Oleh: Muhammad Massuyadi
Krisis kepemimpinan yang melanda pada zaman sekarang membuat banyak orang merasa kehilangan sosok pemimpin yang benar-benar mendahulukan kepentingan bersama. Kita melihat banyak pemimpin yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi sehingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat sekitar.
Kondisi ini memunculkan harapan hadirnya figur yang bisa menjadi teladan tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir bagi rakyatnya. Dalam sejarah Islam, terdapat banyak sosok inspirasi yang menunjukkan hal tersebut. Salah satunya adalah Umar bin Khattab RA, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah orang-orang sesudahku dari para sahabatku, yaitu Abu Bakar dan Umar” (Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’).
Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas dan adil. Selain itu, beliau juga memiliki sifat lembut dan peduli terhadap rakyatnya. Kepeduliaan Umar membuat kita kagum terhadap kisah kepemimpinannya. Siang dan malam, ia selalu memantau keadaan rakyatnya, menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memimpin, tetapi juga melayani.
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas RA mengatakan, “Setiap kali selesai shalat, Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa saja yang mengadukan suatu keperluan, maka ia segera menelitinya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik untuk melihat keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah.”
Sebagian rakyat merasa enggan mengadukan permasalahannya karena segan terhadap wibawa Umar. Melihat hal ini, beberapa sahabat — Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Az-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa`ad bin Abi Waqqash bersepakat untuk memberi tahu Umar. Abdurrahman bin Auf pun maju sebagai wakil untuk berbicara.
Mereka berkata, “Bagaimana jika engkau (Abdurrahman) berbicara kepada Amirul Mukminin? Karena ada orang yang ingin dipenuhi kebutuhannya, tetapi segan untuk berbicara karena wibawanya, sehingga mereka pulang menahan keperluannya.”
Abdurrahman pun menemui Umar dan berkata, “Amirul Mukminin, bersikaplah lemah lembut kepada orang-orang. Ada yang hendak menemuimu, namun suara mereka tercekat oleh wibawamu. Mereka pun pulang tanpa berani bicara.”
Umar RA menjawab, “Wahai Abdurrahaman, aku bertanya kepadamu atas nama Allah. Apakah Ali, Utsman, Thalhah, Az-Zubair, dan Sa`ad yang memintamu menyampaikan hal ini?” “Allahumma na’am,” jawab Abdurrahman.
Umar berkata, “Wahai Abdurrahman, demi Allah, aku telah bersikap lemah lembut terhadap mereka sampai aku takut kepada Allah jika berlebihan. Aku juga telah bersikap tegas kepada mereka sampai aku takut kepada Allah apabila kelewat batas. Lalu, bagaimana jalan keluarnya?” Abdurrahman pun menangis dan mengusap air matanya sambil berkata, “Lancang sekali mereka, lancang sekali mereka.”
Adapun bagi masyarakat yang tinggal jauh dari kota Madinah; seperti penduduk Irak, Syam, dan lainnya. Umar sering bertanya tentang keadaan mereka dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Beliau mengirim utusan untuk meneliti kondisi mereka.
Terkadang umar juga melakukan kunjungan langsung untuk melihat keadaan rakyat di wilayah para gubernurnya. Umar memenuhi kebutuhan mereka dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai berkeinginan agar para janda yang tidak memiliki penanggung merasa cukup dengan bantuan negara sehinggga tidak membutuhkan aluran pihak lain.
Kisah Umar bin Khattab memberikan pesan pada setiap pemimpin untuk memiliki kepedulian yang luar biasa terhadap rakyatnya. Seorang pemimpin harus memberi teladan dalam perkataan dan perbuatan serta bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا ۞
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Dengan demikian, seorang pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai teladan untuk rakyatnya. Melalui Umar bin Khattab kita bisa mempelajari bahwasanya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang senantiasa mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Pemimpin yang selalu hadir untuk memantau, melayani, dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Wallahu a’lam.
0 Komentar