Di era modernisasi teknologi dan gaya hidup yang serba instan,
disiplin waktu semakin tergerus oleh budaya “nanti
dulu”. Kebiasaan menunda pekerjaan, datang terlambat, dan kurangnya
rasa tanggung jawab terhadap waktu menjadi fenomena yang semakin
mengkhawatirkan. Ironisnya, kemudahan segala akses yang serba cepat terhadap
informasi dan teknologi ini justru sering menjadi distraksi yang membuat
seseorang semakin struggle untuk mengelola waktunya dengan baik. Fenomena
ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada berbagai aspek
kehidupan, seperti dunia kerja, pendidikan, dan interaksi sosial.
Dalam dunia kerja, keterlambatan dan ketidakdisiplinan bisa menghambat
produktivitas tim dan kredibilitas seseorang. Dalam dunia akademik, kebiasaan
menunda tugas yang ‘mepet’ deadline dan belajar di saat-saat terakhir
berujung pada ketidaksempurnaan kualitas hasil belajar serta meningkatkan stres.
Kemudian dalam kehidupan sosial, keterlambatan dalam pertemuan atau janji
mencerminkan kurangnya menghargai waktu
orang lain dan menimbulkan ketidaknyamanan dalam hubungan antarmanusia.
Jika kita pandang dari kacamata Islam, tidak seharusnya seorang
Muslim itu payah dalam kedisiplinan waktunya. Mengapa? Karena waktu sangat
signifikan dalam ajaran Islam. Bahkan, Allah dalam Al-Qur'an telah bersumpah
atas nama waktu, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali; wal-Asr (Demi
Masa) Q.S 103:1 , wal-Fajr (Demi Waktu Fajr) Q.S 89: 1, wa-Subh (Demi
Waktu Subuh) Q.S 81:18. Imam Syafi’i juga pernah mengatakan, “Seandainya Al-Qur’an tidak diturunkan kepada kita melainkan
hanya surah Al-Asr yang berbicara tentang waktu, maka cukup itu menjadi
pegangan bagi kita untuk menjadi manusia sukses di dunia dan bahagia di
akhirat.” Oleh karenanya, disiplin waktu bukan hanya persoalan
efiensi, tetapi juga bagian dari akhlak dan nilai spiritual yang harus melekat dalam
kehidupan sehari-hari pribadi seorang Muslim.
Filosofi Waktu adalah bagaimana kita memasukkan makna pada waktu kita, dan itu semua berdasar pada kesadaran.
Itu sebabnya, Islam mengajak umatnya untuk mengendalikan waktu bukan
dikendalikan oleh waktu. Caranya dengan melalui berbagai manajemen yang diciptakan
oleh ritualitas untuk spiritualitas. Contohnya, kita sholat ada waktunya, puasa
juga ditentukan pada bulan ramadhan dan kenapa waktu itu selalu diatur pada ritualitas
kita? yaitu agar kita bisa dididik oleh agama menjadi pengendali waktu bukan
orang yang dikendalikan oleh waktu. Hasil dari merealisasikan kesadaran akan
pentingnya waktu itu adalah wujud dari kita yang bisa menjadi pengendali waktu
tersebut. Disiplin waktu bukan hanya tentang keteraturan hidup saja, tetapi
juga tentang moralitas dan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa waktu adalah bagian dari kehidupan yang
akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Begitu juga budaya ‘nanti dulu’
ini, tentu saja tak lepas dari pengadilan di akhirat kelak. Prokrastinasi atau
yang kita sebut budaya ‘nanti dulu’, semakin menjamur dikehidupan serba modern
ini. Kebiasaan buruk seperti ini menyebabkan seseorang cenderung menunda pekerjaan atau menyepelekan sikap
disiplin pada waktu yang mengakibatkan suatu pekerjaan atau kegiatan yang
seharusnya sudah dimulai atau selesai dikerjakan menjadi terbengkalai.
