Header Ads Widget

Darussalam Catering

Iftah – Chapter 2

 

Tin ... Tin ... Tin ...

Ustaz Arham, dengan wajah yang sangar sedang menunggangi motor kebanggaannya. Emisi karbon monoksida disemburkan knalpot laksana kentut hitam. Semua itu membawa kesan galak yang tak terelakkan dari diri Ustaz Arham. Guru Staf KMI itu sedang berkeliling untuk mengondisikan kami, kelas 5, untuk segera ke BPPM – Balai Pertemuan Pondok Modern. Tidak ada yang boleh terlambat, yang terlambat konon akan digundul oleh Ustaz Arham.

Rayonku tidak jauh dari BPPM. Setelah turun tangga, hanya beberapa puluh meter ke arah barat laut. Kulihat teman-teman seangkatan lainnya yang sedang berlarian kecil diiringi suara klakson motor Ustaz Arham. Tidak kusangka, Al-Akh kelas 5 yang dulu sering kulihat berlari ke BPPM untuk Fathul Kutub itu sekarang adalah Aku. Al-Akh Mudabbir yang gemar bercerita – dengan bumbu hiperbola – tentang betapa kerennya Fathul Kutub ke anggota-anggota asrama sambil memperlihatkan hasil belajarnya itu sekarang adalah Aku.

Berduyun-duyun siswa kelas 5 KMI berkumpul. Bangku-bangku di balai pertemuan terisi sebaris demi sebaris oleh kami yang mengenakan kemeja putih dan qalansuwah hitam – seragam khas kelas lima. Panca Jiwa dan Moto Pondok terpatri besar di sisi kanan dan kiri panggung, dan di diri para santri. Berbagai ayat-ayat perjuangan dari firman Tuhan tersaji di sisi atas dan mengelilingi dinding BPPM. Falsafah pondok tidak luput tersanding di bawahnya. Sembari menunggu, telinga kami dimanjakan oleh sambutan lagu nasyid akustik yang dimainkan langsung di balai pertemuan. Pendingin ruangan mengembuskan udara sejuk. Apa yang kaulihat, kaudengar, dan apa yang kaurasakan adalah pendidikan.

Di kepalaku masih banyak pertanyaan yang terbenak, Apa sebenarnya Kutub Turast ? Ada apa saja? Dan bagaimana cara menguasainya? Kita mau belajar apa di Fathul Kutub ini? Rasa penasaran menyeruak kuat, tidak sabar untuk mulai menjelejahi jengkalan dunia yang baru itu.

Pertemuan pertama pasti berisi pengarahan supaya kami semua tahu agenda ini kenapa dan untuk apa. Bapak Direktur KMI merapat ke mimbar. Beliau mengucapkan salam dan menyapa kami, anak-anaknya. Bahasa Arab yang dituturkannya punya tingkat kefasihan yang berbeda. Tidak terasa ada dialek Indonesia di lisannya. Artikulasi yang jelas dan intonasi yang tepat menciptakan kesan kharismatik yang mustahil tidak membekas. Bapak Direktur tidak berbicara panjang, hanya menyapa dan menjelaskan beberapa hal teknis penting. Setelah dirasa cukup, beliau menutup sambutannya dan mempersilakan Bapak Pimpinan Pondok untuk menyampaikan nasihat.

Bapak Kiai berdiri dan berjalan ke mimbarnya. Kami tidak mendapati kerentaan pada langkah kakinya yang begitu tegas. Seakan ada semangat terus yang menggerakan kakinya untuk bergerak. Beliau duduk di atas kursi di balik mimbar itu lalu menyapu pandangannya ke arah kami semua. Kami khidmat menanti. Bagi beliau hanya butuh duduk dan diam supaya kharismanya dapat terpancar hingga menyentuh setiap sudut balai pertemuan. Kedua tangannya menggenggam uliran kayu di pojok mimbar lalu dengan fasih mengucap salam, menyapa kami semua.

