Karya: Ihya
Debu tanah gersang menunggangi angin dan hinggap menjadi cat coklat di
dinding-dinding besi yang menyusun setiap hunian. Panas mentari menyusup ke
dalam rumah tanpa ampun, pendingin ruangan bersusah payah mengatur suhu tetap
stabil dan nyaman. Tanganku sigap menata semua kebutuhan ke dalam kotak-kotak
logistik. Pakaian, obat-obatan, sampai dokumen penting. Setelah hampir dua
pekan berkemas, aku sudah siap berangkat.
Ting ... Ting ...
Suara itu tiba di telinga. Firasatku benar, dia pasti datang lagi. Kutarik
napas dan kutinggalkan barang-barang. Bergerak keluar memenuhi panggilan suara
bel. Aku tahu siapa yang sudah menantiku di luar—terkaanku tidak akan meleset.
Kutekan tombol dan pintu pun terbuka diiringi suara pegas.
Semilir debu dan hembusan panas langsung menyambutku. Kuusap mata dan
kudapati halimun debu tersibak dan cahaya menyorot ke haribaan seorang bidadari
yang berdiri di hadapanku. Rambutnya tetap hitam berkilauan tak disinggahi noda
apapun. Wajahnya tetap rembulan meski matanya mengandung awan mendung bermuatan
guruh dan hujan.
“Kamu masih tidak mau mengubah pikiranmu, Sayang?” ucapnya nada berharap. Setelah
semua yang terjadi satu pekan ke belakang, panggilan mesra itu rupanya masih
dia gunakan.
Kami saling tatap di depan pintu sambil disaksikan oleh tanah-tanah retak
dan pasir yang menjelma atmosfer. Dia terus menanyaiku pertanyaan yang sama
lagi dan lagi. Aku berpikir, kenapa tidak dia saja yang berubah pikiran. Tanganku
mengepal menahan marah sedangkan tangannya menggenggam sebuah tablet.
“Ayolah, kita sudah bicara masalah ini. Kenapa kamu tidak ikut saja
bersamaku daripada begini,” jawabku dengan nada melas. “Aku akan tetap
berangkat, bagaimanapun kau menahanku.”
“Aku punya bukti kuat bahwa keberangkatanmu akan sia-sia, dan kamu pasti
gila kalau masih tidak mau berubah pikiran!”
“Sungguh?!” Emosi seketika muncul tanpa aba-aba. “Kamu masih ingin aku
batal berangkat? Aku kira kamu paham betapa besar cita-citaku untuk bisa pergi
ke sana. Kamu harus tahu, keberangkatanku ini tidak hanya tentang diriku saja,
tapi tentang umat semuanya!”
“Sayang, tolong
dengarkan kali ini saja ....”
Aku dan semesta kecil di sekitar kembali terdiam. Tidak menyangka kalau dia
masih saja egois dengan perasaanya tanpa memahami betapa besarnya cita-cita itu
bagi hidupku. Sesugguhnya, aku masih menyayanginya dan akan terus begitu.
Kami berdua telah melewati hari-hari indah bersama dari hangus hingga beku.
Namun, semua itu berubah menjadi persilisihan besar ketika kami akhirnya ternyata
tidak sekeyakinan tentang masa depan. Mau tidak mau aku harus mengambil
keputusan berat untuk tetap pergi jauh tanpa dirinya.
“Kumohon dengarkan penjelasanku, Sayang.” Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mungkin untuk terakhir kalinya.”
Napas berat kuembuskan. Anggap saja ini akan jadi kenangan terakhir sebelum
aku terbang besok pagi. Kupersilakan dia masuk. Mengobrol di tengah daratan bumi
yang gersang tentu bukan pilihan yang bagus untuk perpisahan.
Kalau benar-benar mau ditarik sampai akarnya, masalah hubungan kami mungkin
dimulai bahkan sejak puluhan ribu tahun lalu saat bumi mulai kehilangan
keasriannya. Ketika konon—menurut buku sejarah—bumi dulu pernah punya lapisan
atmosfer yang menjaga kelestarian makhluk hidup di dalamnya.
