Oleh: Nur Afifah Auliyak
Radikal bebas
adalah molekul tidak stabil yang dapat merusak sel tubuh manusia.
Ketidakstabilan ini terjadi karena molekul ini memilki satu atau lebih elektron
tidak berpasangan, sehingga sangat reaktif dan cenderung berinterkasi dengan
molekul lain untuk mencapai stabilitas.
Radikal bebas
dihasilkan dari proses alami dalam tubuh dan bersumber dari lingkungan sekitar.
Radikal bebas tidak akan berbahaya jika keseimbangannya dengan antioksidan
terjaga. Namun, jika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk
menetralkannya, hal ini dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan sehingga
menimbulkan berbagai macam penyakit serius seperti kanker, penyakit autoimun,
penyakit jantung, katarak dan penyakit degeneratif lainnya. Keadaan ketika
jumlah radikal bebas lebih banyak daripada antioksidan dinamakan stres
oksidatif.
Radikal bebas
yang bersumber dari luar tubuh manusia di antaranya paparan asap rokok, polusi udara,
ultraviolet dari sinar matahari dan konsumsi makanan ultra-proses (UPF). Nitric
oxide dan nitrogen dioxide pada asap rokok merupakan zat radikal
bebas, yang termasuk dalam reactive nitrogen species (RNS) berperan
dalam memicu stres oksidatif. Karbon monoksida dan nitrogen dioksida merupakan
polutan udara utama dari emisi kendaraan dan industri yang berpotensi
menimbulkan stres oksidatif. Konsumsi UPF berkontribusi terhadap stres
oksidatif melalui peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species).
Tubuh manusia
memproduksi antioksidan sebagai mekanisme alami tubuh untuk menangkal radikal
bebas. Di luar tubuh, antioksidan dapat diperoleh dari makanan dan suplemen.
Berbagai jenis sayuran mengandung senyawa bioaktif yang memiliki fungsi
antioksidan. Senyawa bioaktif seperti vitamin E, vitamin C, flavonoid, dan karotenoid berperan sebagai antioksidan yang membantu tubuh
menetralkan radikal bebas.
Dengan
meningkatnya paparan faktor prooksidatif seperti polusi, asap rokok dan
konsumsi makanan ultraproses, diperlukan upaya perventif melalui peningkatan
asupan antioksidan untuk mencegah stres oksidatif. Oleh karena itu, pembahasan
mengenai jenis-jenis senyawa bioaktif dalam sayuran dan perannya sebagai
antioksidan menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut.
Radikal Bebas
dan Sumbernya
Oksigen
merupakan unsur penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Seluruh sel tubuh
manusia membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi (ATP) yang dipakai untuk
menjalankan fungsi sel. Ketika sel menggunakan oksigen untuk menghasilkan
energi, radikal bebas terbentuk sebagai zat sisa dari proses pembentukan ATP
(energi sel) di mitokondria. Zat sisa ini umumnya berupa ROS (Reactive Oxygen
Species) dan RNS (Reactive Nitrogen Species) yang muncul dari proses
kimia di dalam sel.
ROS dan RNS
memiliki peran ganda, yaitu dapat bersifat fisiologis yang menguntungkan maupun
patologis yang merugikan. Keseimbangan antara keduanya merupakan faktor penting
dalam menjaga homeostasis tubuh.
Dalam jumlah
kecil atau sedang, ROS dan RNS berperan dalam mendukung fungsi seluler serta
respon sistem imun. Namun pada jumlah yang berlebihan, keduanya dapat memicu
stres oksidatif, yaitu kondisi yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada sel
stubuh.
Sumber ROS
dari luar tubuh seperti radiasi, terapi antikanker, merokok, ultraviolet dari
sinar matahari, konsumsi alkohol, dan obat-obatan tertentu. Sumber ROS eksogen juga
mencakup konsumsi daging asap serta penggunaan obat yang mengandung metal
seperti cyclosporine, bleomycin, gentamycin dan lainnya.
Merokok merupakan salah satu sumber utama ROS dan diketahui dapat memengaruhi saluran pencernaan. Diperkirakan bahwa satu hisapan rokok mengandung sekitar 1015 radikal bebas dari berbagai jenis.
Radikal Bebas dan Aterosklerosis
Aterosklerosis adalah penumpukan
plak lemak dan peradangan yang terjadi pada arteri mengakibatkan penyempitan
dan pengerasan pada pembuluh darah. Faktor pemicu terjadinya aterosklerosis di antaranya
hipertensi, diabetes, rokok, LDL (Low Density Lipoprotein) tinggi dan
radikal bebas.
