Oleh:
Maryam
Rahayu, begitulah
nama pemberian almarhum ibuku. Kata ibu, Rahayu memiliki arti kedamaian dan
keberkahan. Maka hadirku adalah berkah untuk bapak dan ibu. Seingatku dahulu
ketika ibu mengucapkan kalimat-kalimat itu aku selalu tersenyum bangga, merasa
jadi anak yang sangat dinanti-nantikan. Namun, kenangan itu pergi mengikuti
kepergian sosok ibu dari rumah. Dan lahirlah dia, Melati, adik bungsu
kesayangan bapakku.
Umurku dan Melati
terpaut jauh, sekitar 10 tahun. Ibu meninggal tepat beberapa menit setelah
melahirkan Melati. Maka sampai detik ini ulang tahun adik hanyalah kenangan
kelabu. Bukan tiup lilin maupun pesta undang tetangga, yang ada hanyalah
tangisan bapak dan makam ibu.
Hari itu ketika ibu
pergi, lorong rumah sakit terasa begitu panjang, gelap dan sunyi. Kursi kosong
terjajar rapi, tanpa ada satupun kerabat yang datang untuk memberi salam duka.
Keharmonisan keluarga kecil kami seakan runtuh dalam sekejap. Menguap tak tersisa.
Hatiku sangat perih
melihat bapak yang tampaknya masih menahan tangis di balik pintu. Ia berusaha
menghindariku agar aku tetap dapat melihatnya tegar. Dari kejauhan kupandangi
wajah pucat ibu, ia pergi dan tak akan pernah kembali. Hatiku pun ikut hancur.
Yang sangat kusesali, Melati hidup dengan wajah sangat mirip dengan ibu.
Terkadang itu yang membuat hatiku teriris mengingat kejadian tujuh tahun silam.
Pedih dan menyakitkan.
Melati tumbuh
seperti bayi pada umumnya. Kulitnya putih selembut susu, bulu matanya lentik,
bibirnya kecil merah bak bunga mawar baru merekah. Dua tahun setelah
kelahirannya, aku dan bapak pun mengerti, bahwa Melati spesial. Dia terlahir
sungguh spesial.
Di ulang tahunnya
yang pertama Melati tumbuh layaknya bayi normal. Waktu pun berlalu, bapak dan
aku menyadari Melati belum dapat berkomunikasi. Bapak selalu berucap, setiap
anak itu punya pertumbuhannya masing-masing, jangan khawatir, mungkin memang
adikmu terlambat.
Ternyata sampai
umur tiga tahun Melati tak kunjung dapat diajak berkomunikasi dua arah. Ia
dapat berceloteh dan bernyanyi seperti balita pada umumnya, tetapi untuk
menyerap perintah dan pertanyaan ia belum mampu. Maka bapak pun tersadar,
dengan keringat dingin kala itu bapak akhirnya memberanikan diri membawa adik
berperiksa ke dokter. Dan, yah ternyata adik memang spesial. Kata bapak bukan
berbeda tapi ia manusia spesial titipan Tuhan. Melati divonis terkena Cerebal
Palsy.
Sampai detik ini
istilah itu hanya berputar-putar dalam benakku, entahlah aku pun tak tahu
apakah itu penyakit berbahaya atau menular. Yang kutahu Melatilah penyebab ibu
tiada. Mirisnya setiap kepulanganku ke rumah hanya akan ia sambut dengan
senyuman sumringah dan pelukan hangat. Kata bapak, itu tandanya Melati sayang
Mbak Ayu. Namun apakah ia tahu apa artinya kasih sayang? Entahlah.
***
Hujan sore ini
sungguh menyatu dengan hatiku. Gelap dan kosong. Basah dan pengap. Perasaan
yang tak bisa kujelaskan dengan sepatah kata. Nilai ulangan harianku jauh dari
kata sempurna, jauh dari ekspetasiku sebelumnya. Namun ujian kenaikan kelas
sebentar lagi, banyak nilai yang harus kukejar untuk bisa masuk universitas
impianku. Apakah kali ini aku harus gagal lagi? Sedangkan satu tahun
lagi seharusnya aku akan terlepas dari kota sempit ini, meraih mimpi di ibu
kota. Mimpiku sejak lama.
Bapak adalah
pemilik warteg pinggir jalan. Kami hidup bertiga dengan saling mengandalkan.
Rumah kami tiga langkah di samping warteg milik bapak, rumah kayu yang masih
layak untuk dibilang tempat tinggal. Tetapi semakin besar aku pun merasa hidup
di pinggir jalan dengan kondisi seperti
ini sangat membuatku terganggu. Suara motor tiap malam tak khayal membuat tidur
malamku terusik. Sebab itulah tahun depan aku bertekad lulus ujian UMPTN demi
mengejar mimpi kuliah di ibu kota. Di sela kuliahku nanti, aku akan tetap
bekerja untuk menabung. Agar suatu saat aku dapat membeli rumah di ibu kota
sana kemudian membawa bapak dan Melati tinggal di rumah yang lebih layak.
“Yu! Rahayu!”
“Eh, iya kenapa?”
“Yah .... Rahayu
mah kerjaannya ngelamun terus,” ucap Tari di sampingku.
“Yuk pulang ah,
fiks ini hujannya ga akan berhenti kalau ditungguin aja,” tambahnya.
“Hmmm, ya sudah ayo
pulang. Memangnya kamu bawa payung, Tar?” tanyaku memastikan.
“Gampang! Ada,
punya si Udin,” jawab Tari lugas. Akupun bergegas membereskan barang-barangku.
kupercepat langkah agar dapat mensejajari langkah Tari. Hujan sore ini menjadi
saksiku memupuk mimpi untuk berani melangkah keluar dari kubangan ini.
***
Sesampainya aku di
pintu warteg milik bapak, kuedarkan mataku ke seluruh penjuru warteg. Warteg
bapak akhir-akhir ini lumayan ramai banyak pengunjung dari bapak-bapak Gojek
yang hanya pesan kopi dan nasi pecel itu sudah membantu pemasukan bapak.
“Assalamualaikum,”
salamku penuh syukur.
“Ada yang bisa Ayu
bantu, Pak?” tanyaku sopan sambil menelisik dapur.
“Wa’alaikum
salam, waduh Cah Ayu sudah pulang?” tanya bapak dengan senyum sumringah,
yang kujawab dengan anggukan.
“Sini bantu bapak
motongi timun, Nduk.”
Aku hampiri bapak
setelah melepas tas dan sepatu, berganti sandal. Kulihat Melati bermain tutup
botol dan karet di pojok dapur, ia
menghampiriku dengan senyuman, kupeluk balik pelukannya.
“Melati main sama
Mbak Ayu dulu ya? Bapak mau goreng ayam.”
“Sini, Dik,” ajakku
meng-iyakan perintah bapak.
“Adiknya suapin,
Mbak. Tadi belum mau makan siang, soalnya lari-lari di halaman belakang.”
“Ya pak.” jawabku
menurut.
Melati tumbuh
semakin besar. Umurnya sudah menginjak angka tujuh, tapi kata yang terucap dari
mulutnya tak kunjung dapat kami pahami.
Setiap kali Melati
demam tinggi bapak selalu khawatir dan bergegas membawanya ke dokter. Dan
setiap itu pula dokter akan menyarankan adik untuk masuk ruang terapi,
Fisioterapi khususnya. Kata dokter, agar otot-otot dalam mulutnya melentur dan
otot lainnya tidak ikut kaku. Namun,
bapak selalu tak bergeming.
Terapi sangat
memakan banyak uang. Penghasilan warteg bapak tidak mampu menanggung biaya
pengobatan terapi adik. Penghasilan bapak sebulan sudah sangat cukup untuk
memenuhi kebutuhan kita selama sebulan, dari makan sampai biaya sekolahku.
Jadi sampai detik
ini adik belum dapat penanganan khusus untuk penyakitnya. Bapak sudah sangat
berusaha banting tulang untuk kita, maka bulatlah tekadku untuk merantau.
Maafkan aku bapak, tahun depan bapak akan bebas dari aku.
“BRAKKK!!!” suara
itu datang dari arah dapur, seketika mengagetkanku. Aku bergegas menghampiri
dengan keringat dingin.