Entah karena faktor apa, lapisan ozon di langit menjadi bocor dan sinar
matahari dengan kekuatan penuh dapat langsung menyorot bumi tanpa penghalang
apapun. Kutub utara dan antartika mencair melahap daratan dan membangkitkan
penyakit yang selama ini membeku dalam es.
Awan tidak lagi mengandung air segar, yang ada hanya hujan asam. Tanah
tidak lagi subur, tumbuhan jadi kering dan beracun, binatang pun punah satu
demi satu. Menyisakan manusia yang semaksimal mungkin menggunakan akal untuk
bertahan.
Ratusan tahun manusia berusaha mengembalikan hijaunya planet, dan hampir
tidak ada harapan untuk merestorasinya. Keputusaasaan itu mengajak seluruh manusia
sebagai satu kesatuan untuk memikirkan cara-cara yang lebih mutakhir untuk
terus bertahan. Harapan kembali muncul saat beberapa abad ke belakang ditemukan
jalan untuk membangun kehidupan di planet lain.
Manusia pun berangsur-angsur pergi ke luar angkasa menuju planet-planet
hunian yang baru. Sebagian terbang untuk mendapat kehidupan yang baru, dan
sebagian lain punya visi yang lebih mulia. Di planet-planet itu, dengan
lingkungan yang lebih baik, mereka yang bervisi luhur memilih untuk belajar
dengan giat dan mencari cara demi memakmurkan bumi kembali. Daftar
planet-planet impian mulai tersusun. Setiap anak manusia di bumi punya
cita-cita untuk pergi ke luar sana.
Di antara banyak anak muda yang punya kesempatan untuk mewujudkan
cita-citanya ke luar angkasa, ada aku. Seseorang yang tidak bisa tinggal diam
melihat tanah airku setiap hari menjadi kuburan yang ditinggalkan. Setelah
melewati sekian proses akhirnya aku akan terbang ke planet impianku, sebuah
tempat yang telah masyhur dari berabad-abad yang lalu. Planet La Haraz.
Pemberangkatan setiap orang ke luar angkasa diatur sebuah instansi-instansi
penghubung antargalasi. Instansi itu dibentuk dan digerakkan oleh para
antariksawan yang lebih tahu lagi penuh akan pengalaman. Setiap manusia yang
akan terbang tentunya masih minim wawasan, dan akan sangat mempercayakan
nasibnya pada jasa lembaga penghubung yang kami kenal baik dengan sebutan Mediator.
Aku seharusnya berangkat dengan tenang dengan salah satu mediator,
mewujudkan cita-citaku, dan kembali ke bumi untuk membangun peradaban. Itu
semua akan berjalan tanpa sedikitpun drama kalau mantan kekasihku ini tidak
menahan karena alasan-alasan yang tidak masuk akal.
Ruang depan rumahku seakan menjelma meja panas saat ia memulai gugatannya. “Kamu
tidak merasa janji-janji mereka terlalu manis? Kamu tidak merasa ada yang
aneh?”
Aku menatap dingin sambil menggeleng pelan.
“Kamu tidak merasa biaya yang kamu bayar terlalu mahal?”
Aku putar bola mataku karena aku kembali mendebat persoalan yang itu-itu
lagi.
“Berapa banyak
aset yang sudah kamu jual?” lanjutnya.
“Hei, tidak ada yang terlalu mahal untuk mewujudkan cita-cita, apalagi
untuk membangun bumi.” Aku menahan amarah. “Memang aku menjual hampir semua
hartaku di bumi, tapi ini kan perjalanan ke luar angkasa, pasti tidak murah.”
Dia bergerak membuka tabletnya. Menggulir-gulir layar seakan mencari bukti
tindak pidana. Aku tidak ingin kalah cepat. Kuproyeksikan sebuah informasi dari
jam tanganku.
“Lihat, walau aku membayar mahal, tapi berkat mediator, aku dijanjikan akan
segera mendapatkan karir dan akses pendidikan di sana.”
“Ekspektasimu terlalu tinggi. Planet tujuanmu sebenarnya tidak seindah yang
kamu bayangkan, Sayang, baik dalam karir maupun pendidikannya,” katanya sambil
masih sibuk membuka-buka berkas di tablet.
“Kenapa kamu masih skeptis begini sih? Kamu tidak melihat ke planet kita
sekarang, banyak antariksawan yang telah pulang ke bumi dan memimpin restorasi.