Bilamana sebelumnya Bapak Direktur menjelaskan mekanisme teknis, maka Bapak Pimpinan menerangkan kepada kami Fathul Kutub secara lebih dalam. Kami dikenalkan dengan latar belakangnya secara historis, serta tujuannya dalam pembentukan isi kepala para santri. Kalimat-kalimat yang terucap oleh Kiai mengalir ke telinga dan hati kami. Nasihat-nasihatnya ringan dan mudah diterima, seperti bercerita biasa saja, namun tetap menggelora hingga kami hampir tidak percaya bahwa rambut beliau sudah putih dan kulitnya sudah keriput. Tidak tahu dari mana tenaga dan kekuatan itu datang ke dalam fisiknya yang sudah senja – barangkali dari Tuhan. Gurauannya pun tidak luput memberi warna bagi pagi kami. Damai dan hangat, itulah keadaan sanubari kami.

Selain gurauan dari beliau, ada hal lain yang dari awal sudah membuatku senyam-senyum sendiri. Kepalaku mengangguk-angguk sambil mencatat poin-poin hebat yang baru Aku tahu. Ternyata ini, ternyata itu, ternyata dan ternyata, ternyata pengetahuanku – seorang santri yang selalu mendapat predikat mumtaz – masih kurang. Aku jadi tahu seberapa brilian pondok yang telah memilih dan menetapkan konsep pembelajaran dengan metode ini.

Di kanan dan kiriku, ada berbagai macam anak kelas 5. Dari mereka ada yang sama sepertiku, mencatat dan fokus. Ada yang mengangguk-angguk karena mengantuk, yang biasanya akan dibangunkan oleh guru-guru yang berkeliling atau kalau tidak beruntung akan dibangunkan oleh Bapak Pimpinan langsung. Sebagian lain ada yang mengobrol (yang ini pasti akan kena hukum Ustaz Arham nantinya).

Bagaimana mungkin aku tertidur sedangkan aku sedang mendapat dikte atas kebodohanku sendiri. Untung saja aku terus memperhatikan dengan fokus. Bayangkan aku melek walang dan melewatkan petuah ini, mungkin aku nanti menjadi alumnus pesantren yang kurang bekal keilmuannya, yang tidak musta’mal di masyarakat, apalagi yang salah paham terhadap pondoknya.

Inilah yang selama ini kunantikan. Aku merasa sangat beruntung berada di sini, di acara ini, di pondok ini. Petuah-petuah yang kuterima kali ini kutulis, bahkan kalau bisa kuukir di dalam catatanku.

“Jangan sampai kalian, anak-anakku, jadi seperti kuda delman yang diikat, dipecuti, dan matanya tertutup oleh kacamata kuda. Sehingga kuda itu hanya bisa melihat ke satu arah saja dan menuruti kemauan sang kusir tanpa punya pilihan apapun. Jadilah kalian, anak-anakku, seorang manusia yang merdeka, yang berbekal pengetahuan yang luas dan pikiran yang bebas. Setelah memiliki bekal itu, silakan, pilihlah jalan kalian masing-masing untuk bersama menggapai rida ilahi.

“Kegiatan ini tidak akan menjadikan kalian pintar dan langsung menjadi ulama. Pondok bukan penyihir. Namun, di sini, anak-anakku diberi kunci! Jadi, setelah kegiatan ini nanti selesai, jangan berhenti. Jangan berhenti untuk belajar. Jadilah pembelajar seumur hidup dan gunakan kunci yang sudah kalian dapatkan di sini, di pondok ini, untuk membuka pintu-pintu ilmu yang lebih luas lagi bahkan setelah kalian lulus dan menjadi alumni.”

