Oleh: Rahmadi Prima
Akhir bulan ini akan menjadi peringatan satu
tahun setelah saya sampai di Indonesia. Masih teringat bagaimana saya
mempesiapkan kepulangan; kargo, jual perabotan, perkopian jelang pisah, serta
mereka yang menemani saya di bandara. Namun tulisan ini bukan tentang saya
menjadi ‘saya’. Melainkan tentang bagaimana saya sebagai masisir melihat
kehidupan sesama masisir yang terlebih dulu menapakkan kaki di negerinya
sendiri.
Menurut pandangan saya, masisir di Indonesia
secara aktivitas terbagi menjadi beberapa kelompok; satu, mereka yang
melanjutkan studi S2. Dua, mereka yang berkarier. Ketiga, mereka yang kembali
ke pondok pesantren. Keempat, mereka yang masih meraba dan mempersiapkan
langkah selanjutnya. Mari kita urai satu per satu.
Kelompok pertama, mereka yang melanjutkan
studi S2. Pada umumnya, mereka akan melanjutkan studi sesuai bidang mereka.
Islamic Studies. Pilihan ini adalah yang paling mudah sebab opsi kampus
sangatlah luas. Selama ada UIN, disana ada opsi Islamic Studies. Apapun pilihan
studi turunannya. Ada juga yang sedang naik daun, Studi Kajian Timur Tengah.
Opsinya UI dan UGM. Studi ini cenderung relevan sebab kita sebelumnya berada di
Timur Tengah. Sesederhana itu. Namun di sisi lain, terdapat beberapa yang
berani mencoba mengambil bidang yang sedikit banyak, perlu penyesuaian.
Contohnya; Hukum Tata Negara, Design Thinking, dan beragam bidang studi lain
yang belum saya ketahui atau temukan masisir ada di dalamnya.
Sebagai catatan, umumnya terdapat jeda paling
tidak satu semester sampai satu tahun bagi mereka yang melanjutkan studi
magisternya. Di sisi lain, menariknya banyak di antara mereka melanjutkan studi
berbarengan dengan aktivitas kelompok kedua dan ketiga. Antara berkarier dan
kembali ke pondok pesantren sebagai tenaga pengajar. Kembali ke fleksibilitas
kampus dan studi yang di ambil.
Kelompok kedua, mereka yang berkarier. Bagian
ini sangat menarik bagi saya pribadi sebab kelompok ini memiliki spektrum yang
jauh lebih luas dibandingkan kelompok pertama dan ketiga. Saya melihat dari
lingkar di sekitar saya saja, terdapat beberapa bidang yang tidak selaras
dengan studi yang mereka ambil di Mesir.
Secara umum masisir berkarier di tiga
sub-kelompok bidang; pertama, bidang yang selaras dengan studi. Kedua bidang
yang tidak selaras dengan bidang studi. Ketiga, bidang yang memiliki irisan
dengan studi. Bila berbicara sub-kelompok pertama, tentu akan mengarah ke
pendidikan, khususnya mengajar (baik sebagai pengajar di jenjang dasar dan
menengah atau universitas). Atau juga bidang ibadah, seperti Muthawif.
Bila berbicara sub-kelompok kedua, spektrum
ini sebenarnya yang sangat luas; politik, PNS, manajemen bisnis, IT (AI,
programmer, dsb.), industri kreatif (desain, video, fotografi), bahkan salah
satu teman terdekat saya membuat agensi digital marketing. Umumnya, bidang ini
diambil dari passion yang dimiliki di luar bidang studinya. Atau juga di
beberapa skenario, ia menemukan jalan untuk masuk ke bidang ini.
Lalu sub-kelompok ketiga, adalah bidang yang
memiliki irisan dengan bidang studi. Sejauh ini satu-satunya contoh yang aktif
saya lihat adalah perbankan syariah. Sebab di antara bidang umum yang memiliki
irisan dengan studi kita di Mesir dan sudah cukup matang secara industri, baru
bidang perbankan syariah. Semestinya sudah ada beberapa bidang lain yang cukup
matang, namun saya belum melihat kenalan saya secara aktif terjun. Contohnya
bidang hukum.
Kelompok ketiga, mereka yang kembali ke pondok
pesantren. Pada dasarnya ini merupakan bagian dari sub-kelompok pertama, namun
sebab besarnya kelompok ini dan adanya sub-kelompok yang kembali ke pondok
sebagai bentuk ‘pengabdian’. Saya pisahkan menjadi satu kelompok besar.
Kelompok ini umumnya terbagi menjadi beberapa
sub-kelompok; pertama, mereka yang bekerja secara profesional dan terikat
kontrak kerja. Kedua, mereka yang kembali ke yayasan miliki keluarga besarnya.
Tidak ada hal yang unik di kelompok ini, meski spektrum posisi yang ditempatkan
bisa sangat menjulang, tetap saja masih berada di satu lingkungan. Seperti satu
teman saya menjadi guru honorer dengan jam mengajar yang sedikit, di sisi lain
teman saya sudah didapuk menjadi pimpinan pesantren dengan ratusan santri.
Lalu kelompok keempat, mereka yang
mempersiapkan langkah selanjutnya. Kelompok ini memiliki pola aktivitas yang
mirip. Riset, belajar, dan menanti kabar. Meriset kemana mereka akan
melanjutkan langkah, lanjut studi atau berkarier. Sembari mempesiapkan apa yang
dibutuhkan untuk mengambil langkah tersebut; apakah belajar bahasa inggris
online, atau ke Pare. Apa itu Working Holiday Visa di Australia (beberapa teman
saya mempertimbangkan hal ini, sebab sudah ada satu kenalan yang berhasil).
Belajar untuk LPDP. Atau menanti Letter of Acceptance (LoA) dari kampus
yang sedang dituju.
Keempat kelompok ini, sebagaimana saya
sebutkan, tidak benar-benar memisahkan satu sama lain. Sebab sebagian (besar)
dari mereka, melakukannya secara beriringan bersamaan. Mengajar sembari kuliah,
atau kuliah sembari membangun bisnis, atau mengajar sembari membangun bisnis.
Atau semuanya bersamaan.
Life after alatul masing-masing dari kita akan sangat berbeda satu sama lain. Bahkan semirip apapun kondisi kita di Mesir, ketika menapaki tanah air, semua bisa sangat berbeda. Kembali ke langkah apa yang kita tuju, visi misi hidup apa yang kita inginkan, dan mimpi apa yang sedang kita bangun. Apapun langkah yang diambil, hal tersebut bukanlah perlombaan. Melainkan proses dan perjalanan hidup. Ada yang melangkah, ada yang berlari, ada yang melompat, ada yang terjatuh, ada juga yang berhenti sejenak guna mengambil nafas.
Seperti Frieren, beyond the journey ends masih ada perjalanan baru yang akan kita tempuh, dan harus kita tempuh. Bersama orang baru, di lingkungan baru, di era baru.Sebagaimana kita menikmati proses ketika pertama kali menapaki tanah para nabi, kita juga akan menikmati lembaran ketika kita pertama kali kembali ke tanah air.
Tulisan ini, kemungkinan akan menjadi pembuka
tulisan-tulisan dengan tema after alatul lainnya. Sebab masih banyak hal yang
bisa dituliskan dan diceritakan dari kepingan-kepingan umum di atas. Sampai
jumpa di artikel selanjutnya.
1 Komentar
Menarik. Sebentar lagi ana mau alatul, seru banget kalo ada orang yang ngebuka mata kita buat ngeliat apa yang sebenarnya terjadi setelah alatul.
BalasHapus