Header Ads Widget

Darussalam Catering

Disiplin Waktu di Ujung Tanduk: Ketika Budaya ‘Nanti Dulu’ Menggeser Kesadaran

Oleh: Najla Maharani

Di era modernisasi teknologi dan gaya hidup yang serba instan, disiplin waktu semakin tergerus oleh budaya “nanti dulu”. Kebiasaan menunda pekerjaan, datang terlambat, dan kurangnya rasa tanggung jawab terhadap waktu menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan. Ironisnya, kemudahan segala akses yang serba cepat terhadap informasi dan teknologi ini justru sering menjadi distraksi yang membuat seseorang semakin struggle untuk mengelola waktunya dengan baik. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada berbagai aspek kehidupan, seperti dunia kerja, pendidikan, dan interaksi sosial.

Dalam dunia kerja, keterlambatan dan ketidakdisiplinan bisa menghambat produktivitas tim dan kredibilitas seseorang. Dalam dunia akademik, kebiasaan menunda tugas yang ‘mepet’ deadline dan belajar di saat-saat terakhir berujung pada ketidaksempurnaan kualitas hasil belajar serta meningkatkan stres. Kemudian dalam kehidupan sosial, keterlambatan dalam pertemuan atau janji mencerminkan kurangnya menghargai  waktu orang lain dan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hubungan antarmanusia.

Jika kita pandang dari kacamata Islam, tidak seharusnya seorang Muslim itu payah dalam kedisiplinan waktunya. Mengapa? Karena waktu sangat signifikan dalam ajaran Islam. Bahkan, Allah dalam Al-Qur'an telah bersumpah atas nama waktu, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali; wal-Asr (Demi Masa) Q.S 103:1 , wal-Fajr (Demi Waktu Fajr) Q.S 89: 1, wa-Subh (Demi Waktu Subuh) Q.S 81:18. Imam Syafi’i juga pernah mengatakan, “Seandainya Al-Qur’an tidak diturunkan kepada kita melainkan hanya surah Al-Asr yang berbicara tentang waktu, maka cukup itu menjadi pegangan bagi kita untuk menjadi manusia sukses di dunia dan bahagia di akhirat.” Oleh karenanya, disiplin waktu bukan hanya persoalan efiensi, tetapi juga bagian dari akhlak dan nilai spiritual yang harus melekat dalam kehidupan sehari-hari pribadi seorang Muslim.

Filosofi Waktu adalah bagaimana kita memasukkan makna  pada waktu kita, dan itu semua berdasar pada kesadaran. Itu sebabnya, Islam mengajak umatnya untuk mengendalikan waktu bukan dikendalikan oleh waktu. Caranya dengan melalui berbagai manajemen yang diciptakan oleh ritualitas untuk spiritualitas. Contohnya, kita sholat ada waktunya, puasa juga ditentukan pada bulan ramadhan dan kenapa waktu itu selalu diatur pada ritualitas kita? yaitu agar kita bisa dididik oleh agama menjadi pengendali waktu bukan orang yang dikendalikan oleh waktu. Hasil dari merealisasikan kesadaran akan pentingnya waktu itu adalah wujud dari kita yang bisa menjadi pengendali waktu tersebut. Disiplin waktu bukan hanya tentang keteraturan hidup saja, tetapi juga tentang moralitas dan tanggung jawab. Rasulullah juga menegaskan bahwa waktu adalah bagian dari kehidupan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Begitu juga budaya ‘nanti dulu’ ini, tentu saja tak lepas dari pengadilan di akhirat kelak. Prokrastinasi atau yang kita sebut budaya ‘nanti dulu’, semakin menjamur dikehidupan serba modern ini. Kebiasaan buruk seperti ini menyebabkan seseorang cenderung  menunda pekerjaan atau menyepelekan sikap disiplin pada waktu yang mengakibatkan suatu pekerjaan atau kegiatan yang seharusnya sudah dimulai atau selesai dikerjakan menjadi terbengkalai.

Biasanya, awal mula terjadi budaya ini dimulai dari hilangnya kesadaran akan berharganya sebuah waktu. Sedangkan, kita tahu sendiri bahwa komponen terpenting dalam meningkatkan kesadaran itu adalah diri kita sendiri. Kemudian, tidak adanya sistem pemanajemenan waktu yang baik juga mengakibatkan seseorang menunda pekerjaan tersebut, seperti kurangnya perencanaan yang jelas. Sehingga, mengakibatkan seseorang bingung harus memulai dari mana dan berakhir pada penundaan lagi. Tidak hanya itu, doktrin dari  lingkungan yang permisif terhadap keterlambatan juga sangat menghambat kedisiplinan dan membuatnya sulit diterapkan dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Dalam beberapa budaya, keterlambatan sering dianggap sebagai hal yang wajar. Bukankah hal yang sudah banyak dinormalisasikan kebanyakan orang itu geraknya cenderung lambat dalam menuju perubahan?

Hal-hal tersebut sangat tidak wajar jika terus kita ulangi dan bahkan menjadi kebiasaan. Banyak solusi lain yang bisa kita terapkan agar budaya ‘nanti dulu’ ini tidak menyebar dan mengotori urgensi kita sebagai seorang Muslim, diantaranya:

Pertama, yaitu bisa dengan mengembalikan tingkat kesadaran yang awalnya minim dalam menghargai pentingnya waktu, kini bisa ditingkatkan dengan cara memahami  bahwa waktu adalah amanah yang harus dijaga, tidak bisa diulang sehingga mesti dimanfaatkan sebaik mungkin.

Kedua, kembali terapkan keefektifan manajemen waktu. Dimulai dari membuat jadwal skala prioritas, atau menyusun daily routine agar adanya barometer dalam kedisiplinan memulai sesuatu tanpa adanya penundaan.

Ketiga, membangun budaya disiplin sejak dini. Contohnya, menghargai waktu orang lain dengan selalu datang tepat waktu dalam pertemuan atau janji. Karena Islam juga menekankan pentingnya menghargai waktu dan mengajarkan bahwa keterlambatan bisa menjadi bentuk sebuah kezaliman. Sebagaimana adagium Arab yang mengatakan:

الانتظار  نصف العذاب

(Menunggu seseorang yang terlambat itu adalah separuh dari azab). Ketika seseorang tidak disiplin waktu, ia tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain yang harus menunggunya. Sebaliknya, ketika kita tepat waktu, kita menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mencerminkan karakter yang kuat dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Manajemen Waktu Para Ulama; Potret Gemilang Manusia Saleh Mengatur Waktunya

Sebagaimana dalam Islam, waktu adalah amanah yang harus dijaga, dan siapa pun yang mampu mengelola waktunya dengan baik akan terhindar dari kerugian. Disiplin waktu juga adalah salah satu kunci dalam mencapai kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh pakar-pakar dalam Ilmu Sosial mengatakan, “Pintu-pintu kesuksesan itu ada 1000, dan kamu tidak akan pernah memasuki pintu kesuksesan manapun hingga kamu masuk dari pintu Kedisiplinan.”

Nyatanya, disiplin waktu yang sudah diujung tanduk kemirisannya, ternyata bisa diatasi dengan kesadaran diri sendiri. Bukan malah menjadi benalu abadi yang selalu kita rawat hingga menggeser proses perubahan dan kemajuan yang baik pada diri kita. Sehingga, kita dapat mengembalikan nilai kedisiplinan ini bukan sebagai pergeseran semata terhadap kesadaran dari setiap individu, tetapi bagian dari transformasi positif dalam karakter seorang Muslim yang beridentitas juga berintegritas.

Posting Komentar

0 Komentar