Pembuluh darah yang
rusak akan mengakibatkan LDL terperangkap di intima arteri. LDL yang
terperangkap kemudian mengalami oksidasi oleh ROS menjadi oxidized LDL
(oxLDL). OxLDL ini bersifat proinflamasi, menarik sel makfrofag dan memicu
pembentukan foam cell yang akhirnya menyebabkan aterosklerosis.
Aterosklerosis juga dipicu oleh oksidasi pada PUFA (poly unsaturated fatty acid). PUFA memilki ikatan rangkap jadi lebih mudah teroksidasi dibandingkan saturated fatty acid. Oksidasi pada PUFA disebut dengan PUFA lipid peroxide, ini dapat menyebabkan kerusakan degeneratif pada mata dan meningkatkan resiko aterosclerosis.
Radikal Bebas dan Kanker
Kanker adalah penyakit
yang ditandai oleh berkembangnya sel-sel abnormal yang berkembang secara tidak
terkendali dan memilki kemampuan untuk menyusup serta merusak jaringan tubuh
normal.
Radikal bebas bisa
merusak DNA dan menyebabkan perubahan pada kromosom. Kerusakan ini dapat
membuat gen yang mengatur pertumbuhan sel (onkogen) menjadi aktif secara tidak
normal. Salah satu kerusakan yang sering terjadi adalah perubahan pada basa DNA
akibat penambahan gugus -OH (hidroksil). Perubahan ini memulai proses
terbentuknya kanker akibat zat kimia.
Contohnya, merokok dan peradangan lama akibat paparan asbestos bisa merusak DNA karena proses oksidasi. Kerusakan ini dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker paru-paru dan jenis tumor lainnya.
Antioksidan dan Klasifikasinya
Tubuh kita punya cara
untuk melawan kerusakan akibat radikal bebas dengan membuat zat yang disebut
antioksidan. Antioksidan ini bisa dibuat oleh tubuh atau didapat dari makanan.
Fungsinya adalah menetralkan radikal bebas yang berlebihan, melindungi sel-sel
tubuh dan mencegah terjadinya penyakit.
Antioksidan
terklasifikasi menjadi antioksidan enzimatik dan antioksidan non-enzimatik. Antioksidan
enzimatik diproduksi di dalam tubuh, secara langsung menetralkan radikal bebas
(ROS dan RNS). Antioksidan enzimatik diantaranya adalah superoxide dismutase,
katalase, glutathione peroxidase and glutathione reductase.
Antioksidan non
enzimatik dibagi menjadi antioksidan metabolik dan antoksidan nutrisi. Antioksidan
metabolik yang diproduksi oleh tubuh diantaranya lipoid acid, glutathione,
L-arginin, melatonin, uric acid dll. sedangkan antioksidan nutrisi tidak
diproduksi oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan atau suplemen, seperti
vitamin E, Vitamin C, karotenoid, selenium, zinc, flavonoids, omega 3 dan omega
6 dan lain-lain.
Vitamin E
Vitamin E secara alami
terdapat dalam beberapa jenis makanan, juga dapat ditambahkan ke produk pangan
tertentu, serta tersedia dalam bentuk suplemen. Vitamin E merupakan senyawa
yang larut dalam lemak dan memilki fungsi utama sebagai antioksidan.
Di antara makanan yang
mengandung vitamin E adalah kacang almond, kacang Hazel, sayur bayam, tomat,
mangga, dan minyak bunga matahari. Sebagian besar Suplemen vitamin E umunya
hanya mengandung alpha-tocopherol sebagai komponen utamanya. Akan tetapi
beberapa produk juga diformulasikan dengan campuran tocopherol dan tocotrienol.
Vitamin C
Vitamin C atau asam
askorbat (AsA) adalah senyawa organik alami yang memiliki sifat antoksidan dan
ditemukan pada hewan dan tumbuhan. Vitamin ini berfungsi sebagai redox buffer,
sehingga mampu menetralkan spesies oksigen reaktif (ROS).
Makanan tinggi kandungan vitamin C di antaranya jambu, melon oranye, kiwi, lemon, pepaya, stoberi, dan brokoli. Selain memiliki fungsi sebagai antioksidan, vitamin C juga membantu dalam kerja fungsi sistem imun, produksi neurotransmitter, sintesis kolagen, penyakit kardiovaskular dan penyembuhan luka.
Karotenoid
Karotenoid mengandung
senyawa bioaktif antioksidan yang terdapat pada buah dan sayuran, senyawa ini
berperan dalam mentralisir radikal bebas di dalam sel, sehingga dapat menimalisir
kerusakan oksidatif dan menurunkan kemungkinan munculnya penyakit terkait.
Sayuran dan buah yang
mengandung senyawa karotenoid adalah sayuran berdaun hijau seperti sawi, labu
kuning, wortel, tomat, paprika merah dan jeruk. Buah dan sayuran ini mengandung
senyawa karotenoid seperti lutein, beta
carotene, alpha carotene, lycopene, capsantin.