Rentetan Fathul Kutub melaju dinamis. Setelah usai sesi pengarahan oleh Bapak Direktur KMI dan Bapak Pimpinan, kami langsung melangkah menuju pembekalan untuk empat materi utama di Fathul Kutub: Fikih, Akidah, Tafsir, dan Hadis. Empat sesi itu kami hadiri dari pagi, malam, hingga pagi lagi. Ini tidak kalah seru, tidak kalah dalam membuatku merasa bodoh. Keempat fann itu dipreteli, defenisinya, nama penyebutannya, sumbernya, objek pembahasannya, hingga hukum pembelajarannya. Terlihat di depan kelas, pemateri mengerahkan seluruh alat untuk memberi penjelasan, papan tulis dan kapur, sampai proyektor dan layar. Keringat kami tak bisa lagi dibendung. Kami bertahan dari jilatan panas untuk fokus menyerap ilmu-ilmu baru.

Sungguh keren sekali. Aku baru tahu perbedaan maksud dari Aqidah dan Tauhid. Kukira hanya sinonim saja. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan penjelasannya dari Ustaz Iqbal yang dengan elegan membedah dua kata itu secara etimologis (waw, etimologis) dan mendudukkannya ke dalam pemaknaan yang lebih spesifik. Aku juga baru sadar – padahal seharusnya sudah diajarkan di kelas – kalau ilmu hadis itu punya dua pembagian. Astaga, ke mana saja aku selama ini di pondok.

Dikenalkan juga daftar buku-buku pada setiap disiplin ilmu. Di Ilmu Akidah ada Aqidatul Awam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi, hingga Al-Iqtishad fil I’tiqad milik Imam Al-Ghazali. Dalam disiplin ilmu fikih kami dikenalkan dengan Fathul Qarib Al-Mujib, di Tafsir ada Tafsir Jalalain, di ilmu Hadis kami dikenalkan dengan Majalis As-Saniyyah syarah atas kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah – tidak tahu apa maksudnya ‘syarah atas’, yang jelas itu terdengar keren sekali. Tanganku hampir kewalahan setiap kali materi sampai di bagian penyebutan nama-nama kitab yang banyak sekali itu.

Aku tahu persis kalau semua daftar kitab itu mungkin tidak akan sanggup kugeluti semua di pondok, atau bahkan mungkin umurku tidak akan cukup untuk membaca semua karya ulama di seluruh perpustakaan umat. Tidak mungkin. Namun, ini semua cukup menjadikan rasa antusias dan penasaran dalam diriku tumbuh dan mengakar dalam meski belum melihat bagaimana bentuk fisiknya. Nama-nama kitab itu dengan sampul dan kertasnya yang khas seakan punya setruman magis yang menggugahku. Aku terinspirasi hingga membayangkan suatu saat aku bisa menjadi seperti ulama di balik kitab-kitab itu, atau setidaknya mendekati.

Entah kapan pastinya, isi dari kitab-kitab itu terkumpul di kepalaku, hingga mengendap jadi kebijaksanaan. Entah apakah kelak aku benar-benar bisa menuliskan karya juga. Aku tidak tahu. Namun, suatu saat, kalau Tuhan menghendaki, aku yakin aku bisa.

***

Cek ... cek ... ngiiing ...

Sekarang giliran Ustaz Arham lagi, bukan di atas motor berpolusi kebangaannya, tapi di atas panggung balai pertemuan. Wajahnya yang menyeramkan menjadi titik pusat perhatian kami semua. Tangannya menggenggam mic yang baru saja suaranya terjangkit ‘feedback’. Astaga, pengarahan lagi. Kapan mulainya ini, padahal aku sudah tidak sabar ingin menyentuh kitab-kitab itu.

“Setelah ini, kelas lima, silakan istirahat.” Aku tidak percaya apa yang kudengar. Apa ...?! dia memberi kita istirahat? Sejak kapan rasa welas asih melekat pada diri ustaz garang nan hobi menggundul kami ini. Memang rentetan kegiatan Fathul Kutub dari awal lumayan menguras tenaga dan pikiran. Jadi, ini kesempatan langka. Kami kegirangan dalam senyap. Kegirangan sampai pengumuman selanjutnya diucapkan, “nanti jam sebelas, semuanya sudah berkumpul lagi untuk penertiban.” Ya, seperti inilah kelas lima, mau bagaimana lagi. Tinggal dinikmati saja.

