Oleh: Maharani
Angin pagi dari lereng Singgalang membawa wangi padi muda yang berayun pelan. Kampung itu masih seperti dulu—atap-atap gonjong rumah gadang menjulang, bunyi lesung berpacu di halaman, dan surau di ujung bukit yang selalu ramai menjelang subuh. Kampung Batu Limo, di sanalah Rantika lahir dan tumbuh, seorang gadis Minang yang kecantikannya sering membuat orang diam tanpa sadar. Kulitnya sawo matang, matanya bening seperti embun di pucuk ilalang, dan senyumnya jarang sekali muncul, tapi ketika ia tersenyum, seolah sawah, bukit, dan langit ikut merekah.
Rantika juga dikenal bukan hanya karena parasnya. Ia lembut tutur kata, tapi diam-diam cerdas. Dari kecil ia dididik oleh Ninik Mamak dan para guru surau untuk membaca kitab kuning. Rantika baru menginjak usia tiga belas tahun. Usia di mana tangan mulai mahir menumbuk padi dan mata mulai mengerti rahasia tatapan orang dewasa. Rambutnya hitam legam, panjang hingga punggung, sering ia kepang saat membantu ibu di dapur. Meski usianya belum genap dewasa, tutur katanya sudah memantulkan wibawa gadis Minang: lembut tapi tegas, santun tapi tak mudah dibohongi.
Ayah Rantika, Sutan Maharajo, adalah kepala adat yang disegani di nagari. Tegap tubuhnya, bijak tutur katanya, dan setiap ucapannya berlandaskan pepatah “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Di balai, ia penengah sengketa; di rumah, ia guru bagi Rantika, yang menanamkan harga diri dan amanah. Ibunya, Uni Sari, menenun songket untuk hidup. Pepatah yang selalu ia ingat dari seorang ulama kampung, Syekh Abdul Malik, adalah:
“Anak kamanakan baraja ka surau, baraja ka ladang, baraja ka alam. Nan barek samo dipikua, nan ringan samo dijinjiang.” (Anak kemenakan belajar ke surau, ke ladang, dan kepada alam. Yang berat dipikul bersama, yang ringan dijinjing bersama).
Hari itu, pagi berjalan biasa. Tapi di antara rutinitas itu, ada sesuatu yang ganjil.
***
Siangnya, Rantika membantu ibunya menjemur benang songket di halaman. Sinar matahari menyentuh setiap helai benang, membuatnya berkilau bagai emas. Di kejauhan, suara tabuh rebana dari surau bercampur dengan percakapan lelaki-lelaki kampung di warung kopi. Mereka membicarakan kabar dari Padang Panjang—tentang laskar rakyat yang mulai bergerak setelah kabar Proklamasi sampai ke Minangkabau.
“Ada yang bilang Belanda datang lagi lewat NICA,” ujar salah satu lelaki dengan suara berat. Yang lain menimpali, “Iya, tapi Laskar Hisbullah dan pemuda-pemuda kampung sudah siap.” Rantika mendengarnya dari teras. Ada desir khawatir di hatinya, tapi ia tak ingin mengganggu. Baginya, percakapan itu seperti angin yang membawa bau hujan dari kejauhan—belum sampai, tapi pasti mendekat. Menjelang sore, ia ke surau membawa bakul berisi kue untuk anak-anak yang sedang belajar mengaji. Di sana ia bertemu Buya Malik. Lelaki tua berjubah putih itu duduk di beranda surau sambil menatap awan.
“Rantika,” panggilnya lembut. “Kaba dari rantau itu ibaraik angin, kadang bana, kadang hanya bunyi daun. Tapi kalau sudah tercium bau mesiu, jangan pernah ragu untuk mempersiapkan hati.” Ucapan itu membekas, meski Rantika belum mengerti sepenuhnya. Ia hanya tahu, ada sesuatu yang akan berubah.
***
Sore itu, langit di atas kampung Batu Limo berwarna jingga tembaga, memantul di permukaan batang air yang mengalir tenang di tepi kampung. Ayah Rantika—Angku Sutan, duduk di beranda surau, bersandar pada tiang kayu ulin, berbincang dengan seorang lelaki berkopiah hitam dan berselendang songket: Datuk Malin.
“Anak angku di mana kini? Katanya pandai menganyam pandan, ya?” tanya Datuk Malin, suaranya ramah. Tak lama, Rantika muncul dari jalan setapak, membawa talam berisi kue lapek berbungkus daun pisang dan meletakkan sebagian kue itu dihadapan kedua tokoh adat yang sedang berbincang itu.