Flavonoid
Flavonoid adalah
senyawa yang terbukti bermanfaat bagi tubuh manusia dalam mengurangi resiko
penyakit kardiovaskular, diabetes, beberapa jenis kanker dan inflamasi.
Flavonoid memilki enam jenis diantaranya adalah Flavonols, Isoflavones,
Flavanones, Flavanols, Anthocyanins, dan Chalcones.
Selain dari suplemen
flavonoid, beberapa jenis makanan memilki kandungan flavonoid diantaranya
golongan berries seperti blueberries, cherries, raspberries, kubis
ungu, bawang bombai, teh (teh hijau, oolong, hitam), coklat hitam, buah jeruk,
anggur, lemon, dan kacang kedelai.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya manfaat flavonoid pada kesehatan otak, dapat meningkatkan fungsi otak dan meningkatkan memori. Flavonoid juga diketahui berperan sebagai antibakterial dan antivirus. Banyak penelitian laboratorium menunjukkan peran flavonoid dalam melawan H1N1 flu, HIV, SARS, dan RSV virus
Kesimpulan
Radikal bebas secara
fisiologi mempunyai manfaatbagi tubuh dalam membantu sistem pertahanan tubuh
dalam melawan pathogen. Namun jika jumlahnya berlebihan, radikal bebas dapat
memicu berbagai macam penyakit seperti aterosklerosis, kanker, dan penyakit
mata degeneratif. Radikal bebas terus diproduksi oleh tubuh sebagai hasil alami
dari reaksi kimia metabolisme sel dalam menghasilkan energi (ATP). Selain dari
dalam tubuh radikal bebas juga terdapat di lingkungan seperti ultraviolet dari
sinar matahari, asap rokok, polusi udara hasil dari emisi asap kendaraan dan asap
pabrik industri.
Antioksidan berperan
dalam menetralisir radikal bebas di dalam tubuh. Antioksidan diproduksi secara
alami dalam tubuh manusia, di antaranya adalah antioksidan enzimatik seperti enzim
superoxide dismutase, katalase, glutathione peroxidase and glutathione
reductase. Sedangkan lipoid acid, glutathione, L-arginin, melatonin, uric acid
adalah golongan antioksidan non-enzimatik yang juga diproduksi dalam tubuh.
Manusia senantiasa
terpapar radikal bebas yang bersumber dari lingkungan sekitar. Dengan demikian tubuh manusia perlu
mendapatkan cukup antioksidan untuk menetralisir radikal bebas tersebut.
Mengkonsumsi makanan mengandung banyak antioksidan adalah Solusi melawan
radikal bebas yang berlebih. Antioksidan nutrisi yang terdapat pada buah dan
sayuran diantaranya vitamin E, Vitamin C, karotenoid, selenium, zinc,
flavonoids, omega 3 dan omega 6 dan lain-lain. Mengkonsumsi suplemen, buah dan
sayuran kaya akan antioksidan dapat mencegah penyakit degeneratif dan penyakit
kronis dengan tingkat mortalitas yang tinggi.
Referensi
Stephen T sinatra, J Demarco. Free radicals,
oxidative stress, oxidized low density lipoprotein (LDL), and the heart:
antioxidants and other strategies to limit cardiovascular damage. Connecticut
medicine, 59, 579, 1995.
M. Valko, H.Morris, M.T.D. Cronin. Metals, toxicity
and oxidative stress. Current Medical chemistry, 2005, 12, 1161-1208.
Wulf Droge. Free radicals in the physiological
control of the cell function. 2001.
William A pryor. Cigarette smoke radicals and
the role of free radicals in chemical carcinogenicity. Environmental health
perspective. Vol 105, supplement 4, Juni 1997. Hal 877
Fadime Pehlivan. Vitamin C: An antioxidant
agent. 2 agustus 2017.
Caroline Hill, MHumNutr, BSc, Erin Kelly. 20
foods that are high in Vitamin C. 20 mei 2025.
NIH. Carotenoids: Diatery Sources, Extraction,
Encapsulation, Bioavailibility, And Health Benefits-A Review Of Recent
Advancements.2022
NIH. Free radicals, antioxidants in disease and
health. 2008
NIH.. Reactive oxygen species, toxicity,
oxidative stress and antioxidans: chronic disease and aging. 2023
NIH. Vitamin E. 2021
Dr. budiyanto MARS, halodoc.radikal bebas:
pengertian, dampak dan cara mencegahnya. 13 agustus 2025
Dr. Gracia Fensynthia, alodokter. Radikal
bebas, inilah sumber dan dampaknya bagi Kesehatan. 15 agustus 2025
WebMD. Top Foods High In flavonoids. 8 agustus
2025.

0 Komentar