Header Ads Widget

Darussalam Catering

Esensi Kedamaian Gontor

Oleh : Muhammad Massuyadi 

“Al A’do’, istayqidzuu minan nauum”

Kalimat pertama yang menandakan hari yang baru dan mulainya aktivitas. Jaros yang berbunyi teng, teng, teng … kegiatan bahasa seperti ilqo’ mufradat dan muhadatsah, lari pagi, masuk kelas, shalat berjamaah, belajar malam, bahkan ada beberapa yang jaga malam, semuanya mengisyaratkan bahwasannya Pondok Modern Darussalam Gontor itu sangat padat dengan kegiatan, tidak pernah berhenti. Intensitas kehidupan santri Gontor sangat tinggi, aktivitas dimulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Sirkulasi kegiatan santri sudah terstruktur secara  masif, rapi dan apik. Sejak bangun tidur santri sudah tahu kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan hingga bertemu lagi dengan kasur busa di depan lemari kecil untuk tidur lagi. Bahkan para santri sudah diajari untuk mengatur hidup mereka untuk kedepannya.

Namun di tengah zaman sekarang yang mengidentikkan kedamaian dengan sepi dan sunyi, Pondok Gontor justu menghadirkan kedamaian yang berbeda dengan yang lain. Sebuah kedamaian yang diiringi dengan berbagai aktivitas mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Di balik kata Darussalam yang berarti kampung damai sebagai nama resmi Pondok Modern Darussalam Gontor, muncul pertanyaan: Bagaimana Gontor memaknai kedamaian dengan aktivitasnya yang begitu padat dan bagaimana cara merealisasikannya?

Landasan pemilihan nama Darussalam sangat kuat dan kokoh, karena nama ini diambil Al-Qur’an sebagai salah satu dari nama surga yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa, “Dan Allah menyeru kepada (surga) Darussalam…” (QS. Yunus : 25). Dalam sebuah atsar yang sahih juga diterangkan bahwa ketika malaikat Jibril AS menyampaikan salam dari Allah kepada Khadijah RA, melalui Nabi Muhammad SAW, Khadijah al-Kubra menjawab “Allahumma anta Assalam wa minka Assalam, wa ilaika ya’udu Assalam, Fahayyina Rabbana bi Assalam, wa adkhilna al-jannata Darussalam…” Doa ini kemudian bisa kita baca seusai salat fardhu. Nama Darussalam juga sangat identik dengan karakter ajaran Islam itu sendiri, yaitu berserah diri kepada Allah yang juga mengandung makna kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan.

Pendiri Gontor memilih nama Darussalam untuk pondok ini sebagai harapan dan cita-cita agar pondoknya benar-benar bernuansa surgawi, penuh kedamaian dan ketentraman bagi para penghuninya. Hal ini juga mengandung pesan agar semua penghuni Darussalam mempunyai akhlak penduduk surga, berhati bersih (qolbun salim), jauh dari hasad, iri dengki, dan dendam kepada sesama.

Selain itu makna kedamaian juga tercermin di dalam sintesa Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu Santiniketan, India yang terkenal dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya.

Perdamaian merupakan cita-cita suci. Maka dari itu, kita dapat melaksanakannya mulai dari arti sesempit-sempitnya sampai kepada arti yang seluas-luasnya. Di Pondok Modern Darussalam Gontor, santri berkumpul, bergaul dan berlatih melaksanakan firman Allah SWT, “Kami jadikan kalian berkaum-kaum dan kabilah-kabilah untuk saling mengenal antara yang satu dengan yang lain.” Hidup aman dan damai dengan teman sebangsa yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air, seagama dan bersatu dalam satu ikatan satu guru yang akhirnya memiliki satu tujuan, satu cita-cita, satu idaman, yaitu ke arah perdamaian.