Datuk Malin tersenyum, seakan mengagumi. “Pantas saja orang kampung sering menyebut namamu. Anak ini, kalau besar nanti, pasti jadi penopang nagari.”
Angku Sutan menepuk pelan bahu putrinya. “Ingat, Nak. Pepatah adat mengatakan, ‘Gadang di kampuang, tinggi di balairung, ka ateh indak ka bawah, ka bawah indak ka ateh.’ Artinya, kita harus tahu diri dan menjaga martabat di manapun berada.”
Rantika mengangguk pelan dan tersenyum malu-malu, kemudian duduk di anak tangga surau sambil menunggu ayahnya selesai berbincang. Angin sore membawa aroma kopi dari warung di seberang jalan surau, menambah hangat suasana.
Malam harinya, Rantika duduk di ruang tengah sambil menenun. Cahaya lampu minyak membuat bayangan wajahnya jatuh di kain songket yang belum selesai. Dari luar, suara langkah tergesa mendekat. Pintu diketuk tiga kali—irama yang hanya digunakan keluarganya saat ada berita penting. Yang datang adalah Fahmi, sepupunya yang baru pulang dari Padang Panjang. Wajahnya pucat, baju lusuh berdebu.
“Ti… ka,” napasnya terengah, “pasukan Belanda sudah bergerak dari arah Bukittinggi. Mereka menangkapi pemuda, termasuk yang dicurigai membantu Laskar.”
Rantika meletakkan kain tenunnya. “Laskar kita?”
“Bertahan… tapi mereka butuh waktu. Buya Malik bilang semua perempuan harus siap mengungsi. Tapi…,” Fahmi menunduk, “Ayahmu—beliau tidak ikut mengungsi. Katanya ada sesuatu yang harus ia selesaikan.” Kata-kata itu membuat dada Rantika berdesir aneh. Ayahnya, seorang tokoh adat terkemuka—juga pengajar mengaji di surau, selama ini terlihat tenang dan jauh dari urusan senjata. Tapi ia teringat kembali sebuah percakapan lama, setahun lalu, ketika ayahnya mengatakan: “Berjuang tidak selalu dengan bambu runcing, kadang dengan pena, kadang dengan doa, kadang dengan sesuatu yang orang lain tidak tahu.”
Keesokan harinya, Rantika menemukan ayahnya duduk di beranda, menggunting benang merah, dan menulis surat panjang di atas kertas kecokelatan. Ia sempat melihat ujung kalimat:
“Untuk kemerdekaan negeri ini, biarlah nyawa menjadi tebusannya.” Saat ia ingin bertanya, ayahnya hanya tersenyum dan mengutip pepatah ulama Minang:
“Budi yang baik akan hidup lebih lama dari raga yang fana.”
Hari-hari berikutnya menjadi aneh—kampung terasa tegang, tapi semua orang berusaha beraktivitas seperti biasa. Di pasar, orang berbisik-bisik sambil membeli beras. Di surau, Buya Malik lebih sering memanggil pemuda-pemuda untuk berunding diam-diam. Dan di rumah, Rantika mulai merasa setiap percakapan keluarganya menyimpan sesuatu yang tak diucapkan.
***
Hujan turun sejak subuh, membuat kabut menggantung di antara pepohonan. Dari surau, terdengar suara Buya Malik memimpin doa qunut nazilah, memohon perlindungan di tengah ancaman. Wajah-wajah jamaah tampak pucat, bukan hanya karena udara dingin, tapi juga karena kabar yang beredar: laskar di kampung tetangga sudah terdesak. Rantika berjalan pulang dengan payung daun pisang. Di jalan, ia bertemu Uni Salma, tetangga yang matanya sembab.
“Rantika… mereka sudah membawa suamiku,” suaranya serak. “Katanya dia menyembunyikan logistik untuk laskar.” Rantika tak tahu harus menjawab apa, hanya memegang tangan Uni Salma erat-erat. Sesampainya di rumah, ia mendapati ibunya sibuk menyiapkan karung berisi pakaian. “Kalau nanti ada aba-aba dari surau, kita berangkat ke ladang di seberang bukit,” kata ibunya lirih. Tapi ayahnya masih duduk di kursi bambu, menulis di kertas yang kini mulai menumpuk di meja. “Ayah… kenapa tidak ikut bersiap?” tanya Rantika. Ayahnya hanya memandang, lalu menjawab dengan pelan,
“Setiap orang punya posisinya di medan juang. Ada yang menembak, ada yang menenun bendera, ada yang menyelipkan pesan di balik ayat-ayat.” Rantika menelan ludah, merasakan sesuatu yang besar sedang terjadi di balik kata-kata itu.