“Bapak!?” panggilku
setengah panik. Di sana bapak sudah tergeletak dengan wajah pucat .
“Pak! Bapak?”
ulangku beberapa kali sambil menggoyang-goyangkan badannya berharap ia bangun.
Tangannya dingin, matanya terpejam seakan ingin meninggalkanku. Jantungku
seketika berdetak lebih kencang. Kuperiksa pergelangan tangan bapak dengan
tertatih. Nadinya masih berdenyut, seketika tangisku tumpah. Beberapa
pengunjung ikut panik menghampiriku. Bapak dipindahkan ke kamar belakang.
“Bapak sepertinya
kecapekan, Neng, “ ucap salah satu pengunjung yang ku jawab dengan isak tangis.
“Biar bapak
istirahat, Neng. Kalau dilihat sepertinya bapak pingsan karna kecapekan.”
Pengunjung lain
ikut menenangkanku. Melati duduk disampingku dengan kosong, tapi sikap diamnya
kali ini menandakan ia khawatir. Ku kompres kepala bapak dengan sapu tangan
hangat. Aku periksa tiap inci tubuhnya, yang kudapati hanya lebam di bagian
kiri. Bagian yang menumpu tubuhnya ketika terjatuh. Setelah keadaan sekitar
membaik, satu persatu pengunjung mulai berpamitan.
“Makasih ya, Mang.
Sudah mau bantu Ayu angkat bapak tadi,” ucapku dengan halus.
“Nanti kalau bapak
belum siuman setelah satu sampai dua jam, kabari ya neng, mungkin kita bisa
bantu,” ucap salah satu pengunjung.
“Iya, Neng. Bapak
itu sudah kaya saudara kita sendiri,” tambah yang lain meyakinkan.
“Iya, Mang,”
jawabku dengan anggukan.
Satu persatu
pengunjung meninggalkan warteg. Kamar warteg terasa sepi, Melati duduk
disampingku dengan mata sayup, tanda ia sudah mengantuk. Kuelus perlahan
dahinya dengan tenang, kurebahkan ia di samping bapak. Matanya terpejam dengan
damai.
“Yang sabar, Dik.
Kita tunggu bapak yah,” Lirihku, ia pun terlelap.
Aku tetap setia
duduk di samping bapak. Kupegangi tangan dinginnya, sesekali kuganti kompresan
air panas di atas dahinya.
“Bapak, bangun ....
Jangan tidur kelamaan,”ucapku lirih. Seketika pandanganku buram. Aku tertidur.
***
Angin malam
berhasil mengusik tidurku, samar-samar terdengar suara lirih. Mataku mulai
berkedip menyesuaikan lampu, ada tangan yang menggenggamku. Aku terkaget
setengah berdiri.
“Bapak?! Bapak?!”
teriakku panik. Badan bapak mengejang di atas kasur. Kupegangi dahinya, suhu
tubuhnya meningkat drastis. Aku bergegas mengambil ponsel di sampingku.
Kutelepon semua orang yang sekiranya dapat membantuku. Tanganku bergetar takut.
Seluruh nomer dalam kontak kuhubungi. Aku tak boleh terlambat.
Ambulan datang lima
menit setelah kuhubungi. Tetangga sekitar rumah ikut panik melihat kondisi
bapak, beberapa ada yang membantu menenangkanku. Sementara Melati kutinggalkan
di rumah salah satu tetangga. Selama perjalanan hatiku terasa kelu. Bapak harus
bertahan.
“Gredek ....” bunyi
brankar rumah sakit keluar dari ambulan. Badan bapak mulai stabil setelah dapat
penanganan darurat dalam ambulan, namun wajahnya masih terlihat begitu pucat.
“Bapak ....”lirihku
sambil terisak.
Brankar itu
langsung dibawa ke ruang IGD untuk menerima penanganan. Tanganku gemetaran
menunggu. Kulihat beberapa pasien mondar-mandir membawa infus. Hatiku mengecil.
Cuma doa-doa yang bisa kurapalkan berharap agar bapak masih dalam kondisi baik.
“Ceklek ....” suara
pintu IGD memecah keheningan. Aku bangkit dari dudukku. Mataku perih, tak kuasa
membendung isakanku. Seorang dokter keluar ruangan dengan tenang.
“Siapa wali dari
bapak Slamet?” tanya dokter tersebut memastikan. Aku maju tanpa ragu.
“Bagaimana kondisi
bapak saya, Dok?” tanyaku terburu.
“Selain Mbaknya
apakah ada wali lain?” tanya dokter tersebut dengan ragu. Memastikan apakah ada
wali orang dewasa selain aku.
“Belum ada, Dok.
Bibi saya masih dalam perjalanan. Apakah bisa dokter sampaikan dulu keadaan
bapak saya? Nanti saya sampaikan ke kerabat saya.” jawabku bohong.
Reflek kata-kata
itu akhirnya keluar dari mulutku demi mengetahui kondisi bapak saat ini. Dokter
itupun mengangguk dengan sedikit ragu.
“Ikuti saya ke
ruang dokter,” perintahnya dengan lembut.
Aku mengekor
di belakang dokter tersebut. Dokter Budi, begitu nama di atas nametag-nya.
Dalam ruangan itu perasaanku campur aduk, antara bersyukur karna kemungkinan
bapak sadar masih besar dan sangat sedih karna bapak terserang penyakit
meningitis akibat bakteri, penyakit yang bisa dibilang cukup berbahaya.
Dokter menjelaskan
panjang lebar penyakit yang bapak alami dan ternyata setiap jam keterlambatan
pemberian antibiotik bisa meningkatkan risiko kematian. Hatiku semakin
menggigil mendengarnya. Karena nyawa bapak sebagai taruhan.
Setelah kondisi
bapak sudah stabil, bapak dipindahkan ke ruang rawat inap. Bapak tak kunjung
siuman. Perasaanku semakin gelisah mengingat Melati kutinggalkan dirumah Bu
Siti tetangga seberang warteg.
“Kriiing!!”
notifikasi ponselku berbunyi.
“ Iya bu?” angkatku
setelah melihat nama Bu Siti di layar ponsel.
“Gimana kabar
bapak, Neng? “
“Semoga lekas
siuman. Ini Melati biar sama saya saja dahulu, neng Ayu jagain bapak saja.
Nanti kalau sudah baikan kondisinya, barulah kesini,” ucap Bu Siti menenangkan
kegelisahanku sesaat.
“Mohon maaf ya, Bu.
Merepotkan malam-malam. Besok pagi saya tengok Melati. Doakan bapak agar cepat
siuman ya,” ujarku berusaha tegar.
“Semoga bapak
segera membaik ya, Nak. Bisa nemani nak Ayu dan Melati.”
“Adik lagi ngapain,
Bu siti?” tanyaku khawatir.
“Ini lanjut tidur
di ruang TV.”
“Syukurlah, tidak
merepotkan. Terima kasih, Bu .”
Kututup ponselku
setelah yakin adik aman dalam penjagaan orang. Ketika malam, Melati lebih dapat
dikondisiskan daripada pagi hari. Baterai tubuhnya cenderung lebih aktif dari
seusia anak pada umumnya. Hal itu yang terkadang
membuat aku kelimpungan menemani dia bermain.
Kondisi adik yang cerebal
palsy juga menyebabkan ia sukar mengekspresikan rasa sakit. Terkadang ia
terjatuh atau terluka tanpa menangis dan mengadu, tiba-tiba datang dengan
kondisi sudah bedarah. Hal tersebut membuat bapak khawatir ketika melihat dia
bermain di halaman belakang tanpa pengawasan dari orang lain.
Kondisi bapak saat
ini membuat aku berpikir keras bagaimana menjalani hari. Karena bapak dan ibu
dahulunya kawin lari membuat kami tak memiliki kerabat selain satu sama lain.
Hal itu juga menjadi pemicu mengapa seluruh keluarga besar tak satupun peduli dengan
kondisi ekonomi bapak, ataupun kondisi Melati yang butuh perawatan lebih.
Sungguh malang nasib kami. Apakah tuhan masih mau berpihak kepada kami?
Kuharap begitu.