Melalui spirit Darussalam, Pondok Modern Gontor memulai perdamaian menuju ke arah yang seluas-luasnya, sesuai apa yang ingin dicapai Trimurti. Spirit tersebut terealisasi dengan:

1.      Ukhuwah Islamiyah

Tertanamnya ukhuwah Islamiyah kepada keluarga besar pesantren, guru, santri, wali santri dan para alumninya, kemudian meretas dan menembus ke segala jaringan Gontor. Solidaritas ini mutlak diperlukan untuk mentransformasi nilai-nilai luhur ajaran Islam kepada masyarakat, dalam rangka mempercepat proses pembentukan masyarakat madani.

Proses penanaman ukhuwah Islamiyah di Gontor melewati berbagai cara dan sarana. Ketika santri masuk ke pondok, mereka harus melepaskan baju golongannya, meninggalkan bahasa daerah, hingga simbol-simbol yang berupa kaos, stiker dan segala macam tulisan yang berbau sektarianisme, agar tidak menjadi bibit fanatisme, perpecahan dan perselisihan. Selanjutnya santri meleburkan diri di kelas dan kamar bersama teman-teman lainnya yang berasal dari berbagai daerah. Tidak dibenarkan berkumpul dengan sesama teman dari daerah sendiri. Melalui dinamika kegiatan yang banyak di berbagai bidang, santri akan saling mengenal, bertambah akrab, mempunyai kebersamaan dan group feeling yang akan terus terjalin hingga pulang ke masyarakat.

2.      Akhlak Baik yang Diwariskan melalui Keteladanan

Perangkat disiplin, tradisi dan kultur pondok juga mempunyai andil besar dalam pengkondisian ukhuwah Islamiyah. Keakraban yang terjalin melalui sistem pendidikan sebaya, menjadikan mereka saling mengenal dan menghargai, yang muda menghormati yang lebih tua dan sebaliknya yang senior menyayangi adiknya. Para santri hormat dan segan kepada para guru dan kyainya dan para guru juga sangat menyayangi mereka, bahkan mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran dan perhatiannya untuk mendidik mereka. Tidak jarang pengasuh dan para guru justru memberikan waktunya lebih banyak untuk melayani santri daripada keluarga mereka sendiri. Mereka yakin bahwa dengan totalitas mengurusi pondok dan santrinya, maka Allah akan mengurus keluarga mereka.

Selain itu Pondok juga menanamkan nilai-nilai akhlak kepada para santri melalui keteladanan, pengkondisian miliu dan pembelajaran. Untuk memelihara nilai-nilai luhur ini, disiplin harus ditegakkan untuk semua penghuni Pondok, tanpa pandang bulu. Hal-hal yang berpotensi merusak ukhuwah Islamiyah berupa akhlak dan perilaku tercela harus dihindari, itulah mengapa Pondok membiasakan dan mendidikkan kepada para santri hal-hal sepatutnya dikerjakan untuk merawat ukhuwah diantara mereka. Jangan sampai perilaku yang tercela membudaya dan akhirnya merusak miliu pendidikan yang sudah kondusif, karena dalam menanamkan nilai-nilai pendidikannya Gontor sangat mengandalkan miliu yang sarwa mendidik setelah keteladanan nyata.

Perilaku yang tidak surgawi sangat diperangi di Gontor. Menghina teman apapun alasannya, terlebih bertengkar, melawan guru, bertindak curang dalam ujian, mengambil hak milik orang lain serta pelanggaran norma susila dikategorikan pelanggaran yang tidak akan ditolerir pondok. Hal ini untuk membersihkan hati dari sifat permusuhan (salamatusshudur) di kalangan santri dan guru. Setiap santri harus mempunyai qolbun salim, terhadap saudaranya. Kondisi ini terus dibina hingga mencapai kualitas yang paling tinggi yaitu kesediaan berkorban mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan pondok diatas kepentingan pribadi (itsar). Kesempurnaan keimanan seseorang, harus dibuktikan dengan kecintaan kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai sendiri serta harus diperdalam dan diperluas dengan suasana keikhlasan untuk kebaikan bersama.

