Oleh: Athallah Zaki
Di antara perjalanan menuju kedewasaan, ada peperangan yang paling sunyi namun paling melelahkan yang akan kita hadapi, yakni perang melawan diri sendiri. Kita sering mendapati batin yang penuh kekhawatiran—takut gagal, takut kalah, takut tidak menjadi siapa-siapa. Kita resah ketika realita jauh dari ekspektasi, lalu bertanya-tanya mengapa rasa cukup begitu sulit dirasakan. Rasa selalu kurang dari orang lain selalu menghantui diri dan menyebabkan kekhawatiran tak berujung yang kerap membuat kepribadian seseorang menjadi tidak pernah merasa cukup dengan apa yang ia miliki saat ini. Padahal sering kali, rasa cukup itu hilang bukan karena kurangnya nikmat, tetapi karena hati belum berdamai dengan diri sendiri.
Dalam proses pendewasaan, kita perlu belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada saat ini, menghargai setiap upaya yang telah kita lakukan, mensyukuri hasilnya, dan menjadikannya dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Tapi faktanya yang marak terjadi kini adalah rasa cukup yang seharusnya dimiliki tiap orang disalahartikan bahkan ditinggalkan begitu saja. Sebagian ada yang mengartikan bahwa rasa cukup disini ialah mencukupkan diri bahkan pasrah dengan apa yang terjadi pada diri, tanpa upaya untuk berbenah dan memperbaiki. Juga sebagian yang lain beranggapan bahwa tiada yang dinamakan rasa cukup, karena mereka akan terus berupaya seolah berkompetisi agar tampak unggul dari individu lain.
Maka oleh karena itu muncul pertanyaan yang harus kita tanyakan lagi pada diri kita saat ini, bahwasanya kapan terakhir kali kita merasa cukup ?, bagaimana memaknai rasa cukup itu pada diri kita ?
Rasa cukup yang kerap kita pahami selama ini selaras dengan salah ajaran dalam agama Islam—yang diketahui sebagai Qana’ah. Dalam literatur Arab klasik, para ulama memberikan definisi yang sangat dalam. Imam Ibnu Qayyim menyebutkan“Qana’ah adalah ketenangan hati dalam menerima pemberian Allah, meskipun sedikit”. Sementara Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa “Qana’ah adalah menerima dengan rela apa yang ada, dan tidak tamak terhadap apa yang tidak ada”. Dalam psikologi modern pun konsep ini dikenal sebagai self-acceptance: sebuah penerimaan diri secara utuh, termasuk kekurangan, kesalahan, dan perjalanan hidup yang tidak sempurna. Orang yang memiliki self-acceptance lebih stabil emosinya, lebih jarang membandingkan diri, lebih mampu menikmati proses, serta memberi dan menerima cinta dengan sehat.
Menurut Buya Hamka, Qana’ah memiliki ciri khas yang dapat dijabarkan melalui lima komponen utama:
- Menerima dengan rela atas apa yang ada, tanpa rasa berat atau
gelisah.
- Memohon kepada Allah
Swt. atas tambahan yang
pantas, namun tetap menempatkan diri dalam batas syariat.
- Selalu berusaha maksimal sesuai kemampuan, tanpa pasrah secara
pasif.
- Menerima dengan sabar atas ketentuan Allah Swt. Termasuk ujian dan
keterbatasan.
- Tidak tertarik pada tipu daya manusia, tidak mudah terjebak pada keserakahan atau manipulasi dunia.
Saat kita menyandingkan pandangan para ulama dengan berbagai konsep dalam keilmuan modern, banyak hal yang dapat kita komparasikan dan tarik pelajarannya. Hingga pada akhirnya, kita akan tiba pada satu kesimpulan bersama bahwa esensi rasa cukup atau Qana’ah adalah self-acceptance yang disinari dengan cahaya iman dalam diri seseorang—yakni menerima diri dan takdir dengan tenang, tanpa berhenti berupaya dan berdoa.
