Oleh : Hilya Neswa Aszari
Di tengah dunia yang terus berlari tanpa arah, manusia sibuk menumpuk yang fana dan melupakan yang abadi. Langit penuh ambisi, bumi sesak oleh perbandingan. Kita mengejar lebih banyak hal, tapi justru kehilangan rasa cukup—kehilangan tenang di tengah gemuruh keinginan.
Namun, di sebuah desa kecil bernama Gontor, pernah berdiri tiga jiwa yang menemukan ketenangan itu. Mereka disebut Trimurti—KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi. Tiga ulama yang tak hanya membangun pondok, tetapi juga menanamkan cara pandang: Bahwa kekayaan sejati bukan materi di tangan, melainkan di hati yang lapang.
Dengan bondo, bahu, dan pikir—semboyan pondok yang mengajarkan bahwa perjuangan sejati lahir dari keikhlasan menjadi bekal, kebersamaan sebagai tenaga, dan pemikiran yang jernih sebagai penuntun langkah, mereka memulai segalanya dari tanah yang nyaris kosong. Tanpa harta, tanpa fasilitas, hanya dengan keyakinan bahwa kerja yang ikhlas dan doa yang tulus cukup untuk membangun peradaban. Mereka tidak menunggu keadaan ideal untuk berbuat, sebab bagi mereka keberanian untuk mulai dengan yang ada adalah bentuk qana‘ah tertinggi.
Suatu ketika, Trimurti pernah menolak bantuan besar yang menggiurkan karena di baliknya ada syarat yang mengikat. “Lebih baik miskin tapi merdeka,” begitu pesan yang hingga kini hidup di dada para santri. Dari sana, kita belajar: Qana‘ah bukan berarti pasif, tetapi menolak tunduk pada dunia yang ingin membeli keyakinan.
KH. Imam Zarkasyi dikenal hidup dalam kesederhanaan yang tulus. Rumahnya tak lebih baik dari rumah santri, makan dan istirahat pun sama seperti mereka. Namun di balik itu ada keteguhan luar biasa, bahwa pemimpin sejati bukan yang paling tinggi tempatnya, tetapi yang paling lapang hatinya.
Dan ketika pondok mulai besar, Trimurti mewakafkan segalanya kepada umat. Tak ada nama pribadi yang diagungkan, tak ada harta yang disimpan. Karena bagi mereka, kepemilikan sejati bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang memberi arti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Ùˆ من يتق الله يجعل له مخرجا * ويرزقه من ØÙŠØ« لا ÙŠØØªØ³Ø¨
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(Q.S. At-Talaq: 2-3)
Trimurti telah membuktikan ayat itu dalam diam mereka yang bekerja. Dari keterbatasan lahir keberlimpahan; dari rasa cukup lahir kekuatan yang menembus zaman. Kini, di tengah dunia yang menilai manusia dari angka, jabatan, dan sorotan, ajaran mereka menjadi oase: Bahwa bahagia tidak harus banyak, asal bermakna. Dan cukup bukan tanda kalah, melainkan bukti bahwa hati telah menang atas dunia.

0 Komentar