Saya sebut saja nama penulis itu
tanpa menyamarkan supaya tidak bias ke mana-mana, Adiaramu Lingga Sastra. Yang
bersangkutan menulis sebuah ‘opini’ di Informatika, setelah tulisan serupa naik
oleh Edi Lukito di Bedug. Kedua tulisan itu memiliki topik pembahasan yang
sama, Almamater Olympiad IKPM Kairo.
Dalam opininya, penulis
menyampaikan bahwa di awal dia begitu terkesan dengan Almamater Olympiad. Ia
menangkap kesan bahwa kegiatan ini begitu diglorifikasi (disebut enam kali
dalam tulisannya). Perasaan berbunga-bunga dalam hatinya tadi dapat ditilik dari
diksi yang ia gunakan, seperti “melahirkan kebanggan (ditulis dua kali
dengan saltik yang sama)”, “terperangah oleh kemegahan”, “tari-tarian
memanjakan mata”, “nyanyian menggema”, dan “pertunjukan
pencak silat berhasil menghipnotis ekspektasi para peserta.”
Kesan dalam dirinya diperkuat
juga oleh tajuk “Grand Opening” dan “Grand Closing” yang menurutnya
memberi kesan megah—tapi bukannya di mana-mana namanya begitu, ya? Hadirnya
Dubes saat pembukaan dan tamu undangan lainnya juga membuatnya semakin
terpesona dengan Almamater Olympiad. Sekali lagi katanya, “membangun
ekspektasi.”
Masalah utama yang ia sampaikan
adalah betapa ekspektasi dan kesan glorifikasi yang dia dapat ternyata tidak
sesuai dengan kelayakan hadiah yang almamaternya dapatkan. Dengan mendedah
opininya, kita akan coba temukan … apa atau siapa yang sebenarnya bermasalah?
Motif Penyelenggaraan dan
Teknis Eksekusi
Pengadaan perlombaan semacam ini
bukan pengalaman baru bagi IKPM Kairo. Kegiatan serupa diadakan setiap tahun,
namanya IKPM Cup. Ia adalah ajang silaturahmi yang melibatkan angkatan-angkatan
IKPM, dari paling junior sampai yang sudah berperan di KBRI.
Almamater Olympiad kali ini
adalah alih bentuk dari IKPM Cup ke dalam format baru. Dalam peringatan 100
Tahun Gontor, IKPM berencana menghadirkan acara yang inklusif untuk merangkul
almamater lain di Masisir. IKPM pun menghadirkan Almamater Olympiad untuk ajang
silaturahmi. Secara sistemik, dari awal motivasi utama dari panitia ini dapat
ditilik dari misi yang tertulis di Proposal Sosialisasi:
1.
Poin ajang silaturahmi dan
kebersamaan disebut paling banyak selayaknya fokus utama. Dalam Buku Panduan
juga tertulis:
“Fokus utama kegiatan ini
adalah mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antar mahasiswa melalui
berbagai cabang olahraga, seperti sepak bola, basket, bulu tangkis, hingga
tenis meja.”
Untuk mengakomodasi keperluan operasional perlombaan yang melibatkan 41 Almamater untuk 27 cabang lomba (di Informatika ditulis 24—salah data), panitia menarik uang pendaftaran dari setiap almamater. Biaya pendaftaran tersebut diatur dengan beberapa tingkat alias paket pembayaran sebagai berikut:
Karena Almamater Olympiad adalah
ajang silaturahmi, maka tidak ada paksaan untuk ikut seluruh lomba, atau bahkan
tidak ikut sama sekali. Bagi almamater yang ikut seluruh lomba, salah satunya
almamater sang pengkritik, memang membayar penuh 2500 Le—yang artinya memang
ingin mengikuti setiap lomba. Namun, tidak semuanya membayar dengan jumlah
tersebut. Tercatat ada almamater yang membayar 200 le, mengambil Paket 3 di
Divisi E-Sport.
Menurut ketua panitia, Nouval
Hibridzi, motif ini sudah disampaikan dari awal. Pertemuan sosialisasi sudah
digelar dua kali, dan technical meeting sekali. Saat pertemuan-pertemuan
tersebut, ditekankan terus fokus silaturahmi. Di awal tidak ada janji atau
keterangan berapa besar hadiah yang akan didapatkan oleh pemenang setiap
perlombaan. Hadiah juga tidak disertakan dari registrasi untuk menghindari
unsur maysir. Artinya, mau sebesar apapun biaya pendaftaran, tidak ada
hubungannya dengan besar kecilnya hadiah. Secara sistemik dari awal acara ini
memang berskala ajang silaturahmi lewat kompetisi, dan bukan kompetisi ambisius
yang mengiming-imingi hadiah besar.
Maka setelah diumumkan fokus
utamanya dari awal, kemudian tidak dijanjikan apa-apa, hadiah adalah urusan
panitia yang didapatkan dari dana sponsor (dari luar registrasi), bisa besar dan bisa kecil tergantung kinerja. Mestinya,
tidak ada standar mutlak yang diekspektasikan pemenang. Peserta yang memilih untuk ikut hendaknya menjalani perlombaan dengan semangat yang sama, dan bukan mencari ambisi—kecuali
jika ingin balik modal.
Terpenuhinya kepentingan
silaturahmi di AO disampaikan salah satunya oleh Pemenang Lomba Basket dari
IKAPIAR melalui sebuah video testimoni. Ia yang sekaligus merupakan anggota
Grup Basket Masisir menyampaikan terima kasihnya kepada panitia. Ia menyatakan
sikap dukungan kepada panitia dan menganggap bahwa, “Kami sebagai penghobi
basket dan ‘bro-bro’ Basket menganggap acara kemarin sebagai acara
silaturahmi, acara seru-seruan, dan bukan acara untuk mencari duit.” Maka sangat
disayangkan apabila pengkritik memandang ini sebagai kompetisi yang hanya
mempertandingkan almamater, mencari juara, lalu memberikannya hadiah uang.
Titik Konflik
Seperti umumnya Masisir—di PPMI,
Wihdah, Afiliatif, dan Kekeluargaan—ada kegiatan di IKPM yang tereksekusi
dengan sempurna, ada yang belum maksimal, ada juga yang kurang. Salah satu
kekurangannya adalah pemberian hadiah yang tidak besar. Mengartikan bahwa dalam
pencarian dana di luar registrasi, panitia belum maksimal. Sepakat.
Sayangnya, ekspektasi pengkritik
segera menjelma langit runtuh—sehingga ia ‘merasa’ harus mengutuk dunia dan
seisinya. Dalam opininya, ia menggambarkan betapa pemenang kecewa karena “penghargaan
yang diberikan oleh panitia penyelenggara atas cucuran keringat dan jerih-payah
mereka memenangkan lomba sungguh-sungguh jauh dari ekspektasi dan sama sekali
tidak sebanding dengan glorifikasi kegiatan yang dibesar-besarkan sejak
awal”.
Menurut prespektif Lingga Sastra
dan Edi Lukito, ukuran itu tidak sesuai. Dalam tulisan Edi Lukito, ia
memberikan perbandingan dengan Presiden Prabowo yang memberikan insentif Rp
465,25 miliar kepada atlet dan pelatih di SEA Games dan ‘memperkuat’ kritiknya
dengan mengutip UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.
Ia menulis, “Penghargaan pada
sebuah perlombaan mestinya disesuaikan dengan skala lomba tersebut. Dalam
perlombaan berskala internasional, penghargaan yang diberikan akan lebih tinggi
nilainya dibanding perlombaan berskala nasional … bahkan di setiap tempat dan
komunitas, terdapat standar kelayakan yang berbeda mengenai penghargaan.” Lantas
berapa hadiah untuk skala ajang silaturahmi antaralmamater Masisir yang
diekspektasikannya?
Bak pasang masuk muara, Edi
Lukito mudah memberikan qiyas ma’al fariq dan upaya intelektualitas
salah alamat dengan membawa UU Keolahragaan (sebagaimana yang disampaikan
Muhammad Fachry) tanpa menyebutkan standar yang layak dan disepakati untuk
skala organisasi almamater Masisir yang melibatkan pihak eksternal. Berkata kurang tapi tidak tahu
berapa ukuran yang pas. Ini mengindikasikan bahwa ekspektasi menggebu-gebu bin
subjektif membutakan mereka dari objektivitas dalam menilai kelayakan hadiah
dari AO—yang sedari awal memang bukan ajang ambisius.
Salah tangkapnya semakin terlihat
jelas saat Adiaramu menyikapi Surat Pernyataan Sikap yang diterbitkan oleh IKPM
Kairo. “Alih-alih mengklarifikasi, surat pernyataan sikap tersebut justru
menegaskan betapa penghargaan atas potensi dan bakat seseorang adalah hal
terbelakang,” ketusnya.