Tepat di waktu yang telah digariskan oleh Ustaz Arham, kami semua berkumpul di balai pertemuan. Tidak jauh beda dari penertiban pada umumnya, kami di bagi menjadi kelompok-kelompok. Sebagian menyusun bangku-bangku di balai pertemuan menjadi melingkar. Ada yang mendapat tugas mengangkat rak-rak buku. Sebagian lainnya diarahkan ke Maktabah Turast untuk mengambil kitab-kitab.

Aku masuk bagian yang ketiga, dan astaga ... aku baru tahu kalau pondok punya perpustakan sekeren ini. Ke mana saja Aku. Di sana Ustaz Arham dan kitab-kitab yang sudah terikat menyambut kami. Sepaket demi sepaket kami turunkan kitab-kitab itu ke gerobak datar di lantai bawah.

Inovasi jenius bernama gerobak datar itu sama seperti gerobak pada umumnya, hanya saja permukaannya sengaja dibuat datar untuk memudahkan santri memindahkan banyak barang sekaligus dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ini dia, kitab-kitab itu. Sambil kuangkat, sambil kuintip judul-judulnya. Terlihatlah sebuah kitab bertajuk Tanqih Al-Qaul Al-Hatsits. Apakah ini kitab hadis? Kutatap lamat-lamat sampulnya, dan tanganku juga mengelusnya. Aku penasaran sekali apa isi dari kitab ini, tapi belum saatnya aku menjelajahinya. Sekarang fokus melaksanakan tugas untuk mengantar seluruh kitab ini ke balai pertemuan. Gerobak datar pun meluncur.

***

Tin ... Tin ... Tin ...

Waktu berputar cepat bagai roda gerobak datar. Sinar mentari sudah sepenuhnya hilang, menyisakan malam yang damai – sampai dirusak oleh suara klakson dan knalpot dari motor Ustaz Arham. Kami berlarian dari berbagai penjuru Darussalam.

Saat kakiku melangkah masuk ke BPPM, aku merasa berada di dimensi yang berbeda. Pemandangan yang ditangkap mata terasa asing, baru, tapi dekat. Tempat ini disulap bagaikan perpustakaan, lengkap dengan meja-meja diskusinya. Seperti ada rindu yang tertebus saat diriku hadir di sepetak dunia baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kegiatan utama Fathul Kutub baru saja akan dimulai.

Mataku sibuk mencari pamflet bertuliskan angka 26 di antara setiap dari meja dan bangku yang disusun melingkar. Kini di balai pertemuan ada puluhan lingkaran, dan setiap lingkaran akan menjadi markas bagi kelompok-kelompok yang telah dibagi. Aku ditentukan masuk di kelompok 26 bersama belasan siswa lainnya. Setiap kelompok terdiri dari anggota kelas yang berbeda. Namaku tentu paling atas, karena penempatan kelas tersistem secara berurutan, dimulai dari yang paling atas (dan favorit) di kelas B sampai yang terakhir.

Kegiatan sebentar lagi dimulai. Aku sudah menemukan markas kelompokku, kelompok 26. Sederet kitab klasik di tengah meja menyambutku. Di lingkaran sudah ada teman-teman kelompokku, sebagian besar sudah kukenal, sisanya tetap familiar walau belum berkenalan. Dan yang duduk tepat di sampingku menjulurkan tangannya, wajahnya berseri-seri antusias. Aku tahu wajah ini, anak kelas 5C (kelas bawahku). Dengan senyum yang naif, dia julurkan tangannya. “Fatih, ya. Ana Izza.”

