Header Ads Widget

Darussalam Catering

Standar Kecantikan

Oleh: Hibbah Nurul Waliya

Dalam era modern ini, standar kecantikan sering kali diukur dari kesempurnaan fisik. Kulit putih, wajah tirus, hidung mancung, tubuh ideal, rambut lurus, dan berbagai kriteria lainnya kerap dijadikan tolok ukur kecantikan. Padahal, standar itu sering kali tidak realistis dan terus berubah mengikuti zaman serta tren. Media sosial, budaya, dan tekanan sosial turut memengaruhi cara masyarakat menilai makna kecantikan. Akibatnya, siapa pun yang tidak sesuai dengan standar tersebut kerap dianggap kurang sempurna.

Fenomena ini melahirkan berbagai gangguan mental seperti insecurity dan anxiety di kalangan masyarakat, akibat obsesi untuk memenuhi standar kecantikan yang tiada habisnya. Namun, benarkah kecantikan sejati hanya terletak pada rupa?

Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna mengajarkan umatnya untuk memandang segala hal dengan kacamata syariat, termasuk dalam menilai makna kecantikan. Maka, bagaimana standar kecantikan dalam konsep Islam?

Keindahan adalah bagian dari penciptaan manusia. Allah subḥānahu wa ta‘ālā berfirman dalam Al-Qur’an:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ ۝٣

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, Dia membentukmu lalu memperindah rupamu, dan kepada-Nyalah kamu akan kembali.” (QS. At-Taghābun: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia atau tidak indah, karena setiap manusia memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Inilah yang disebut outer beauty, keindahan lahiriah yang tampak oleh mata.

Sementara inner beauty, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, adalah kecantikan batin yang dicintai karena dirinya sendiri, yaitu keindahan ilmu, akal, kedermawanan, kesucian diri, dan keberanian. Kecantikan inilah yang menjadi tempat pandangan Allah terhadap hamba-Nya dan menjadi sumber kasih sayang-Nya.

Islam mengajarkan bahwa keindahan fisik bersifat sementara dan terbatas, sementara hati yang baik serta akhlak yang mulia akan memancarkan keindahan yang abadi. Kecantikan lahir mungkin menarik pandangan manusia, tetapi kecantikan batin akan menarik cinta dan ridha Allah. Ketika Allah mencintaimu, tak ada lagi keindahan yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari hatimu yang dipenuhi iman.

Islam tidak melarang seseorang untuk tampil indah. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim)

Namun, keindahan yang hakiki adalah keindahan yang bernilai ibadah. Tubuh, wajah, dan seluruh anggota badan adalah amanah dari Allah. Karena itu, menjaga kebersihan diri, berpakaian rapi, dan berpenampilan pantas bukanlah untuk mencari pujian manusia, melainkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Pada hakikatnya, kecantikan bukanlah tentang bagaimana manusia memandangmu, melainkan bagaimana Allah menilai hatimu. Maka, jadilah pribadi yang tidak hanya cantik di mata manusia, tetapi juga indah di sisi Allah.

Perindahlah wajahmu dengan senyum, hatimu dengan dzikir, dan akhlakmu dengan kasih sayang. Karena kecantikan yang sejati adalah ketika kebaikan dalam dirimu memantulkan cahaya iman yang tak pernah padam.

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar