Oleh: Abdullah M. Azzam
Dunia seringkali memandang perdamaian sebagai sebuah garis finis yang
statis, padahal ia adalah sebuah perjalanan panjang dan dinamis. Seperti yang
diperjuangkan oleh para tokoh kemanusiaan. Perdamaian sejati selalu berakar
pada pengakuan atas martabat manusia dan keberanian untuk berdialog di tengah
perbedaan.
Di era modern, tantangan ini semakin kompleks karena maraknya
disinformasi, polarisasi sosial akibat media sosial, ekstremisme, dan ketimpangan
ekonomi global. Namun, tekanan politik justru memperkuat tekad perempuan ini
untuk memperjuangkan hak asasi manusia melalui jalur hukum.
Shirin Ebadi lahir di Kota Hamadan, Iran, pada tahun 1947. Semenjak
kecil, ia dibesarkan oleh orang-orang yang luar biasa, yang selalu memiliki
pemikiran progresif. Ayahnya merupakan salah satu dari mereka dan pada tahun 1953 ayahnya
menolak berkompromi dari pihak Barat demi mempertahankan integritas kariernya.
Keberanian ayahnya menjadi panutan bagi Ebadi untuk tampil lebih berbeda dalam
melawan tekanan.
Menyusul kemenangan Revolusi Islam pada Februari 1979, Islam menurut
pandangan pemerintah melarang wanita bekerja sebagai hakim. Akhirnya Ebadi dan
wanita lainnya diberhentikan dari pekerjaannya. Setelah bertahun-tahun Ebadi
meninggalkan pekerjaannya dan mulai mencari lisensi pengacara dan mengatur
praktiknya sendiri.
Setelah tahun 1979 dia terpaksa mengundurkan diri dari hakim dan dia mulai
menulis buku tentang hak-hak anak; kemudian hak-hak pengungsi. Dia juga mengajar
di Universitas Teheran, dengan risiko dia menulis dan berbicara atas nama
demokrasi dan kebebasan beragama. Ia memulai memperjuangkan hak-hak perempuan
sejak tahun 1990-an.
Seluruh perjuangan dalam menegakkan keadilan dan hak asasi manusia semua
tertuang dalam bukunya Until We Are Free: My Fight for Human Rights in Iran
(2016). Dalam memandang semua masalahnya, Ebadi berpikir bahwa pemerintah
Iran menderita fobia karena mereka percaya bahwa semua orang siap untuk
menggulingkan rezimnya.[1]
Perjuangan Perempuan di Bawah Rezim Iran
Perjuangan perempuan di Iran sudah mendapat dampak walaupun belum begitu
pesat. Namun setidaknya ada beberapa aspek kehidupan sosial-politik mulai diisi
oleh sebagian perempuan di Iran. Yang semula kursi parlemen diisi oleh para
laki-laki kini sudah diisi oleh para wanita dan mereka sudah diizinkan
berkecimpung dalam dunia politik.
Perjuangan yang dilakukan oleh para perempuan Iran terus berlangsung
hingga sekarang, Shirin Ebadi sebagai agen perdamaian dunia, khususnya menyoroti
ketidakmampuan perempuan dalam melawan kekerasan yang terjadi. Ia tetap
berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam
kehidupan sosial masyarakat.
Adapun gerakan yang dilancarkan oleh aktivisme perempuan organisasi nonpemerintah (LSM) yang berjuang untuk hak-hak perempuan melalui aktivisme masyarakat sipil yang dimulai sejak pertengahan tahun 1990-an. Mereka memiliki peran dalam menentang negara, mempertahankan demokrasi dan mengangkat isu kompatibilitas dan modernitas Islam (Rostami dan provey, 2012, hlm. 174)
Nobel Perdamaian dan Hari Tanpa Kekerasan Internasional
Puncak pengakuan atas perjuangannya pada tahun 2003. Komite Nobel
Perdamaian di Norwegia, menganugerahi Shirin Ebadi penghargaan Nobel.
Penghargaan ini diberikan atas perannya dalam mempromosikan perdamaian dunia,
persaudaraan antar bangsa, serta pengurangan konflik. Ebadi terukir dalam
sejarah perempuan Muslim pertama yang meraih penghargaan bergengsi tersebut.
Tak terhenti di situ, Ebadi dan para pendukungnya juga aktif dalam perdamaian global. Ia mengajukan
proposal tentang hari tanpa kekerasan ini pada Forum Sosial Dunia di Mumbai,
India. Gagasan ini disambut baik melalui resolusi konferensi di New Delhi pada
tahun 2007 yang diprakarsai Sonia Gandhi. Hasil akhirnya, pada tanggal 15 Juni
2007, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari
Tanpa Kekerasan Internasional (International Day of Non-Violence).
Shirin mengajarkan bahwa hak setiap manusia harus tetap ditegakkan di
mana pun dan kapan pun. Hak perempuan dan anak adalah hak yang utama bagi
Shirin, dalam menegakkan keadilan di negara Iran. Ketika suara rakyat dibungkam
dia bersuara melalui karyanya dan media yang tersedia. Maka setiap zaman ada
masalahnya dan setiap masalah harus ada solusinya. Pada akhirnya perdamaian adalah
keberanian untuk tetap tegak demi kebenaran, bahkan saat badai ketidakadilan
menerjang.
[1] Pratimi T., Santosa
A.B., “Shirin Ebadi: Cita-cita Hawa di Tanah Bangsa Arya” Jurnal Sejarah
dan Pendidikan Sejarah, 13(2024), no.2

0 Komentar