Aku raih julur tangan Izza dan membalas dengan seringai tipis. Tidak ada obrolan lagi setelah itu, karena di atas panggung Ustaz Arham sudah memegang mic. Dia mengatakan bahwa setelah ini akan ada pembacaan absen. Pengumuman itu bak mantra atau aba-aba pemanggil, karena tepat setelah dia kembali turun dari mimbar terlihat ada banyak guru yang datang, menyebar, dan meluncur ke lingkaran-lingkaran kelas lima. Seperti kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga.

Saat mataku sedang jelalatan melihat ke sekeliling balai pertemuan, tiba-tiba di tengah kami sudah ada seorang Ustaz. Kemejanya putih bersih dibalut oleh jas hitam. Qalansuwah dan dasi yang senada dengan warna jas melengkapi tampilannya. Kulihati sepatunya kinclong minta ampun. Senyum yang selebar mentari telah terpampang di wajahnya sejak pertama kali muncul di penglihatanku. Ustaz yang satu ini, meski belum benar-benar kenal, tapi wajahnya sangat familiar bagiku, bagi kami kelas 5, bahkan mungkin bagi seluruh santri. Sangat khas. Tangan kanannya bergerak membenahi kacamata, lalu mulai membaca absen kelompok 26. Sambil dia sebut nama kami satu persatu, dia bercerita dan bergurau.

Tidak luput namaku juga jadi bahan eksplorasi kejenakaan beliau. “Fatih ....”

“Hadir.”

“Kenapa nama kamu Fatih?” ucapnya sambil wajah dan alisnya mengkerut. Terlihat sangat lucu dan teatrikal sekali. Tentu namaku terinspirasi dari seorang tokoh pemimpin muslim yang terkenal. Namun, belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah bercerita lagi, “Tidak perlu kamu jawab, Fatih.” Aku urung merespons, sang guru melanjutkan ucapannya, “1453 Masehi seorang sultan muda dari Kesultanan Turki Usmani bernama Sultan Mehmed II berhasil memenuhi nubuat dari Rasulullah dengan menaklukkan Ibukota Romawi Timur, Konstantinopel!”

Kisah tentang penaklukkan Konstantinopel sudah kami pelajari saat kelas 4 kemarin. Entah kenapa, ketika ustaz kacamata ini bercerita, kisah itu terasa masih baru dan seru untuk didengar. Melalui teater kecil di atas meja, dia sampai memeragakan bagaimana dinding-dinding ibukota Romawi Timur itu digempur oleh meriam raksasa Kesultanan Usmani.

“Akhirnya, setelah memindahkan kapal-kapal ke balik gunung dan tiba di sisi yang tidak pernah diduga musuh, Sultan Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel. Sejak saat itulah Sang Sultan dijuluki Al-Fatih!”

Kami mengangguk dan bertepuk tangan kecil. Senyumku hampir setara lebar senyumannya sekarang. Betapa filosofi namaku dibawakan dengan cerita yang sangat apik dan epik. Kukira sudah. Ternyata Ustaz Bersongkok ini belum selesai.

“Orangtuamu terinspirasi dari nama Sang Sultan, bukan?” Aku mengangguk. “Tapi apa akan berhenti di situ makna dari nama seseorang. Atau nama seseorang itu bisa berkembang pemaknaannya seiring berkembangnya penafsiran orang itu terhadap dirinya sendiri dan terhadap hidup?”

Tidak paham, apa maksudnya? Hanya bisa mendengarkan dengan mata yang mengernyit berusaha mencerna apa filosofi yang disiratkan pertanyaan itu.

“Fatih, secara bahasa artinya ‘yang membuka’. Sultan Mehmed II dijuluki itu karena bisa membuka tembok Konstantinopel dan menaklukkan kezaliman di dalamnya. Tapi apakah hanya itu? Dan kamu, apakah arti namamu bisa juga lebih dari sekadar terinspirasi? Itu tergantung kamu!”

Absen berlanjut dengan kisah-kisah yang berbeda pada setiap nama. Izza contohnya – yang namanya ada di absen kedua setelahku di kelompok. Ketika berhenti di namanya, sang guru bercerita tentang perjuangan mujahid di Palestina. Mengingat nama Izza berkaitan dengan nama Izuddin Al-Qassam, dan berkaitan juga dengan doa “Allahumma ‘aizzal Islam wal Muslimin”.

Ada saja cara beliau menarik keterhubungan nama kami dengan sebuah kisah. Bahkan nama yang kental dari suatu daerah tertentu, dia punya cara sendiri untuk mengisahkannya. Waktu absen kami habis untuk cerita dan cerita, dari sejarah Islam, sejarah nasional, pengalaman pribadi, sampai yang fiksi. Aku tidak tahu seberapa banyak stok cerita di kepalanya. Sangat asyik, tawa tidak bisa tertahan dari perut kami.

“Sekarang, giliran saya yang kenalan. Nama saya Nafi’, ya. Saya yang akan jadi pembimbing antum di kelompok 26 ini sepanjang Fathul Kutub. Kita bareng-bareng akan belajar memaknai betapa hebatnya karya-karya yang ada di sekitar kita ini dan seberapa hebat ulama-ulama di baliknya. Sekarang, semuanya ikut saya ...”

Ustaz Nafi’ berjalan meninggalkan lingkaran kami. Kami loading, termangu melihat langkah beliau, tidak langsung merespons perintah beliau. Eh, kok giliran namanya sendiri tidak ada ceritanya? Ini benaran kami boleh pergi? Soalnya kelompok lain tidak ada yang berdiri. Nanti kalau disemprot Ustaz Arham bagaimana?

“Eh, ayo, ikut!” Ustaz Nafi’ tertawa heran. Kami menyengir, saling tatap, hingga akhirnya beranjak dari tempat duduk.

Kami diajak berkeliling ke rak-rak kitab. Setiap kitab yang berbaris di tingkat-tingkatnya memancarkan aura. Menjadikan kami seakan berjalan di lorong waktu. Hei, bagaimana kalau aku menyentuh? Tidak dilarang bukan? Tanganku yang tak tahan, mengelus sampul-sampul kitab yang berjajar di rak. Menyenangkan sekali.

Ustaz Nafi’ berhenti di satu titik. Kami berhenti dan mengelilinginya bagai semut yang bergumul di gula. Diambilnya satu kitab dari rak. Tajuknya tertulis dengan gagah “Majalis As-Saniyyah”. Ini dia kitab yang namanya disebut saat pengarahan. Kalau tidak salah, ini syarah atas ...

“Majalis As-Saniyyah adalah karya Imam Ahmad bin Syaikh Hijazi Al-Fasyani, syarah atas kitab hadis yang masyhur yaitu: Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam Nawawi.” Ustaz Nafi’ membuka kitab itu dan memperlihatkan isinya kepada kami semua. “Sebagaimana namanya, kitab hadis ini menghimpun 40 hadis dalam berbagai tema yang dipilih oleh Imam Nawawi. Tapi apakah semua yang ada di kitab ini adalah tulisan Imam Nawawi? Kan ini kitab Majalis As-Saniyyah? Jadi, apa itu syarah?”

Jari Ustaz Nafi’ menunjukkan langsung garis pembeda antara mana syarah yang ditulis Imam Ahmad dan mana yang merupakan tulisan Imam Nawawi. Kami pun jadi paham mana yang disebut matan dan mana yang disebut syarah. Aku terkesan dan terinspirasi. Rasa penasaran pun semakin tumbuh.

Izza menginterupsi tur kami. “Kalau tidak salah ada yang sebutannya hasyiyah, ya, Ustaz? Kalau yang itu seperti apa, ya?”

“Benar sekali, seperti itu budaya keilmuan ulama kita. Terkadang ketika seorang ulama membuat karya, ia sengaja menuliskannya dalam format yang ringkas dan umum. Itu terjadi karena banyak hal. Pertama, karena karya itu pada dasarnya adalah catatan sang guru untuk memudahkannya menjelaskan detailnya secara langsung, atau juga untuk memudahkan para murid dalam menghafalkan ilmu.