Perlu kita ketahui juga bahwa rasa cukup sejati itu bukanlah hanya soal materi maupun pencapaian semata, tetapi juga soal batin. Hal ini terbukti dengan salah satu Hadits Rasulullah ï·º yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : “Kekayaan sejati itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa”.
Lalu, apa yang dimaksud dengan kekayaan jiwa? Seringkali kita salah memahami makna akan kekayaan tersebut, karena yang terlintas di benak kita kadang hanyalah materi maupun kedudukan. Padahal kekayaan sejati adalah apa yang terdapat dalam jiwa kita, berupa rasa cukup yang melahirkan ketenangan dalam diri serta senantiasa bersyukur akan nikmat Tuhan. Hadits ini pun menegaskan bahwa ketenangan tidak berasal di luar diri, melainkan ia tumbuh dari kemampuan kita menerima diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan berdamai dengan jalan hidup yang Allah SWT takdirkan untuk diri kita.
Maka hentikan membandingkan hidup dengan orang lain. Mungkin ada kalanya kita tersesat ketika membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Bukankah setiap jiwa memiliki rezeki, proses, dan ujian yang berbeda-beda ? Hidup ini bisa kita analogikan sebagai sebuah lintasan, yang di mana tiap jiwa itu berada di lintasannya masing-masing, jadi cukuplah bagi kita melaju di lintasan sendiri dengan penuh keyakinan. Memang ada masanya kita perlu belajar dari proses orang lain, akan tetapi refleksi yang benar bukanlah: "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?" Tetapi: "Apakah aku saat ini lebih baik dari diriku yang sebelumnya?"
Seseorang yang belum selesai dengan dirinya akan sulit untuk merasakan ketenangan, sulit merasa cukup dan sulit menerima kasih sayang yang datang. Selama seseorang belum merasa cukup, ia tak akan mampu mencintai dirinya sendiri. Dan bagaimana mungkin ia bisa mencintai orang lain dengan benar bila ia sendiri belum selesai dengan dirinya? Oleh karena itu rasa cukup dalam diri kita adalah pondasi cinta yang sesungguhnya— karena dengan hati yang cukup lah kita dapat memberi dengan lapang dan menerima dengan tenang. Hingga kelak akan tiba masanya kita meraskan cinta sejati, yakni mencintai juga dicintai baik cinta kepada sesama manusia maupun cinta kepada Tuhan semesta alam.
Pada akhirnya, rasa cukup bukanlah akhir dari perjalanan, ia adalah penunjuk arah yang menjaga kita agar tetap waras di tengah hiruk-pikuk dunia saat ini. Kita pasti tak mampu memilih apa yang datang dalam hidup, tetapi kita selalu mampu memilih bagaimana hati akan menyikapinya. Hidup akan terus berjalan dengan segala naik-turunnya. Namun hati yang Qana’ah tidak mudah goyah. Ia senantiasa kokoh meski badai menerjang, selalu tenang meski dunia berdesakan meminta perhatian.
Rasa cukup hakikatnya adalah seni mengikhlaskan tanpa menyerah, berharap tanpa menggenggam terlalu erat dan melangkah tanpa menoleh pada apa yang tidak ditakdirkan untuk diri kita. Ketika kita belajar berdamai dengan diri sendiri, kelak kita akan menemukan bahwa ketenangan bukan sesuatu yang kita kejar, tetapi sesuatu yang tumbuh dari dalam diri kita.
Semoga Allah SWT menanamkan di hati kita kekayaan yang tidak tergantung pada keadaan, kelapangan yang tidak hilang meski diuji sedemikian rupa dan keberanian untuk menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Karena pada akhirnya, hanya mereka yang hatinya cukup lah yang mampu berjalan paling jauh, dengan langkah yang ringan, jiwa yang merdeka dan pandangan yang selalu tertuju pada-Nya. Dan di titik itulah, kita benar-benar pulang. Bukan kepada dunia… tapi kepada diri sendiri yang akhirnya berdamai dengan keadaan.
0 Komentar