***
Cahaya mentari
siang ini berperang dengan awan gelap cumulonimbus, tampaknya hujan akan turun.
Bapak sudah menginjak dua hari tak sadarkan diri di rumah sakit. Kondisinya
stabil, tetapi ia tak kunjung siuman. Seperti ada mimpi panjang yang membuat
bapak betah dalam tidurnya.
Kemarin saat Bu
Siti menyampaikan bahwa ia bersedia dititipkan Melati sampai bapak pulih,
hatiku mengerang mendengarnya. Ternyata tak mudah mendaki bukit permasalahan
kali ini. Tak akan kubiarkan kondisi ini berlarut-larut. Aku harus kuat, topan
ini hanya sekejap.
Lima hari terakhir
ini kujalani penuh peluh. Karena beberapa telepon dari wali kelas membuatku
memutuskan untuk masuk sekolah, sungguh melelahkan.
Malam ini
kuputuskan tidur dirumah bersama Melati, ia sudah pulas tertidur di sampingku.
Cuaca saat ini sungguh mendukung penyakit menyebar. Tak khayal tubuhku ikut
hanyut dalam pancaroba cuaca.
Melati memelukku
dengan erat, dalam tidurnya mungkin terdapat insting ia merasa akan
kutinggalkan lagi pagi hari. Warteg milik bapak terpaksa aku tutup, semenjak
bapak masuk rumah sakit banyak pekerjaan yang membuatku tak sanggup melayani
pengunjung. Dalam sehari aku dapat melahap makanan dengan tenang saja itu sudah
lebih dari cukup.
“Jangan lelah ya,
Dik,” ucapku lirih tepat disamping telinga Melati. Sebelum mataku rapat
terpejam, suara nyaring datang dari ponselku. Tertera dalam layar nomer tidak
diketahui. Kuangkat telpon dengan ragu.
“Maaf, bersama Mbak
Rahayu?” terdengar orang bertanya dalam panggilan.
“Iya, maaf ada apa
ya?” tanyaku penasaran.
“Maaf sebelumnya,
ini kami dari resepsionis rumah sakit ingin mengabari bahwa tekanan darah
pasien turun drastis. Sekarang masih dalam masa penanganan di ruang ICU.” Aku
tak bergeming.
“Dimohon
kehadirannya untuk tanda tangan surat persetujuan tindakan medis sebagai wali
pasien.”
Kututup ponselku
dengan kasar. Ku tengok jam sudah menunjukkan pukul 23.00, membuatku terpaksa
menggandeng Melati naik dalam taxi menuju rumah sakit tempat bapak dirawat.
Sesampainya di
rumah sakit salah satu staf memberi petunjuk menuju ruang ICU. Tidak lama
kemudian, pintu ICU tebuka.
“Ceklek ....” suara
pintu ruang ICU.
“Mbak Rahayu?”
tanya seseorang yang baru keluar dari ruangan tersebut. Lalu kujawab dengan
anggukan ragu. Firasatku buruk entah mengapa.
“Maafkan kami, Mbak
Rahayu ....” Hatiku hancur. Seperti pecah menjadi sekian ribu kepingan. Beginikah
rasanya ditinggalkan? Apakah ini yang selama ini bapak rasakan ketika ditinggal
ibu?
“Maafkan kami,
Mbak. Kami belum dapat menyelamatkan nyawa bapak Slamet.” hatiku semakin kelu
mendengarnya. Seketika telingaku mendengung. Kepalaku pusing.
Dokter tersebut
menjelaskan panjang lebar penyebab bapak meninggal, tetapi tak satupun
kenyataan itu membenarkan bahwa bapakku telah pergi.
Ternyata
kehadiranku kali ini hanya untuk melihat kepergian bapak. Terkadang hal yang
paling menyakitkan tak dapat membuat kita menangis. Seperti hati yang
tercincang, mataku pun ikut mengering. Dokter tersebut akhirnya meninggalkanku.
Sepeninggalannya,
aku tatap lekat Melati yang dengan girang berceloteh di lorong rumah sakit.
Apakah ia sadar ini tak mudah bagiku? Kutarik tangan Melati kasar, salah satu
staf mengantar kami tuk mengucapkan selamat tinggal kepada bapak. Bapak kami
tercinta.