“Seiring berjalannya waktu, murid-murid dari guru yang menulis kitab tadi atau ulama yang hidup di masa berikutnya berusaha memberikan detail penjelasan atas catatan yang ringkas dan umum tadi. Satu matan, bisa jadi memiliki banyak syarah dari berbagai ulama dengan pendekatannya masing-masing tergantung zaman dan tempat. Katakan satu kitab fikih Safinatu Naja yang memiliki banyak syarah, di antaranya: Kasyifatu Saja, Nailu Raja’, dan Ghayatul Muna. Ulama kita memang rajin menulis, selain menuliskan karya sendiri, mereka juga giat membuat syarah atas kitab-kitab pendahulunya, atau menulis hasyiyah. Nah, kalau Hasyiyah ini, mudahnya level setelah syarah.”

“Jadi, syarah dari syarah begitu, Ustaz?”

“Bisa dibilang begitu, Izza.”

Oh, begitu. Tidak bisa bohong, aku iri pada anak kelas 5C itu. Bagaimana mungkin aku kalah kritis dan kalah wawasan. Aku seharusnya lebih tahu dari dia. Lihat saja nanti, akan kubuktikan siapa yang sebenarnya paling unggul di kelompok ini.

Setelah melakukan tur keilmuan bersama Ustaz Nafi’ sang narator, kami kembali ke markas kami. Tidak tahu perasaan apa ini. Aku berat sekali untuk berdekatan dengan Izza. Akhirnya kupilih duduk di bangku sisi lain, di samping teman yang lain. Sekarang kami dikenalkan dengan teknis kegiatan.

Fathul Kutub terdiri dari dua aktivitas pokok: menulis dan berdiskusi. Setiap kelompok akan dibagi menjadi empat sub kelompok. Masing-masing dari kelompok ini akan menjadi penanggungjawab untuk menulis dan mempresentasikan satu dari empat materi yang ada.

Pada satu sesi kami akan diberikan permasalahan sesuai topik masing-masing dan diminta untuk mencarinya di kitab-kitab yang tersedia. Temuan dari kitab akan ditulis dalam sebuah buku catatan khusus yang harus dikumpulkan saat sesi itu juga. Kemudian, pada sesi selanjutnya, kami akan memaparkan temuan kami lalu berdiskusi permateri secara bergantian. Begitu terus, hingga semuanya dapat giliran di setiap materi.

Semoga ini pengarahan terakhir. Anak-anak kelas lima terlihat suntuk karena malam sudah semakin gelap. Anggota rayon, santri kelas 1 sampai 4, terlihat berpulangan dari belajar malam. Semuanya sama-sama menguap. Mudah-mudahan Ustaz Arham menganugerahkan welas asihnya dengan tidak lagi memperpanjang malam. Jangan sampai ada evaluasi atau apapun.

“Kita akan tutup kegiatan malam ini, tapi sebelum itu ada satu pengumuman. “ Astaga, pengumuman apalagi. Kami menahan rasa lelah di hati demi menjaga etika. Berprasangka baik dan taat. Pastilah itu pengumuman penting. “Sebelum kita melanjutkan Fathul Kutub esok hari, Ustaz ingin sampaikan kalau nanti di akhir kegiatan akan ada penghargaan peserta terbaik bagi yang aktif di Fathul Kutub. Mulai besok kami akan menilai semua aktivitas antum!”

Setuju! Aku suka ini. pengumuman yang penting sekali. Sekarang aku tahu harus melakukan apa supaya bisa membuktikan kalau aku lebih unggul daripada Izza. Aku pasti akan menjadi peserta terbaik!

 

– Bersambung


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Masya Allah, cerbung (cerita bersambung) yang berkesannn!!!:))), Apakah ini series dari inthiq?

    BalasHapus