Berkat mereka, bumi masih bertahan sampai sekarang. Aku ingin menjadi seperti
mereka, dan kenapa sekarang kamu malah mau melarangku?!”
“Memang, antariksawan yang pulang dari planet idamanmu itu sekarang memang
menjadi tokoh di bumi sekarang. Itu karena mereka berangkat di masa-masa awal,
kepentingan bersama umat manusia masih dipegang oleh semua kalangan. Dan
sekarang tidak sama lagi!”
“Apa yang membuatmu berani bicara begitu?” Aku menyahut nada tingginya
dengan suara yang lebih keras.
Jarinya berhenti menggulir. Kepalanya kembali mendongak menatapku. Kali ini
tidak kudapati kemelasan di matanya, hanya ada keyakinan teguh. Akhirnya dia
mendapatkan apa yang dia cari di dalam tabletnya.
“Selama ini aku berkorespondensi dengan banyak teman di luar angkasa. Khususnya
dari planet tujuanmu. Dan kamu harus tahu informasi yang kudapat.” Dia
menyodorkan tabletnya padaku. Tulisan dan beberapa foto terlihat di layar.
“Selama ini aku merasa kecewa. Apanya yang
kaderisasi penggerak restorasi bumi? Di sini sama saja penuh masalah alam dan intrik
politik juga. Aku seakan pergi dari satu planet bermasalah ke planet lain yang
tidak kalah bermasalah. Memang yang dipromosikan oleh mediator di di etalase
informasi selalu yang indah-indah saja dan bagian terjujurnya jarang sekali
terungkap. Pihak dari otoritas planet juga tidak mau citranya menurun, karena
itu akan membuat nama antariksawan yang sudah pulang buruk sekaligus tidak ada
lagi yang mau berangkat ke sini. Kalau minat berangkat menurun, maka lembaga
mediator pun akan kehilangan pasarnya.
“Mereka yang baru datang pasti jatuh
ekspektasinya, dan sebelum bicara tentang idealisme restorasi bumi pertiwi,
mereka sudah disibukkan oleh urusan sendiri-sendiri. Jauh di sisi lain
kebingungan kami yang terlanjur di sini, pihak mediator yang ulung menjual
cita-cita itu sedang menghitung pundi-pundi keuntungan mereka sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Sayang sekali keadaan ini belum banyak diketahui
oleh penduduk bumi, tak ayal mereka masih termakan iming-iming manis para oknum
dan terus menganggap planet ini adalah dunia utopia. Andaikan aku tahu lebih
awal, aku tidak akan terjebak oleh tipu daya mereka seperti sekarang!”
Lengang.
Kuperhatikan satu demi satu foto planet idamanku dan manusia-manusia yang
sedang menghuninya. Di balik arsitektur beberapa ikon bangunan indah di sana,
ada kebobrokan dalam realita sosialnya. Kliping berita melengkapi foto-foto
itu. Pelacuran, pergaulan bebas, bisnis ilegal, dan percaturan politik
bercampur di alam yang gersang. Aku baru tahu.
“Dia temanku,” ucap mantan kekasihku memecah hening. “Angkatan
keberangkatan beberapa belas tahun lalu. Setelah tiba, bukannya dipenuhi hak-haknya
sesuai janji yang diberikan di kontrak, dia malah dibuang ke antah-berantah
saat pembayaran besar yang sudah dia lunasi entah pergi ke kantong mana.”
Aku membisu. Apakah kabar ini benar? Atau dia hanya membuat-buat? Aku
tidak bisa langsung mempercayai kabar darinya, tapi semuanya tampak begitu
nyata. Di kepala, cita-cita dan realita bergelut di kepala.
Dia ulurkan tangannya dan jari lembut itu mengelusku. Dia kembali
mempertanyakan niatku. Dengan sorot mata penuh perhatian, dan tutur lisan penuh
kasih dan kelembutan dia berkata, “Setelah tahu ini semua, kamu tetap mau
berangkat, atau tidak?”
(Jika merasa cerita ini menarik, mari ikut menyebarluaskannya ke seluruh galaksi!
Pemesanan novel Ilalang & Bunga akan dibuka pada 23-30 Januari)

0 Komentar