Malamnya, kampung diguncang suara letusan senapan dari kejauhan. Beberapa ibu menjerit, anak-anak menangis. Para pemuda berlari sambil membawa bambu runcing, sebagian menuju surau, sebagian ke arah sungai. Dari celah jendela, Rantika melihat bayangan lampu petromaks berderet di kejauhan—bukan milik warga. Itu pasukan Belanda. Ayahnya berdiri, mengambil gulungan kain dari lemari.
“Tika, kalau Ayah tidak kembali sebelum fajar, bawalah ini ke Buya Malik,” katanya sambil menyerahkan kain itu. Rantika ingin bertanya, tapi ia hanya merasakan genggaman ayahnya yang hangat dan tatapan yang sulit dilupakan.
Di luar, langkah-langkah tentara semakin dekat. Angin malam menusuk kulit, membawa bau tanah basah bercampur asap. Lampu-lampu petromaks itu kini sudah memasuki batas kampung. Suara sepatu bot menghantam tanah, disertai teriakan dalam bahasa yang Rantika tidak sepenuhnya mengerti.
“Zoek! Zoek alles! Vind de leider!”
Ibu memeluk Rantika erat-erat di sudut rumah, sementara ayah berdiri di depan pintu, wajahnya tenang seperti orang yang sedang menunggu tamu. Dua tentara masuk tanpa permisi, membalik tikar, membongkar lemari. Salah satu dari mereka menemukan gulungan kain di meja, tapi ayah cepat menyambar. “Itu hanya kain bendera untuk perayaan kampung,” kata ayah dalam bahasa Minang yang tegas—meski sebenarnya para tentara itu tidak mengerti. Tentara itu memandang sinis, lalu menendang kursi hingga terjungkal. Di luar, suara gaduh makin ramai—rumah tetangga diteriaki, pintu-pintu didobrak. Dari kejauhan terdengar pekik seorang ibu yang kehilangan anaknya, membuat bulu kuduk Rantika berdiri.
Tiba-tiba, seorang pemuda dari laskar masuk lewat pintu belakang. Wajahnya penuh lumpur. “Pak… Buya Malik sudah tertangkap. Mereka menuduh beliau menyembunyikan pesan-pesan perlawanan di kitab tafsir,” katanya tergesa.
Ayah memejamkan mata, lalu menatap Rantika. “Inilah saatnya, Tika. Kau yang harus membawa bendera ini ke tangan laskar. Jalan lewat bukit, hindari jalan besar. Kalau kau jatuh, bangkit. Kalau kau takut, ingat pepatah buya: ‘Biar patah sayap, asal terbang ke arah yang benar.’” Sebelum Rantika sempat menjawab, ayah mendorongnya ke pintu belakang. Di detik yang sama, letusan senjata pecah di depan rumah. Jerit ibu bercampur suara perabot pecah. Rantika berlari di bawah hujan, menggenggam kain bendera itu di dada. Setiap langkahnya terasa berat, tapi suara ayah bergema di kepala: “Setiap orang punya medan juangnya.”
***
Kabut tebal turun dari perbukitan, seperti tirai putih yang menutup segala arah. Rantika berlari tanpa alas kaki, lumpur menempel di telapak kakinya, napasnya memburu. Kain bendera itu basah oleh hujan, berat seperti memikul janji. Di kejauhan, terdengar teriakan tentara, suara anjing pelacak yang menggonggong. Ia mempercepat langkah, menembus semak berduri. Setiap ranting yang mencambuk kulitnya terasa seperti cambuk pengingat: jangan berhenti.
Di tengah perjalanan, ia bertemu sebuah surau kecil di pinggir hutan. Lampu minyaknya berpendar redup. Di dalam, seorang lelaki tua berkopiah duduk bersila, membaca mushaf. Wajahnya teduh meski ada garis keras kehidupan.
“Assalamu’alaikum, Buya Hamid,” Rantika terengah.
“Wa’alaikumussalam. Anak gadis ini mau ke mana malam-malam begini?” tanya Buya Hamid—salah satu tokoh adat yang dihormati juga dikampung Rantika.
Rantika hendak membuka sedikit gulungan kain yang bernyawa amanah dari ayahnya. Tiba-tiba, betapa terkejutnya Rantika ternyata di dalamnya ada surat dan sesuatu yang tak asing—tunggu? Ada benang merah juga?
