Oleh: Hasna Nabilatushafaa
Kita hidup di tengah zaman ketika rasa cukup berada di antara keinginan dan
kebutuhan—dua hal yang tampak serupa, tapi nyatanya sangat berbeda. Kebutuhan
dan keinginan adalah hal yang pasti dimiliki oleh semua manusia. Tentunya, kita
senantiasa berada di antara kebutuhan dan keinginan. Namun, kita kerap kali
bingung membedakan keduanya. Dalam hal ini, kebutuhan bisa dikatakan sebagai
suatu hal yang menunjang keberlangsungan hidup, sedangkan keinginan bersifat
tambahan. Keduanya sering hadir dalam kehidupan kita, baik dalam hal-hal yang
bersifat materiel, seperti materi alam (udara, air, dan lain sebagainya) atau
materi sosial seperti harta benda. Kebutuhan dan keinginan juga hadir dalam
hal-hal yang bersifat nonmateri yang biasa kita temukan dalam kehidupan sosial.
Lantas, apa saja hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan sosial?
Bicara tentang hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan sosial, ia dapat
hadir dalam bentuk jabatan, posisi, dan status. Jika kita kaitkan hal-hal
tersebut dengan masa sekarang, maka kita dapati bahwasanya harta benda, status,
maupun jabatan sangat berkaitan erat dan berjalan selaras dengan dinamika
kehidupan. Tak jarang kita lihat, harta dapat mengubah cara seseorang
memperlakukan orang lain, status juga bisa memengaruhi kepercayaan diri
seseorang, atau bahkan jabatan yang dapat memengaruhi cara seseorang dihormati.
Hidup kini seolah terasa hambar tanpa ketiganya, seakan-akan menjadi komponen
yang wajib ada. Bahkan hal tersebut dijadikan standar kebahagiaan yang dapat
memengaruhi sikap seseorang di tengah derasnya arus sosial. Mulai dari
kebahagiaan yang digantungkan pada pendapatan bulanan, barang-barang tertentu,
hingga suatu posisi yang diakui.
Nilai Kebahagiaan yang Bergeser
Ketika kebahagiaan digantungkan pada materi, pandangan hidup pun berubah
dan nilai kebahagiaan pun bergeser. Kita mulai mengira kehidupan orang lain
lebih baik dari kenyataan. Contohnya ketika kita melihat gaji orang lain yang
lebih besar, barang-barang mewah yang tidak kita miliki, atau pencapaian
akademik orang yang berada di atas kita. Kemudian ketidakmampuan untuk memenuhi
standar materi tersebut sering kali membuat diri kita merasa tidak pantas.
Lantas, hal tersebut menjelma menjadi perasaan gagal, putus asa, atau bahkan
bisa menjadi penyebab suatu perbuatan buruk. Dari sinilah, materi-materi
tersebut mulai menguasai cara kita memaknai hidup.
Jika kita renungkan kembali, sejatinya materi tidak bisa selalu menjadi
tolak ukur kebahagiaan. Di satu sisi, materi itu tidak terbatas dan tidak
selalu bisa dimiliki. Di sisi lain, hasrat manusia untuk memilikinya pun tak
terbatas, sedangkan kita semua memiliki batas kemampuan. Semakin kita mengejar
materi, semakin kita tak tahu kapan harus berhenti. Mengejar materi terus
menerus akan membawa kita pada kelelahan yang tak berujung, hasrat yang tak
pernah puas, dan angan yang tak pernah ada habisnya. Perlu kita sadari bahwa
semua hal itu bersifat sementara, bisa habis atau lenyap. Maka dari itu, kita
tidak bisa menyandarkan kebahagiaan kita pada hal yang tidak tetap.
Akan tetapi, ada hal yang sering luput dari kita—secara tidak sadar, kita menjadikan materi tersebut
sebagai standar kebahagiaan. Di sisi lain, unggahan tak henti memenuhi
beranda media sosial berupa foto maupun video yang menggambarkan sisi terbaik
kehidupan orang lain, bahkan muncul banyak tren dari media sosial. Hal ini yang
menyebabkan seseorang lupa dengan kehidupan di dunia nyata dan terjebak dalam dunia maya. Kita
terbuai dalam kesenangan yang semu di media sosial tanpa memikirkan bagaimana
mengatur sikap dan mengukur kemampuan diri kita. Kita terlalu banyak melihat ke
sana kemari, membandingkan diri dengan orang lain, dan berakhir melabeli diri
dengan kegagalan atau keputusasaan hanya karena kita tidak sama dengan orang
lain. Kita terus terjebak dalam kebahagiaan yang fana—kebahagiaan palsu yang
didasari rasa kurang terhadap banyak hal, karena terlalu sering menilai status
seseorang berdasarkan materi yang dimilikinya. Kemudian, hal- hal tersebut
menyebabkan banyak dari kita yang terjangkit perilaku Conspicuous
Consumption, yaitu berlomba-lomba untuk mengejar materi demi memamerkan
status sosial yang tinggi di mata orang lain.
Alasan Mengutamakan Status Sosial
Mengejar materi demi memamerkan status sosial sama halnya ketika
menginginkan suatu benda tanpa memerhatikan fungsinya, sebuah tas bermerek
misalnya. Dengan tas tersebut, tingginya status sosial seseorang bisa diakui
oleh banyak orang, sehingga menggeser keinginan membeli barang berdasarkan sisi
fungsionalnya. Jika dahulu membeli tas hanya untuk membawa barang, hari ini
membeli tas bisa untuk membawa barang sekaligus menjadi penanda status sosial.
Bahkan tak jarang kita temui pula, sebuah tas yang tidak menunjukkan fungsi
utamanya. Dalam hal ini, biasanya keinginan seseorang terhadap suatu materi tak
terpuaskan. Setelah membeli satu tas, rupanya ada tas lainnya yang lebih bergengsi
baginya, lalu muncul yang lebih bergengsi, dan begitu seterusnya hingga tak
berujung. Bahkan sepertinya sekalipun
manusia terkaya mampu membeli semua model tas atau pabriknya, keinginan
seseorang tidak terbatas pada jumlahnya, tetapi juga simbol yang melekat pada
barang tersebut.
Titik Balik
Jika terus menggantungkan standar kebahagiaan pada suatu materi, maka
sejatinya kita tidak merasakan kebahagiaan hidup yang sejati. Untuk menghindari
hal itu, kita bisa merenungkan
kembali makna cukup. Rasa cukup akan menahan diri kita dari rasa iri atas apa yang tidak kita
miliki, dan juga menumbuhkan rasa syukur. Ia juga mengubah cara pandang
kita terhadap sesuatu, bahkan memperbaiki standar kebahagiaan hidup kita. Adanya rasa cukup bukan berarti kita
tidak memiliki ambisi atau impian, tapi justru membuat sadar kapan kita harus
berhenti menjadikan materi sebagai ajang perlombaan dan mengejar sesuatu yang
tak pernah ada habisnya.
Terkadang, kebahagiaan itu tidak muncul pada keberlimpahan, tetapi justru terletak
pada kekurangan. Kekurangan yang membuat kita sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus
kita genggam. Kebahagiaan itu bisa muncul ketika kita mampu berdamai dengan kekurangan dan merasa
cukup. Kita bisa mulai memperbaiki perasaan kurang dengan mulai merasa
cukup akan banyak hal. Kita semua bisa menemukan standar kebahagiaan kita
melalui hal-hal sederhana, karena standar kebahagiaan tidak ditentukan dari
seberapa banyak materi yang kita punya, tapi seberapa banyak rasa syukur kita
atas apa yang kita punya.
0 Komentar