Karya: Ihya
Bismillahirrahmanirrahim
/1/
Saat cakrawala bermega hitam,
mentari minggat bawa pelita
—dari bumi dan dari mata.
kita pun berlarian dihujani rintik gelap
dibentak-bentak gemuruh zaman
berlarian dipecut jarum jam
berlarian mengejar detik
berlarian dalam bangun
berlarian dalam tidur
terseok-seok
lalu tersungkur
kaki bergetar mengeja basah yang dipijaknya
tubuh gentar dimaki-maki kebekuan
tapi tetap merangkak maju...
demi memburu
sebuah mimpi,
untuk hidangan di meja kita.
—meski gerimis singgah di pipi
dan gulita bersemayam di pelupuk mata.
Kedua lengan pun menggigil,
memeluk lutut dan luka,
—suka dan duka.
/2/
Tuhan singgah dalam hati
dan berbisik...
lewat desir asiri yang mengetuk
lewat sinar manis yang memeluk
menuntun kita punguti pendaran
dari lampu jalanan yang tabah
dari lilin yang sisa setengah
dan dari sorotan iman di setiap mata.
/3/
Kita telah berjanji:
menjadi manusia
bukan malaikat dan bidadari
bukan robot berdada besi
bukan iblis pesimistis
bukan ajak berlidah najis
juga bukan celeng
—yang hanya bisa makan, tidur,
menguik rusuh, beranak-pinak
lalu jadi bagkai.
kita berjanji: menjadi manusia
dan menjadi hamba.
/4/
Kita pernah benih yang terpendam dalam,
kita sempat tunas yang takut pada angin,
tapi lewat penerimaan
pada hujan dan siramannya
pada gelap yang jadi pupuknya
kita tumbuh menantang langit
menjadi pohon sahabat badai
yang akarnya lebih dalam dari filsafat.
/5/
Kita pernah padam,
tapi tidak lagi.
Kita pernah kerdil,
tapi tidak lagi.
Kita pernah ciut,
tapi tidak lagi.
Sebab kini...
Kita adalah pijar besar yang lantang
yang mengabdi terbitkan manusia
sepanjang nurani degupkan cahaya.
Selama Tuhan yang alirkan airnya,
selama
Tuhan yang denyutkan nadinya,
selama
Tuhan yang menjadi sinarnya,
takkan
ada yang matikan nyala kita.
(Dibacakan pada Perayaan Milad Dua Tahun Pena Darussalam)

0 Komentar