Mata buya Hamid ikut membesar. “Ini… ini bukan sekadar bendera, Nak. Di dalamnya ada surat rahasia. Surat itu mungkin akan menentukan langkah besar Laskar, atau menyimpan pesan kehidupan untukmu.” Rantika terdiam. Ayahnya tak pernah bilang.
“Kenapa ayah tidak memberitahu?” gumamnya.
Buya hanya tersenyum pahit. “Kadang, kebenaran disembunyikan agar keberanianmu tetap murni. Kalau kau tahu beratnya tugas ini, mungkin kau takkan mau melangkah.”
Dari luar, terdengar gonggongan makin dekat. Buya berdiri, mengambil tongkat.
“Kau harus lewat jalan belakang. Ingat, ‘adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’. Perjuangan ini bukan hanya soal tanah air, tapi juga amanah dari Allah. Jangan biarkan keduanya jatuh di tangan penjajah.” Rantika mengangguk, lalu melanjutkan lari. Setiap langkah kini tak lagi hanya membawa kain merah putih, tapi juga rahasia yang bisa mengubah nasib kampung.
Langkah Rantika makin berat. Jalan setapak yang ia lewati kini berubah menjadi tanah liat licin. Sesekali ia terjatuh, tapi segera bangkit. Dari balik pepohonan, ia melihat cahaya obor bergerak cepat—laskar kampung! Namun, sebelum ia sempat memanggil, suara tembakan meledak di udara. Obor itu padam, dan siluet para laskar menghilang dalam kabut. Hatinya mencelos.
Di persimpangan, ia melihat sosok yang tak asing: Datuk Malin, tokoh kampung yang selama ini dihormati, selalu duduk di barisan depan saat khutbah Jumat bersama ayahnya, dan dikenal dermawan.
“Datuk! Bantu saya, Datuk!” seru Rantika. Datuk menoleh, lalu tersenyum tipis. Tapi senyum itu dingin, tak seperti biasanya.
“Anak gadis… kau membawa sesuatu yang bukan milikmu,” ucapnya pelan.
Rantika mundur satu langkah. “Ini untuk laskar… ini untuk kita semua!”
“Untuk kita semua?” Datuk terkekeh getir. “Kau terlalu polos. Perang ini sudah kalah sejak awal. Lebih baik kita serahkan bendera itu pada NICA, dan kampung ini akan aman. Nyawa lebih berharga dari kain dan cat merah putih itu.” Darah Rantika mendidih. Jadi… ah dasar seorang pengecut!
“Buya pernah bilang, tanah tanpa harga diri hanyalah lumpur. Datuk… Datuk yang sudah menjual lumpur ini!” jelas Rantika dengan nada amarah yang menggebu-gebu.
Datuk melangkah maju, mengulurkan tangan. “Berikan padaku. Aku tak ingin melukaimu.”
Tiba-tiba, dari balik kabut, suara takbir bergema. Laskar kampung yang tersisa muncul bersama Buya. Datuk terkejut, dan saat itu pula Rantika berlari ke arah Buya, menyerahkan bendera.
Buya berdiri di hadapan Datuk. “Datuk… ‘Biar mati anak di pangkuan, jangan mati adat di tangan’. Kau memilih aman di dunia, tapi celaka di akhirat.” Datuk terdiam, wajahnya pucat. Langkahnya mundur, lalu menghilang ke balik kabut.
Rantika menatap bendera yang basah oleh hujan, tapi warnanya tetap tegas: merah keberanian, putih kesucian. Malam itu, ia tahu, perjuangan belum berakhir. Tapi selama masih ada orang yang menjaga, Merah Putih takkan pernah rebah di tanah sendiri.
***
Tiga hari setelah malam penuh kabut itu, kampung Batu Limo kembali sunyi. Banyak rumah terbakar, beberapa pemuda tak kembali. Nama-nama yang hilang disebut di surau setiap kali doa tahlil dibacakan. Di antara nama itu ada ayah Rantika. Ia tak pernah kembali sejak malam penggerebekan. Tak ada jenazah, tak ada kabar. Hanya kursi bambu kosong di beranda rumah gadang, dan selembar surat terakhir yang ditinggalkan dalam gulungan bendera malam itu.
“Anakku Rantika… jika surat ini sampai padamu, mungkin ayahmu telah lebih dulu berpulang, atau tak lagi dapat menatap matamu yang jernih. Jangan tangisi Ayah, nak. Tangis takkan mengembalikkan waktu, tapi doa akan memanjangkan langkah-langkah kita di jalan yang lurus.
