Oleh: Rinai Renjana
"TPA ini
dibangun atas dasar keresahan beberapa santri karena kekhawatiran mereka
tentang menurunnya kemampuan anak-anak dalam membaca Al-Qur'an saat ini, Bapak,
Ibu. Bagaimana mungkin kita akan membubarkannya, saat banyak anak-anak yang
bersemangat untuk menimba ilmu di sini?"
"Tapi, semua
pengajarnya bukan berasal dari desa ini!" Salah satu warga ikut
berkomentar, diikuti warga yang lainnya.
"Dana kas
masjid juga cepat habis karena dipakai untuk membiayai mereka yang bukan dari
desa ini, dan kebutuhan kita ada banyak!"
“Uang kas masjid
ini dari infaq para warga, kenapa harus diberikan kepada mereka yang berasal
dari luar desa kita? Sedangkan, untuk kepentingan warga saja masih banyak!”
***
Sore hari, saat
mentari hampir tumbang di kaki barat, saat azan maghrib bergema, mengajak
langkah kaki untuk segera mengambil air wudu. Anak-anak berbaris rapi untuk
membasuh bagian-bagian tertentu yang harus terkena air demi menyempurnakan
wudunya.
Di setiap bagian luar
tempat wudu, sudah ada ustaz bagi murid laki-laki ataupun ustazah pengajar bagi
murid perempuan yang siap menyimak bacaan doa sesudah wudu. Dengan tertib,
anak-anak itu segera menempati saf shalat yang paling depan.
Setelah shalat maghrib
berjamaah, anak-anak kembali ke kelas masing-masing yang telah ditentukan
sesuai tingkatan iqra. Kegiatan baca simak Al-Qur'an pun berjalan dengan penuh
keceriaan.
Naira, seorang
pengajar yang sangat antusias dengan kegiatan TPA ini, sering kali membawa
hadiah untuk ia bagikan kepada anak-anak yang tertib hari itu. Dengan bekal
kreativitasnya, ia membuat hadiah sederhana itu dengan kemasan yang lucu dari
kertas lipat yang membuat anak-anak semakin semangat dalam belajar Al-Qur'an.
Hadiah setiap pertemuan akan dibagikan di akhir kegiatan belajar-mengajar
setiap harinya.
"Ustazah Naira,
hari ini kita belajar apa?" Tanya seorang anak dengan senyum yang mengembang
di wajahnya.
"Hari ini
kita akan menghafal nama-nama surat dalam Al-Qur'an, yaaa! Ada yang sudah
pernah menghafal?" Jari telunjuk kanan Naira terangkat, yang segera dijawab
dengan anggukan kepala beserta beberapa tangan yang terangkat.
"Baik, sambil
menunggu antrian membaca iqra, kalian bisa tuliskan dulu urutan nama-nama surat
dalam Al-Qur'an dari pertama sampai sepuluh untuk hari ini!"
"Baik, ustazah"
"Siap, ustazah,"
jawab anak-anak dengan penuh semangat.
Setelah kegiatan
belajar-mengajar selesai dan sholat isya dilaksanakan, anak-anak segera
berbaris, bersiap untuk penutupan kegiatan TPA bersama. Mereka mengucapkan
ikrar TPA, ucapan terima kasih kepada ustaz dan ustazah yang telah mengajarkan
ilmu, serta tak lupa kepada para ibu-ibu TU yang biasa mengurus SPP dan uang
tabungan para murid juga kepada para donatur yang telah membantu keperluan dana
untuk kemajuan TPA.
Setelah penutupan,
yang membuat TPA ini berbeda, para wali murid bergantian untuk membuatkan
konsumsi berupa makanan yang sudah ditentukan harganya sesuai kesepakatan setiap
jadwal TPA. Makanan yang sudah disiapkan akan dibagikan sembari bersalamanan
dengan ustaz pengajar bagi anak laki-laki, dan kepada ustazah pengajar bagi murid
perempuan.
"Kak Naira,
kemarin katanya mau cerita tentang sejarah perpindahan TPA," ujar Kia,
salah satu pengajar baru di TPA yang datang menghampiri Naira setelah anak-anak
pulang dijemput orang tua masing-masing.
"Iya, betul,
Kak." Sari, salah satu pengajar baru di TPA ikut menimpali.
