai dua imperium besar –Persia dan Byzantium,
mulai bergeser ke tangan kekhalifahan Islam. Di bawah kepemimpinan Umar, dua
imperium penjajah yang telah menguasai dunia selama hampir ber-abad abad itu
habis ditaklukan, menyisakan sebagian wilayah kecil di timur milik Byzantium
yang memang belom pernah tersentuh.
Selayaknya penguasa sebuah imperium besar,
Umar bin Khatab sangat layak untuk mendapatkan berbagai fasilitas mewah, seperti
istana megah, pakaian indah, dan perhiasan mahal. Kita bisa melihat bagaimana
mayoritas penguasa dunia, di mana pun mereka berada, bahkan hingga kini selalu
menikmati fasilitas semacam itu. Katakanlah Kisra, sang kaisar Persia yang
memiliki mahkota berlapis emas, atau para penguasa di abad modern yang di
setiap individu setidaknya memiliki mobil dan tempat tinggal mewah. Apakah Umar
bisa mendapatkan segala fasilitas semacam itu? Tentunya bisa, seperti yang
penulis singgung di awal, Umar adalah pemimpin imperium besar dunia yang bahkan
telah berhasil menakhlukan Byzantium dan Persia. Maka memiliki istana megah dan
perhiasan mewah tentunya menjadi hal yang sangat mudah.
Namun, Umar berbeda. Ia hidup seperti rakyat
biasa—tanpa istana megah, tanpa pakaian mewah. Bahkan ketika tidur siang, ia
hanya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma. Sepanjang hidupnya,
Umar bin Khattab benar-benar menekankan kesederhanaan dan tidak mencintai dunia.
Sikapnya bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga prinsip kepemimpinan. Ia sadar
bahwa jabatan yang diembannya adalah amanah yang kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semua harta yang diperolehnya bukan
untuk dimiliki sendiri, melainkan milik Allah yang harus dikelola dengan adil
untuk rakyat dan kepentingan umat.
Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab
Al-Matsnawi, menceritakan: Suatu ketika pada masa kepemimpinan Khalifah Umar
bin Khattab, datang seorang utusan dari Kaisar Byzantium ke Madinah. Utusan itu
membawa gambaran megah dalam benaknya: ia membayangkan seorang penguasa besar
yang hidup mewah dan bergelimpang harta seperti umumnya seorang penguasa negara.
Tatkala ia mulai memasuki kota Madinah, ia bertemu dengan orang tua yang sedang
berada di bawah pohon kurma. Orang tua itu tengah memandikan dan memberikan
makan kepada seekor unta. Setelah sekilas melihat, ia kembali berjalan sembari merasa heran karena
tidak melihat adanya istana raja di sekitar kota.
Ia kemudian bertanya kepada salah seorang
penduduk Madinah, “Dimanakah istana raja kalian?” tanya sang utusan. Orang yang
ditanya oleh utusan Byzantium itu menjawab, “Raja kami tidak memiliki istana
megah, karena istana termegahnya adalah hati dan ruhnya sendiri yang senantiasa
diterangi oleh cahaya takwa.” Utusan kekaisaran Byzantium itu merasa heran. Ia
lalu kembali bertanya, “Lalu dimanakah raja kalian, sang penakluk dua imperium,
Persia dan Byzantium itu?” tanya sang utusan. “Tidakkah tadi engkau sadar, di
bawah pohon kurma yang baru saja kau lewati itu, seorang lelaki tengah
memandikan dan memberikan makan kepada seekor unta? itulah sang khalifah kami,
Umar bin Khathab. Ia tengah memberi makan dan memandikan unta milik baitul mal,
milik anak-anak yatim, dan para janda”.
Kisah lain yang tak kalah masyhur ialah ketika
bagaimana Khalifah Umar bin Khatab memasuki Yerusalem pasca kemenangan kaum
muslimin terhadap pasukan Byzantium di Syam. Saat itu Umar bin Khatab tidak
datang dengan iring-iringan dan pasukan besar, tapi ia datang hanya dengan ditemani
satu orang sahabatnya dan satu unta pinjaman. Keduanya bergantian menaiki unta itu dari
Madinah hingga Yerusalem. Ketika sampai di Yerussalem, baik pasukan Muslim
ataupun pemimpin Kristen yang sudah siap menyambut kedatangan Khalifah seketika
terkejut. Mereka tidak menyangka, seorang pemimpin penakluk dua imperium besar,
yang perintahnya ditaati dengan kepatuhan penuh oleh panglima-panglimanya,
ternyata hanya seorang laki-laki dengan penampilan yang sangat sederhana.
Teladan kepemimpinan Umar bin Khattab bukan
sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang, melainkan cerminan abadi bagi
setiap orang, terkhusus pemimpin di zaman ini. Realitas hari ini menunjukkan
betapa banyak pemimpin yang berlomba-lomba memperkaya diri dan tenggelam dalam
gemerlap dunia. Namun dalam diri Umar, kita menemukan sosok yang menjadikan
dirinya benar-benar sebagai pelayan umat, bukan penguasa yang haus akan
kekayaan. Karena bagi Umar, amanah bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung
jawab besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kesadaran itulah yang membuatnya tak pernah butuh hidup berlebihan dan mencintai
dunia
Mahasuci Allah yang telah melembutkan hati
Umar dengan cahaya Islam, sehingga kita dapat mengambil banyak pelajaran dan
faidah darinya. Seperti apa yang pernah Rasulullah katakan: "Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua
orang yang Engkau cintai, yaitu Amr bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khatab".
Wallahua’lam bi shawab.
0 Komentar