Ia melanjutkan, “Saya ulangi
bunyi poinnya, ‘Semangat kebersamaan merupakan prioritas kami di atas kompetisi
teknis semata.’ Garisbawahi kalimat ‘di atas kompetisi teknis semata!’ Maaf
jika saya harus mengatakan, ini begitu lancang.” Maaf juga jika harus
tersorot bahwa Adiaramu menganggap memprioritaskan kebersamaan ternyata belum
bisa memberi makan harapannya atas hadiah yang besar.
Dari keterangan resmi seputar
lomba dan komentar dari pengkritik, kita seakan mendapati ketidakcocokan.
Almamater Olympiad adalah kompetisi ambisius dari pandangan pengkritik,
sedangkan dari penyelenggara sendiri ia diniatkan untuk ajang silaturahmi. Pengkritik
memaksakan esensi ‘penghargaan bakat’ dari idealisme dan standar pribadinya,
sehingga ia menuntut acara apa adanya ini memberi hadiah besar.
Kecilnya hadiah yang diberikan
panitia memanglah kekurangan, tapi bukan kesalahan. Panitia dan IKPM secara
resmi sudah mengakuinya. Masalah ini ada di tahap layak atau tidak, bukan salah
atau benar. Namun, gaya penyampaian penulis opini yang berhiperbola dengan
bumbu agitasi menggiring pembaca untuk memahami bahwa tindakan panitia seakan
salah besar. Tidakkah jika dicermati, yang ia lakukan justru mengumbar cuitan cemooh sampah
berkedok argumen.
Sastra Suka Hiperbola
Sama seperti kritik Muhammad
Fachry atas tulisan Edi Lukito, tulisan Adiaramu mengandung unsur dramatisasi.
‘Eksploitasi’ adalah diksi yang dipilih dengan lancang seolah-olah dalam
tindakan panitia terdapat mens rea. Pemilihan kata itu tidak lain adalah
tudingan tanpa bukti, karena pengkritik sendiri hanya bisa menuliskannya dengan:
“jangan-jangan”. Opininya kehilangan marwah, karena masalah utamanya
adalah kinerja yang kurang maksimal, dan bukan kejahatan yang perlu
dibesar-besarkan.
Kesan berlebihan dan ekspektasi
yang dibesar-besarkan tidak dibuat oleh panitia. Penyelenggaraan acara yang
terkesan megah di matanya adalah hasil dari upaya untuk mengoptimalkan acara,
bukan bersombong-sombong dan glorifikasi dari internal. Ekspektasi besar datang
dari pihak pengkritik sendiri. It is you against yourself.
Selain penyematan tajuk “Grand”
pada “Opening” dan “Closing”, upaya mengundang Duta Besar, Staf KBRI, pihak PPMI
serta Wihdah juga merupakan upaya penyelenggaraan yang normal dilakukan di
mana-mana. Kenapa dianggap glorifikasi?
Masalah kehadiran tamu kembali ke pihak yang diundang, tidak bisa dipastikan panitia, serta tidak berarti kehadiran dari Dubes adalah glorifikasi seperti yang diklaimnya. Celoteh “Harumlah organisasiku!” beserta segala macam tuduhan tentang pemanfaatan almamater darinya adalah halusinasi sentimen subjektif yang dibuat-buatnya, dan tidak muncul sama sekali dari pihak penyelenggara. Jangan-jangan ia terlalu terbawa perasaan, sehingga kecewa dalam diri yang tak dapat ia taklukkan telah membutakan jarinya, sampai-sampai di ruang dialektika media Masisir ini ia hanya sanggup mengumbar sentimen sambil menampakkan kedangkalannya sendiri—seperti sikap yang ia tampakkan di media sosial.
Namun, di akhir perlu disepakati bahwa Panitia Almamater Olympiad IKPM Kairo ini memanglah benar-benar tidak becus, semata-mata karena setelah segala jerih-payah, mereka tetap saja tidak berhasil memenuhi ekspektasi Adiaramu Lingga Sastra, Edi Lukito, dan kawan-kawan! Demikianlah "hadiah" tambahan untuknya, semoga tidak kurang lagi.
Wa ‘ainu ridha ‘an kulli ‘aibin kalilatun
kama anna ‘aina sukthi tubdil masawiya
Editor: Ilmi Hatta Dhiya’ulhaq
(Foto diambil dari saluran WhatsApp resmi Informatika Mesir)


.png)

4 Komentar
Kelihatan banget, pemenang lomba itu terbiasa dengan judi perlombaan sehingga ingin balik modal.
BalasHapusYa roytt
BalasHapusSang penggila hiperbola tertipu oleh harapan yang hampa
BalasHapusademm
BalasHapus