"Oke, karena
belum terlalu malam, aku mau ceritakan, tapi dari kisah ini nanti, kita ambil
manfaatnya, ya! Dari kita sebagai pengurus TPA dan warga desa sudah sama-sama
ikhlas. Jadi, setelah mendengar cerita ini, aku harap penilaian kalian terhadap
warga tidak mengarah pada hal yang negatif. Karena, dalam berdakwah pun, akan
ada badai maupun ujiannya. Mungkin perpindahan ini adalah salah satu badai di
TPA kita. Tapi tenang saja, badai sudah berlalu, mari melanjutkan apa yang
menjadi tujuan kita bersama." Naira tersenyum ke arah Kia dan Sari yang
mulai serius menyimak ke mana cerita ini akan membawa mereka.
"Setahun
lalu, saat Ummi Mawar dan Abi Adi sedang bepergian, ada sebuah notifikasi di
ponsel Abi Adi, sebuah nomor yang mengatasnamakan warga, bahwa TPA ini terlalu banyak
menggunakan uang kas masjid, sampai-sampai pemuda-pemudi di desa merasa sungkan
untuk mengajukan permohonan dana bagi acara mereka. Oiya, kalian kenal Ummi
Mawar dan Abi Adi, kan?"
"Iya, kami
kenal. Beliau berdua adalah pengurus di divisi manajemen, kan?"
"Iya, betul. Pada
awal TPA ini didirikan oleh para santri pondok pesantren yang ditugaskan dari kota,
bertempat di rumah beliau berdua. Para santri yang mendirikan TPA saat itu,
mereka mendirikan dengan ikhlas, tanpa memikirkan uang bayaran atau apapun itu.
Namun, Ummi Mawar dan Abi Adi, juga beberapa wali murid memberikan inisiatif
untuk memberikan pada para santri makan malam setelah mengajar. Awalnya juga jumlah
murid di sini masih sebelas anak, masih terhitung sedikit. Kemudian, banyak
yang tertarik dengan TPA ini, sehingga jumlah anak-anak TPA semakin banyak.
Jumlah murid saat ini sudah mencapai sekitar seratus anak. Salah satu hal yang
menarik adalah adanya snack setiap jadwal TPA yang belum banyak ada di
TPA lain. Kemudian, mulailah dibentuk pengurus TPA, agar TPA semakin berkembang
dan mempunyai struktur yang lebih jelas.”
“Saat perkembangan
TPA semakin baik, para wali murid berinisiatif mengusulkan uang bulanan yang
dibayarkan setiap bulannya. Mereka juga ingin agar ustaz dan ustazah tetap
mendapatkan gaji bulanan yang saat ini disebut dengan Shodaqoh Pendidikan Putra-putriku,
atau biasa kita sebut SPP. Mereka tidak terpatok jumlah yang mereka harus
bayarkan, mau seberapapun itu, pengurus TPA sangat berterima kasih. Ada juga
pemasukan dari para donatur di setiap bulannya untuk tambahan biaya operasional
TPA.”
“Abi Adi dan Ummi
Mawar menjadi bagian dari pengurus masjid. Maka, mereka mengusulkan uang kas
masjid digunakan dalam membantu biaya operasional TPA untuk membeli kebutuhan
TPA dan biaya transportasi ustaz dan ustazah, tentunya sudah disetujui juga
saat rapat dilangsungkan bersama pengurus masjid.”
“Saat masjid
Al-Ikhlas masih dibangun, beberapa santri sesekali juga ikut hadir
bergotong-royong untuk membantu dalam gotong-royong bersama warga. Kemudian,
saat masjid Al-Ikhlas mulai dapat digunakan, pengurus TPA memutuskan untuk
melanjutkan kegiatannya di sana dengan niat memakmurkan masjid."
Sambil memakan
camilan, Sari dan Kia mendengarkan dengan saksama.
“Sebentar, Kak,
berarti para santri yang ditugaskan dari kota itu sebenarnya bukan untuk
membuat TPA, ya? Atau mereka memang berinisiatif mendirikan TPA?” Kia mengerutkan
kedua alisnya.
“Iya, mereka
memang bukan ditugaskan untuk membangun TPA, tapi berdakwah dan memakmurkan
masjid As-Salam. Itu sebelum akhirnya masjid Al-Ikhlas berdiri. Kalau sekarang,
sudah tidak ada lagi santri yang dikirimkan dari kota, karena masjid tersebut
sudah akan didirikan pondok pesantren sendiri oleh pengurusnya. Aku lanjut
ceritanya, ya!”
***
Petang, di sebuah
aula pertemuan, seluruh pengurus dan pengajar TPA berkumpul untuk membahas
jalan keluar permasalahan dengan warga.
