Pendarmesir.com—Kairo
(4/4), sebagai upaya menyingkap integritas dan kapasitaas dari masing-masing Calon
Presiden dan Wakil Presiden PPMI Mesir periode 2026-2027, Panitia Pemilu Raya PPMI
Mesir 2026 mengadakan Debat Kandidat bagi kedua pasangan calon, Wildan Akbar-Moch
Fikri (Wifi) dan Azka Sabili-Daffa Rahmatullah (Kaffah) di Aula Wisma
Nusantara, Rab’ah. Acara ini terdiri dari empat segmen: debat komperhensif,
debat ekploratif, debat panelis, dan debat terbuka.
Masalah
finansial menjadi isu yang banyak diangkat dalam Debat Kandidat tahun ini. Pada
segmen debat komprehensif, paslon Kaffah menanyakan paslon Wifi mengenai penarikan
iuran pangkal yang belum terealisasi secara menyeluruh dari seluruh mahasiswa
baru melalui mediator-mediator. Wildan menjawab, “Dari kami merasa bahwa
masalah uang pangkal maba yang terjadi—masalah saat ini—disebabkan oleh
kurangnya komunikasi dari pihak PPMI.” Ia menambahkan perlunya menyertakan benefit
dan alasan yang jelas kepada pihak mediator terkait. Wifi menyatakan akan
membentuk sebuah tim tersendiri yang berfungsi sebagai pengawas dan penanggung
jawab dalam masalah ini. “Pemantau Mediator,” ucapnya.
Pertanyaan
serupa kembali muncul pada segmen eksploratif, Ari Pratama sebagai responden pertanyaan
diplomasi menanyakan kepada kedua paslon mengenai isu penarikaan uang pangkal
mahasiswa baru serta regulasi keberangkatan camaba dari Indonesia. Kaffah
menanggapi dengan mengusung ide mengenai pentingnya BSO Kajian Strategis
(Kastrat) terhadap segala kebijakan PPMI, termasuk dalam permasalahan tersebut.
Dalam urusan regulasi pemberangkatan camaba, Kaffah juga berencana melanjutkan
berbagai diplomasi kepada pihak eksternal yang telah dilakukan oleh periode
sebelumnya, dan jika tidak berhasil maka harus dimunculkan solusi baru. “Contoh,
bahwasanya PPMI berhak-wajib menyuarakan rasa keterwakilan dan keresahan teman-teman,
mengambil sikap, menuntut dari pemerintah Indonesia agar ikut mengatur regulasi
keberangkatan calon mahasiswa baru yang ada di sini.”
Pada segmen
debat panelis, Razi Alif sebagai panelis organisasi menyinggung kemandirian
finansial PPMI, khususnya terkait BUMO (Badan Usaha Milik Organisasi), yang
belum pernah terealisasi sehingga PPMI masih terlalu bergantung pada iuran
pangkal Mahasiwa Baru. Menurut Wifi, penyebab utama belum terfokusnya realisasi
BUMO adalah karena proses pembentukannya dinilai tidak bisa diwujudkan dalam
waktu singkat. Fikri menekankan perlunya pengawalan terhadap GBHO (Garis Besar
Haluan Organisasi) dari pihak DP dan Legislatif, supaya setiap program sesuai
dengan GBHO.
Menjawab
masalah yang sama, paslon Kaffah, memandang perlunya upgrading-upgrading
atau penaikan standar untuk memahami sistem usaha organisasi berjalan. Kaffah
juga menambahkan akan mengalihkan fungsi utama mobil PPMI, dari hanya untuk
operasional, menjadi alat pengembangan usaha ekonomi kreatif dengan disewakan. Kaffah
juga menyinggung dana abadi. “Begitu pun PPMI punya dana abadi sejumlah kisaran
580 juta, maka perlu kajian khusus apakah dana abadi tersebut harus dibelikan
aset yang baru—diasetkan—sehingga ekonomi akan terus berputar.”
Acara ini dimulai
pada 11.40 WLK (terlambat 1 jam 40 menit dari waktu yang tertera pada postingan
Instagram Pemira) dan diakhiri dengan closing statement serta pelukan
hangat dari kedua paslon. Debat yang menurut Nur Salim (salah satu panelis) berjalan
panas dan menegangkan ini berakhir pada 17.30 WLK.
Red: Febdiyu Akhmad
Editor: Ilmi Hatta

0 Komentar