“Pak .... Pak ....
Pak ....” celoteh Melati dengan nada girang, yang ia pahami itu adalah
bapaknya.
Tangan Melati
mengusap-usap wajah bapak, mataku kelu melihatnya. Aku tak kuasa membendung air
mata. Akhirnya air mata ini tumpah. Tangisannku menghiasi ruangan.
Melati setia
berceloteh dan tertawa disamping brankar bapak, seakan sedang menceritakan
hal-hal membahagiakan yang telah ia lalui beberapa hari terakhir.
Beberapa suster
dalam ruangan pun ikut tercengang menyaksiakn pemandangan mengharukan ini.
Entahlah, hatiku berkecamuk. Momen yang sungguh menyedihkan ini membuatku
sedikit kesal. Aku pun tidak tahu amarah dari mana yang datang.
Kuhampiri brankar
bapak, kuusap kepalanya penuh rindu. Tak kuasa aku memandang wajah teduh itu,
tangisku semakin pecah. Kuciumi dahi dan pipinya untuk terakhir kali.
“Bapak .... Kenapa
bapak tega ninggalin kita?” sesakku dalam ruangan.
“Bapak ....”
suaraku tertahan.
***
Musim kali ini
berganti begitu cepat. Entah mengapa hujan sudah tak pernah turun, membuatku
sadar bahwa bapak tak akan selamanya bersama kami. Tetapi kenyataan itu tak
kunjung membuatku sadar bahwa kepergian bapak harus diikhlaskan. Aku memutuskan
untuk putus sekolah. Sudah tidak ada mimpi yang mau kucapai. Hidupku hanya
penuh penderitaan.
Aku dan Melati
sedang berada di stasiun kereta api. Aku berniat bepergian, mungkin dapat
membuat rasa sedihku terobati.
Ia duduk tepat di
sampingku. Matanya menatap pemandangan di luar kereta. Melati menikmati
pemandangan. Lain halnya dengan diriku, melihat keramaian membuatku semakin
merasa sendirian. Aku merasa tak ada yang memihakku. Aku merasa hanya anak yang
ditelantarkan.
“Ting ....” Bunyi
kereta tanda telah tiba di stasiun berikutnya.
Kugenggam tangan
Melati kasar. Entah mengapa hatiku terasa berat, berat sekali. Di tengah jalan
Melati melepaskan gandengan, melihat ada bola yang menggelinding, fokusnya pun
terpecah. Kesabaranku habis. Seketika mataku berlinang, Melati tetap terobsesi
mengejar bola tadi. Badanku bergeming tak mengejarnya. Tanpa sadar aku berlari
hendak meniggalkan stasiun berharap ada yang mau melihatku barang hanya
seorang. Tiba-tiba kakiku tersandung.
“Ahhh ....” Aku
terjatuh disamping pintu keluar. Air mataku semakin deras.
Kuputuskan duduk di
pinggiran petak taman kecil. Kupeluk kakiku sambil tergugu. Berjam-jam aku
menangis bagaikan anak hilang. Dengan tega kutinggalkan adikku tetapi hatiku
merana memikirkannya.
Ia beban bagiku,
memperlambat seluruh pekerjaanku. Andai bisa kuucapkan langsung betapa bencinya
hatiku melihat wajahnya. Bapak sudah tak ada, kemudian apa yang membuatku tetap
mengasihinya. Pikiranku berputar-putar tak berujung
“Mbak .... Mbak
....” Seketika ada seseorang yang menyentuhku. Aku terdiam.
Aku angkat kepalaku
sedikit, demi tahu siapakah ia. Ternyata di depanku muncul wajah mungil Melati.
Matanya penuh berlinang air mata. Oh Tuhanku, apakah memang ia penyelamatku?
Tak habis pikir ia
akan menemukanku setelah berjam-jam aku meninggalkannya. Hatiku kelu, tak kuasa
kupeluk ia dengan erat. Ia juga menangis tersedu. Inikah yang dinamakan
hubungan saudara? Penuh luka dan kasih sayang.
TAMAT
***
0 Komentar