Bendera ini kuselipkan padamu bukan hanya untuk dibawa, tapi untuk dijaga dengan hatimu. Ia adalah kisah panjang dari darah, peluh, dan doa. Jangan biarkan ia jatuh, meski tanganmu gemetar. Kemerdekaan adalah harga diri. Ia bukan hadiah dari musuh yang kalah, tapi amanah dari darah yang tumpah. Jika kelak kau lihat bendera berkibar di langit merdeka, ingatlah… mungkin di ujung jahitannya ada darah ayahmu. Karena, setiap tetes darah adalah tinta untuk menulis kemerdekaan.
Dan jika suatu hari kau menemukan benang merah yang kusembunyikan didalam lipatan kain ini, ketahuilah… itu bukan sekedar benang, tapi tanda agar kau meneruskan langkah yang belum sempat ayah selesaikan. Ingat anakku, kemuliaan orang hidup adalah menjaga warisan orang yang telah gugur.
Rantika, jangan takut. Kaki kecilmu mungkin boleh goyah, tapi hatimu harus seteguh karang di samudera. Jangan getar pada jarak, jangan ragu pada langkah. Jika ia gemetar, ingatlah bahwa tanah yang kau pijak ini adalah pusaka dari para syuhada. Jika suatu hari ragu menghampiri, lihatlah langit diatas rumah gadang kita. Langit itu sama seperti saat nenek moyangmu memandanginya—tempat mereka menitipkan harap. Agar kemerdekaan negeri ini bisa didekap, biarlah nyawa menjadi tebusannya.
Mungkin saat ini aku sudah tak bisa memelukmu lagi, maka biarlah angin yang membawa suaraku: Anakku, aku bangga padamu.”
Seketika matanya panas, tapi bukan air mata yang jatuh—melainkan tatapan yang tiba-tiba memantapkan langkah. Rantika menyimpan surat itu di balik lipatan kitab kuning, berjanji suatu hari akan menepati pesan dari Ayahnya itu.
***
Tahun demi tahun berlalu. Perang berakhir, Belanda akhirnya hengkang. Indonesia resmi berdiri sebagai negara merdeka. Kampung Batu Limo pelan-pelan bangkit, sawah kembali ditanami, surau kembali ramai. Rantika tumbuh menjadi perempuan dewasa. Parasnya tetap cantik, tapi kini ada keteguhan dalam tatapannya. Ia sering dipanggil ke surau untuk mengajar anak-anak mengaji, mewarisi amanah ayahnya.
Pada tanggal 17 Agustus 1950, tepat lima tahun setelah proklamasi, kampung Batu Limo mengadakan perayaan kemerdekaan pertamanya yang meriah. Anak-anak membawa obor, ibu-ibu menyiapkan lamang tapai, dan pemuda-pemuda membuat panggung bambu di lapangan. Saat matahari naik, Rantika berdiri di depan surau dengan sebuah bungkusan kain mori. Tangannya bergetar ketika membuka lipatan itu—bendera yang dulu basah oleh hujan dan noda darah ayahnya. Warna merahnya sedikit pudar, tapi tetap gagah. Ketika bendera itu dinaikkan di tiang bambu, suara Indonesia Raya bergema dari ratusan mulut. Air mata menetes di pipi banyak orang. Bagi mereka, itu bukan sekadar upacara. Itu adalah tanda bahwa doa, darah, dan air mata yang tertumpah lima tahun lalu tidak sia-sia. Rantika menatap bendera yang berkibar melawan angin. Dalam hatinya ia mendengar lagi suara ayahnya:
“Kemerdekaan, Nak, bukan akhir perjalanan. Ia adalah awal tanggung jawab yang lebih berat—menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsanya.”
Dan di balik senyum tipisnya, ia tahu, perjuangan belum selesai. Wajah-wajah laskar dan warga kampung menatap dengan mata berbinar, bukan karna sekedar pada sehelai kain, tapi pada makna yang dikandungnya; Kemerdekaan sejatinya adalah ketika hati tak lagi tunduk selain pada kebenaran, dan jiwa tak lagi takut selain pada kehilangan amanah.
Baca Juga: Manajemen Waktu Para Ulama; Potret Gemilang Manusia Saleh Mengatur Waktunya
1 Komentar
Indah sekali majaz didalamnya, seakan membawa diri ke masa perjuangan, bukan hanya menenangkan namun juga menyalakan semangat perjuangan. Respect untuk penulisnya. Terimakasih telah membawa cerita selembut ini🤍
BalasHapus