"Seperti yang
sudah kita ketahui bersama, banyak warga yang merasa keberatan jika TPA kita
ini berjalan dengan uang kas masjid yang kita gunakan untuk membiayai akomodasi
ustaz dan ustazah TPA. Mereka menyayangkan pengajar yang kita datangkan dari
luar desa. Meski kita tahu, para pengajar kita sudah sangat layak dan mempunyai
ilmu untuk mengajar di TPA. Mereka juga sangat membantu memperbaiki pendidikan
Al-Qur'an di desa kita. Maka, apakah ada usulan bagaimana baiknya kita
menyikapi ini bersama?” Ucap salah satu pengurus.
"Menindaklanjuti
keresahan warga, ada baiknya kita liburkan dulu TPA kita, sampai kondisi jadi
lebih kondusif." Salah satu pengurus yang lain memaparkan usulan.
“Tapi, apakah
tidak akan menimbulkan pertanyaan pada para wali murid, jika kita liburkan
tanpa alasan?” Anggota rapat yang lain menanggapi.
“Dengan kondisi
yang tidak kondusif ini, tidak mungkin juga kita akan tetap melaksanakan TPA
seperti biasa.” Salah satu ustaz memberi tanggapannya.
Tidak ada yang
bersuara saat ini, semua kalut dengan isi pikiran masing-masing. Sampai seorang
pengurus kembali mengucapkan kalimatnya, "Semisal TPA ini berlanjut,
apakah teman-teman semua masih berkenan untuk mengajar?"
Satu mengangguk,
satu menggeleng, satu lagi mengangguk, satu lagi menggeleng. Beberapa jawaban
mempunyai alasan masing-masing, terkhusus dari para pendiri TPA yang berasal
dari luar desa. Mereka dengan berat hati tidak ingin melanjutkan untuk mengajar.
Dengan beberapa
pertimbangan, akhirnya keputusan segera diambil dan disetujui bersama, bahwa
untuk sementara waktu, TPA diliburkan.
Mediasi antar TPA
dan warga juga digelar, warga banyak mengungkapkan kritik di sana. Suasana saat
itu menjadi tegang, banyak emosi negatif yang disampaikan oleh warga karena
protes tentang uang kas yang banyak dipakai untuk operasional TPA itu sendiri.
Tidak banyak yang
menjadi perwakilan TPA kala itu, hanya lima pengurus saja. Dari mediasi
tersebut, pengurus TPA tidak dapat memberikan perlawan atau mempertahankan
kebijakan TPA. Selalu ada warga yang menyanggah dan mengkritik, membuat
perwakilan TPA memilih untuk diam. Hasil mediasi antara warga dan pengurus TPA
adalah menghentikan aliran dana bulanan dari uang kas masjid untuk TPA.
Naira dan beberapa
pengajar yang mendengar cerita saat mediasi hanya dapat tertegun, menahan emosi
yang mereka rasakan masing-masing. Saat mediasi, pihak TPA tidak mendapat kesempatan
berbicara. Maka dengan berat hati, keputusan harus segera diambil.
***
"Loh, nggak
dilanjutkan ceritanya, Kak?" Tanya Sari penasaran dengan kelanjutan
kisahnya.
Angin malam mulai
berembus ringan, menggugurkan sebagian dedaunan dalam pelukan malam. Bintang
dan bulan masih setia bertengger di atas sana, seolah ikut menyimak cerita
serius tiga orang di sebuah gazebo.
"Kadang aku
merasa sedih kalau ingat cerita ini, tapi, jika hanya senang saja yang didapat,
bukan tempat bertumbuh namanya, kan?" Naira tersenyum, meski ada
gurat sendu di balik matanya.
"Kalian tahu?
Akhirnya TPA tetap berjalan, melanjutkan perjalanan dakwah ini. Beberapa santri
yang menjadi penggagas TPA di sini tidak ingin kembali, karena mereka merasa
warga tidak ingin mereka ada di sana. Sebenarnya, yang jadi masalah bagi warga
adalah uang kas masjid yang digunakan untuk operasional TPA, salah satunya dana kas masjid yang
diberikan untuk uang transportasi pengajar, yang secara tidak langsung berarti diberika
kepada mereka yang mengajar dari luar desa. Sampai para pemuda-pemudi desa
merasa sungkan untuk mengajukan proposal pengajuan dana untuk acara desa ke
pengurus masjid." Naira membenarkan posisi duduknya.
"Desas-desus
warga juga tak kalah menyudutkan beberapa pihak di pengurus TPA. Aku
menceritakan pada kalian dari sudut pandang TPA, mungkin para warga juga
mempunyai alasan mengapa mereka berbuat demikian. Lagi-lagi kita tidak bisa
langsung menilai dari salah satu sisi."
"Seiring
berjalannya waktu, atas bujukan dari pengurus TPA, beberapa santri bersedia
kembali melanjutkan untuk mengajar di TPA."
Si penyimak cerita
saling bersitatap, bingung harus merespon apa. Ini juga bukan perkara yang
mudah.
"Lalu, sejak
kapan kisah itu mulai mereda? Bagaimana keputusan akhirnya dengan para
warga?" Sari segera mengajukan pertanyaan.
Naira kembali
mengembuskan napas kasar. Cerita ini selalu terasa berat jika diingat. Rasa
sakitnya seolah masih membekas, menancap dalam hatinya. Naira bukan tidak ingin
berdamai, tapi dari TPA inilah ia merasa bertumbuh. Jika sudah mencintai
sesuatu, tidak ada yang rela sesuatu itu terluka, kan?
"Sebenarnya,
warga membolehkan saja jika TPA melanjutkan kegiatannya di masjid. Namun,
pengurus TPA juga memikirkan kenyamanan para pengurus dan pengajar, juga
seluruh murid TPA. Dan warga juga berpikir untuk mendirikan sendiri tempat
belajar membaca Al-Qur'an untuk anak-anak, dengan pemuda-pemudi desa yang berperan
sebagai pengajar. Meski sampai saat ini belum terlihat tanda akan dibukanya
tempat belajar itu. Bisa jadi mereka sedang menyusun konsep atau apapun itu,
aku tidak tahu."
"Dan selalu
ada orang-orang baik di sekitar kita jika kita berjalan pada jalan kebaikan.
TPA adalah salah satu ladang dakwah, maka akan selalu ada orang-orang yang
membantu. Ada seorang ibu yang mempunyai sebuah yayasan di desa itu. Beliau
menawarkan dan mempersilakan jika kita ingin menggunakan pendopo yayasan
sebagai tempat belajar dan mengajar Al-Qur'an. Maka, pengurus TPA memilih opsi
ini untuk sementara waktu. Tidak hanya beliau, ada sepasang suami istri, yang
merelakan uang tabungan mereka yang akan mereka gunakan untuk umrah sekeluarga,
tapi akhirnya dengan segala kebaikan hati, mereka mau membangun sejenis pendopo
yang diperbolehkan untuk digunakan kegiatan belajar-mengajar TPA."
"Kita juga
tetap harus berterima kasih kepada warga, karena sebelumnya mereka mengizinkan
kita untuk menggunakan uang kas masjid yang biasa diberikan setiap bulannya
untuk kemajuan TPA. Mereka tetap berjasa bagi kita."
Kia dan Sari ikut
tersenyum mendengarnya, merasa lega atas penghujung kisah akhir bahagia yang
mereka ikut rasakan.
"Sekarang
semua sudah berdamai, Kak?" Tanya Kia memastikan.
Naira tersenyum,
menganggukkan kepala yakin. Semua sudah tertinggal di belakang.
***
Detik terus
berjalan, hari ini, akhirnya perpindahan TPA yang ketiga kalinya diresmikan,
dari pendopo milik seorang ibu di yayasan, menuju pendopo milik kedua suami
istri. Wajah-wajah bahagia memenuhi ruangan pendopo, juga sepasang suami istri
pemilik pendopo ini yang tak kalah bahagianya. Bukankah ini adalah ladang jariyah
untuk mereka?
Kisah masa lalu
itu masih selalu jadi bayang hitam di belakang. Dari kisah itu juga yang
menjadikan TPA ini lebih kokoh dan solid.
"Anak-anak,
seperti kebiasaan kita, jangan lupa tata sendal yang rapi, ya!" Seru
seorang pengajar yang bertugas menjaga ketertiban sendal di hari pembukaan.
Naira, Kia, dan
Sari menjaga buku tamu wali murid TPA di depan. Kali ini mereka saling melempar
tawa, menjadikan kisah yang diceritakan Naira sebagai lembaran usang yang penuh
pelajaran berharga yang dapat diambil.
2 Komentar
Sebuah perjalanan yang menguras keikhlasan, pasti akan lama bersemayam di memori, namun rencana Allah selalu terindah. Semoga penggalan kisahnya menguatkan syukur di setiap asa
BalasHapusTertegun, tersadar dan pada akhirnya terbersit dalam satu hal jauh di lubuk hati...luka yang perlahan terobati oleh ridho Allah melalui sholih sholihah yang mengaji, pertanda apa yang menurut kita baik belum tentu menjadi kehendak baikNya Allah
BalasHapus