Oleh: Fajar Ilman Nafi', Lc.
Sebelum elaborasi lebih mendalam soal permasalahan
kemahasiswaan, mungkin terminologi mabar sedikit asing bagi kalangan
teman-teman mahasiswa baru. Mabar di sini bukan bermakna "main
bareng" (Mobile Legend, PUBG, dan lain-lain), melainkan "mudzakarah
bareng". Tentu, pengalihan makna dari akronim ini memberikan kesan positif
terutama di kalangan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Dengan demikian,
Mabar menjadi wadah solutif bagi kaum terpelajar guna menvalidasi taraf
pemahaman mereka atas diktat fakultas.
Namun, belakangan ini, pada empat tahun terakhir, kami
kerap mendapati fenomena yang memantik tulisan ini muncul di hadapan pembaca
sekarang. Status Mabar yang seharusnya menjadi unsur sekunder dalam pemantapan
keilmuan, berubah menjadi penopang utama uji kompetensi demi kelulusan belaka.
Seakan prioritas Mabar lebih tinggi daripada kelas muhadharah (kuliah)
itu sendiri. Padahal secara esensial, Mabar harusnya berfungsi sebagai tahap
lanjutan guna mengkonfirmasi level pemahaman satu orang dengan yang lainnya
yang diperoleh selama akal berlalu lalang di dalam kelas formal, bukan malah
menjadi pengganti kuliah. Mabar bukan opsi, tapi kontinuitas pembelajaran
formal yang seyogyanya ada bersamaan dengan kewajiban mahasiswa duduk di
bangku.
Pembelajaran efektif memerlukan sinergi antar dua
kekuatan besar akademisi; pertama, ilmu yang terlegitimasi oleh
institusi kampus yang bersanad dari para dosen, kedua, dari proses mudzakarah
bersama teman sekelas. Kami memaklumi, secara realita, kampus tidak selalu
kondusif dari beberapa sisi seperti: penggunaan bahasa ‘Amiyyah oleh
beberapa dosen yang terkadang berimbas kepada kesulitan daya tangkap mahasiswa
asing-terutama Asia Tenggara, dan juga ketidak kondusifan ruang belajar,
ditambah lagi dengan kebisingan mahasiswa-mahasiswa pribumi yang acapkali
terkesan hyper-active. Sehingga hal itu memicu ketidak nyamanan Masisir
yang notabene suka ketenangan dalam belajar.
Tapi, kasus demikian mau tidak mau harus kita hadapi.
Bukan kita yang kalah dengan kondisi, tapi kita harus menaklukannya. Kelas muhadlarah
mampu memberikan nilai instrinsik yang tak tergantikan. Contoh: Ia
menyediakan pengalaman langsung dalam peningkatan daya al-sima'ah (pendengaran)
serta memicu akselerasi otak terhadap tutur penejelasan para dosen, pemahaman
pola fikir para profesor yang sudah teruji kredibilitasnya, dan mengetahui
metode pengajaran yang autentik, bahkan kisi-kisi ujian yang sering kali
berbasis materi kuliah memberikan keuntungan kompetitif tersendiri bagi mereka
yang hadir. Kembali lagi, belajar bukan sekadar ishalu-l-ma'lumat, tapi
di situ ada nilai pembentukan karakter, moral, dan pemikiran, yang dimana itu
tidak bisa didapat hanya dengan membaca secara mandiri.
Jargon "yang penting paham" bukanlah prinsip
mahasiswa Al-Azhar. Banyak jalan pintas menuju pemahaman, seperti menggunakan
ChatGPT/Gemini AI untuk menerjemahkan langsung tiap-tiap paragraf, ataupun
belajar hanya mengandalkan talkhis (ringkasan materi) dari orang lain.
Tapi kita perlu sadar, sebagai pelajar hakiki, bukan dengan seperti itu akal
seorang Azhari bisa matang. Sebaliknya, kerumitan dan kompleksitas ilmu itulah
yang membuat proses belajar menjadi nikmat, serta mampu melengkapi perangkat
otoritas disiplin ilmu. Memang sulit, tapi kitalah yang harus proaktif
mempertajam bahasa Arab dan meninggikan jam terbang tatap muka dengan dosen,
bukan malah mengalah dengan keadaan otak yang terus dibiarkan dingin.
Tanpa fondasi kuliah, Mabar bagi yang tidak pernah
mencium bau aula fakultas hanyalah omong kosong. Lantas pemahaman siapa yang ia
sampaikan saat Mabar berlangsung? pemahaman sendiri, kah? atau hanya modal
"bisa bahasa Arab" lantas dengan percaya diri mengintepretasi di
hadapan kawan-kawannya! Hal ini sama saja dengan kita berani mengajar di suatu majlis/madhyafah,
tanpa pernah sekalipun mengkhatamkan satu kitab dari seorang
guru/syaikh-entah secara riwayat maupun dirayat. Fenomena di atas berisiko
merusak legitimasi keilmuan serta pemutusan rantai transmisi ilmu.
Kami mengamini, setiap hal tidak bisa dipaksakan
sedari awal. Muncullah sebuah program akademik yang bernama Bimbel. Adapun
bimbel (bimbingan belajar), kami tidak melihat kenegatifan dalam hal ini. Di mana
justru ia menjadi at-tamhid (pengantar) mata kuliah yang intens
ditujukan kepada para mahasiswa baru secara khusus. Faktanya, bimbel telah
memberikan dampak positif bagi keutuhan dan kekuatan basis pemahaman awal.
Berbeda dengan Mabar, Bimbel bukan belajar mandiri. Ia hadir sebagai prototipe
kelas perkuliahan bahkan majelis talaqqi; ada murid dan guru. Bedanya,
Bimbel menjelaskan materi dengan sarana bahasa Indonesia yang lebih aksesibel
dari senior berpengalaman.
Kendati demikian, derajat Bimbel tak setara dengan
kuliah formal. Ketergantungan berlebih pada kenyamanan Bimbel dapat melemahkan
ketajaman pendengaran terhadap bahasa Arab itu sendiri. Jika hanya mengincar
pemahaman tanpa al-istihdhar, lalu buat apa kita jauh-jauh ke Mesir?
Semua kembali kepada diri masing-masing. Jangan salahkan guru Bimbel saat nilai
kalian rendah, salahkan diri sendiri yang terlalu menjadikan hal sekunder
menjadi primer.
Kebijakan kita dalam menempatkan leveling tahshilu-l-'ilmi
harus disadari sejak dini secara hierarkis; muthala'ah, talaqqi, mudzakarah,
dan muraja'ah. Hilang satu unsur, ilmu akan sulit melekat. Apalagi
hanya mengandalkan mudzakarah tanpa talaqqi dan muraja'ah.
Pertanyaannya satu:
"Kita belajar untuk ujian, atau ujian untuk
belajar?"
Editor: Ilmi Hatta

0 Komentar