Kedamaian Gontor juga tidak dimaknai dengan suasana yang hening, tenang tanpa dinamika. Justru Gontor sangat ramai dengan aktivitas, setiap detik yang berlalu sangat berharga untuk kegiatan siswa. Itulah Gontor sangat sibuk, aktif, dinamis namun tetap harmonis, sederhana dan elegan. Hal ini juga sesuai dengan beberapa falsafah pondok, yaitu:

1.  Kulla yaumin huwa fi sya’n [QS. Ar-Rahman Ayat 29] (Setiap hari Dia (Allah) menangani urusan.)

Allah selalu menciptakan, mengatur alam semesta dengan semua penghuninya, memberi rezeki, tanpa ada lelah dan tidur. Kondisi inilah yang ditiru pondok, bagaimana ia mempunyai kesibukan setiap saat, terus membangun, memperbaiki sarana, meningkatkan kualitas pendidikan, mengevaluasi, menyusun program pembinaan, mengembangkan unit usaha ekonomi produktif, mengkader para guru dan santri, meningkatkan kesejahteraan keluarga dll.

2.     Al ma’hadu la yanaamu abadan (Pondok tidak pernah tidur sama sekali)

Pondok selalu penuh kegiatan, tidak pernah sepi atau berhenti, bahkan ketika malam hari masih tetap ada santri yang piket malam, sebagian penghuni pondok bangun menghidupkan malam untuk belajar, mengaji Al-Qur’an, sahur dan tahajjud. Apalagi menjelang pagi hingga sore. Bahkan ketika liburan pun masih banyak kegiatan, ibarat jantung terus memompa darah, sari pati makanan dan udara, ibarat paru-paru terus bernafas dan ibarat nadi terus berdetak.

3.  Faidza farghta fanshab [QS. Ad-Dhuha Ayat 7] (Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain))

Selalu dalam kesibukan, prestasi seseorang terletak pada pengelolaan dan pemanfaatan waktu kosong dan manajemen waktu pada umumnya, selalu punya program dan rencana, ada skala prioritas, target yang harus dicapai dan evaluasi berkesinambungan.

Arrahatu fi tabaduli al a’mal (Istirahat itu terletak pada pergantian pekerjaan).

Dari duduk ke berdiri, dari berdiri ke berjalan, dari membaca ke menulis, dari mandi ke berpakaian, dari salat ke membaca al-Qur’an dan seterusnya itulah konsep istirahat menurut Gontor, selalu sibuk dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Memang perlu variasi kegiatan supaya tidak jenuh, namun tidak ada kamus nganggur, kosong tanpa kegiatan, karena dalam pandangan Gontor kekosongan itu merusak, kosong waktu dari kegiatan, kosong hari dari iman, kosong otak dari ilmu dll. Arrahatu fil jannah (Istirahat yang hakiki berada di surga)

Merealisasikan spirit Darussalam harus didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh ukhuwah Islamiyah dan akhlak baik yang diwariskan dengan keteladanan. Selain itu, menciptakan kedamaian bukan berarti mengosongkan waktu dari suatu kegiatan agar hening, melainkan selalu memanfaatkan waktu kosong dengan kegiatan yang bermanfaat dan selalu sibuk dari suatu kegiatan ke kegiatan lain yang telah sesuai dengan ungkapan kearifan para Trimurti. Melalui langkah tersebut kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menyebarkan salam, menebarkan rahmat bagi semesta alam di Indonesia. Merealisiasikan spirit tersebut juga merupakan amanat Kyai Ahmad Sahal untuk para alumninya agar Indonesia bisa menjadi negeri damai, sejahtera, aman sentausa. Tentunya dengan kiprah perjuangan mereka, menebarkan benih-benih kebaikan, membangun peradaban Islami dan Gontori di tengah-tengah masyarakat. Melalui wasiat Kyai Ahmad Sahal, “Agar anak-anakku kelak bisa mewujudkan Darussalam di Indonesia.” Sudah sepatutnya setiap santri dan alumni yang sudah kembali ke masyarakat berintrospeksi. Sudahkah menunaikan amanat merealisasikan Darussalam di negeri Indonesia tercinta?

Posting Komentar

0 Komentar