Biasanya, awal mula terjadi budaya ini dimulai dari hilangnya kesadaran
akan berharganya sebuah waktu. Sedangkan, kita tahu sendiri bahwa komponen
terpenting dalam meningkatkan kesadaran itu adalah diri kita sendiri. Kemudian,
tidak adanya sistem pemanajemenan waktu yang baik juga mengakibatkan seseorang
menunda pekerjaan tersebut, seperti kurangnya perencanaan yang jelas. Sehingga,
mengakibatkan seseorang bingung harus memulai dari mana dan berakhir pada
penundaan lagi. Tidak hanya itu, doktrin dari lingkungan yang permisif terhadap keterlambatan
juga sangat menghambat kedisiplinan dan membuatnya sulit diterapkan dalam kehidupan.
Bagaimana tidak? Dalam beberapa budaya, keterlambatan sering dianggap sebagai
hal yang wajar. Bukankah hal yang sudah banyak dinormalisasikan kebanyakan
orang itu geraknya cenderung lambat dalam menuju perubahan?
Hal-hal tersebut sangat tidak wajar jika terus kita ulangi dan
bahkan menjadi kebiasaan. Banyak solusi lain yang bisa kita terapkan agar
budaya ‘nanti dulu’ ini tidak menyebar dan mengotori urgensi kita sebagai
seorang Muslim, diantaranya:
Pertama, yaitu bisa dengan mengembalikan tingkat kesadaran yang
awalnya minim dalam menghargai pentingnya waktu, kini bisa ditingkatkan dengan
cara memahami bahwa waktu adalah amanah
yang harus dijaga, tidak bisa diulang sehingga mesti dimanfaatkan sebaik
mungkin.
Kedua, kembali terapkan keefektifan manajemen waktu. Dimulai dari
membuat jadwal skala prioritas, atau menyusun daily routine agar adanya
barometer dalam kedisiplinan memulai sesuatu tanpa adanya penundaan.
Ketiga, membangun budaya disiplin sejak dini. Contohnya, menghargai waktu orang lain dengan selalu datang tepat waktu dalam pertemuan atau janji. Karena Islam juga menekankan pentingnya menghargai waktu dan mengajarkan bahwa keterlambatan bisa menjadi bentuk sebuah kezaliman. Sebagaimana adagium Arab yang mengatakan:
الانتظار نصف العذاب
(Menunggu
seseorang yang terlambat itu adalah separuh dari azab). Ketika
seseorang tidak disiplin waktu, ia tidak hanya merugikan dirinya sendiri,
tetapi juga orang lain yang harus menunggunya. Sebaliknya, ketika kita tepat
waktu, kita menghargai diri sendiri dan orang lain, serta mencerminkan karakter
yang kuat dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Manajemen Waktu Para Ulama; Potret Gemilang Manusia Saleh Mengatur Waktunya
Sebagaimana dalam Islam, waktu adalah amanah yang harus dijaga,
dan siapa pun yang mampu mengelola waktunya dengan baik akan terhindar dari
kerugian. Disiplin waktu juga adalah salah satu kunci dalam mencapai kesuksesan,
baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh pakar-pakar dalam Ilmu Sosial
mengatakan, “Pintu-pintu kesuksesan itu ada 1000, dan kamu tidak akan pernah
memasuki pintu kesuksesan manapun hingga kamu masuk dari pintu Kedisiplinan.”
Nyatanya, disiplin waktu yang sudah diujung tanduk kemirisannya,
ternyata bisa diatasi dengan kesadaran diri sendiri. Bukan malah menjadi benalu
abadi yang selalu kita rawat hingga menggeser proses perubahan dan kemajuan
yang baik pada diri kita. Sehingga, kita dapat mengembalikan nilai kedisiplinan
ini bukan sebagai pergeseran semata terhadap kesadaran dari setiap individu,
tetapi bagian dari transformasi positif dalam karakter seorang Muslim yang beridentitas
juga berintegritas.
0 Komentar