Dalam pemaparannya, pembedah buku
menyebut bahwa pembahasan mengenai Perpustakaan Alexandria kerap menuai
perdebatan historis. Ia menyoroti adanya pandangan kritis terhadap peradaban
Romawi di masa lampau, yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kejayaan
sebagaimana sering digambarkan dalam narasi sejarah populer. “Kejayaan masa
lampau pun hanya menyisakan situs-situs peninggalan, karena faktanya begitu
banyak diskriminasi dalam pemikiran dan gesekan dengan gereja yang otoriter
pada kehidupan Romawi di masa lampau,” ungkapnya.
Meski demikian, pembedah menilai
buku ini telah disusun secara kredibel dengan seleksi sumber yang baik, seraya
berharap adanya pendalaman penjelasan historis pada beberapa bab untuk
penyempurnaan di masa yang akan datang.
Penulisan buku ini merupakan bentuk persembahan penulis kepada sang ayah, yang sejak kecil menanamkan kebiasaan membaca dan kecintaan terhadap buku. Walau terdapat kekhawatiran di awal rencana penulisan buku ini terkait penulis yang saat ini bukan mahasiswa fakultas sejarah, tetapi dengan adanya dukungan dari berbagai pihak dan bimbingan para mentor yang membersamainya membuat Maujihan makin mantap untuk menghasilkan karya tulis terkait perpustakaan Alexandria.
Pada akhirnya penulis berpesan bahwa
buku ini ditulis bukan atas kebenaran final melainkan bentuk ikhtiar dari
penulis sendiri, maka dibutuhkannya masukan dan kritik untuk perbaikan di masa
yang akan datang. Serta harapan penulis akan karyanya ini adalah agar minat
masisir dalam melestarikan ilmu pengetahuan lebih tinggi lagi, karena sesungguhnya
melestarikan ilmu pengetahuan nyatanya adalah melestarikan peradaban untuk
generasi yang akan datang.
Red: Athallah Zaki
Editor: Haekal Afriadi

0 Komentar